Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Thursday, December 16, 2010

makalah tentang inflasi dan dampaknya

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/12987569/inflasi.doc.html

Di internet telah banyak beredar artikel ataupun makalah tentang inflasi.Itu dikarenakan inflasi memang tidak dapat dipisahkan dari PerekonomianIndonesia.
Definis Inflasi
Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga umum untuk menaik secara umum dan terus menerus atau juga dapat dikatakan suatu gejala terus naiknya harga-harga barang dan berbagai faktor produksi umum,secara terus-menerus dalam periode tertentu.Perlu diingat bahwa kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi.
Penyebab Inflasi, dapat dibagi menjadi :
1. Demand Side Inflation, yaitu disebabkan oleh kenaikan permintaan agregat yang melebihi kenaikan penawaran agregat
2. Supply Side Inflation, yaitu disebabkan oleh kenaikan penawaran agregat yang melebihi permintaan agregat
3. Demand Supply Inflation, yaiti inflasi yang disebabkan oleh kombinasi antara kenaikan permintaan agregat yang kemudian diikuti oleh kenaikan penawaran agregat,sehingga harga menjadi meningkat lebih tinggi
4. Supressed Inflation atau Inflasi yang ditutup-tutupi, yaitu inflasi yang pada suatu waktu akan timbul dan menunjukkan dirinya karena harga-harga resmi semakin tidak relevan dalam kenyataan
Penggolongan Inflasi
1. Berdasarkan Parah Tidaknya Inflasi
• Inflasi Ringan (Di bawah 10% setahun)
• Inflasi Sedang (antara 10-30% setahun)
• Inflasi Berat ( antara 50-100% setahun)
• Hiper Inflasi (di atas 100% setahun)
2. Berdasar Sebab musabab awal dari Inflasi
• Demand Inflation, karena permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat
• Cost Inflation, karena kenaikan biaya produksi
3. Berdasar asal dari inflasi
• Domestic Inflatuon, Inflasi yang berasal dari dalam negeri
• Imported Inflation, Inflasi yang berasal dari luar negeri
Dampak Postitif Inflasi
Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi.
Orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.
Bagi orang yang meminjam uang kepada bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar).


Dampak Negatif Inflasi

Pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bilaorang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
http://www.dexton.adexindo.com/artikel-oktober1-bersiap-hadapi-inflasi.html
Secara sederhana, inflasi berarti Anda harus membayar lebih mahal untuk barang yang hendak Anda beli. Misalkan inflasi bahan bakar premium adalah 33,33 persen, maka harga yang harus Anda bayar untuk setiap liter premium meningkat, dari harga lama Rp. 4.500,- menjadi Rp. 6.000.
Dalam ilmu ekonomi, inflasi memang selalu terjadi. Kenaikan harga barang lebih baik daripada penurunan harga barang, karena akan memicu produsen untuk menghasilkan lebih banyak barang. Yang harus dikendalikan adalah berapa besar nilai inflasinya, agar jangan sampai mengganggu daya beli masyarakat
Inflasi berpengaruh terhadap semua barang yang Anda butuhkan: makanan, pakaian, perumahan, air, listrik, gas, kesehatan, pendidikan, rekreasi, transportasi dan lain-lain. Oleh karena itu Anda harus mempersiapkan diri Anda terhadap inflasi.
Bagaimana caranya? Misalkan Anda hendak menyiapkan dana pendidikan untuk anak Anda yang hendak duduk di bangku kuliah dalam waktu 3 tahun mendatang. Misalkan biaya masuk kuliah pada tahun ini adalah Rp. 30.000.000,-, maka Anda dapat memperkirakan bahwa dalam waktu 3 tahun mendatang biaya masuk kuliah akan meningkat menjadi Rp. 39.930.000,- (asumsi inflasi 10% per tahun).

Dengan perkiraan biaya masuk kuliah di masa mendatang, maka jumlah uang yang harus Anda siapkan adalah Rp. 39.930.000,-. Bila Anda tidak memperkirakan inflasi dan hanya menyiapkan Rp. 30.000.000,-, maka Anda akan kekurangan 10 juta pada saat hendak membayar biaya masuk kuliah anak Anda

Dalam beberapa hari semenjak tahun 2008 dimulai, tekanan terhadap inflasi dalam negeri rupanya telah menunjukkan peningkatan yang kurang menggembirakan. Masih belum baiknya distribusi dan penyediaan kebutuhan pokok di dalam negeri rupanya telah memperparah angka inflasi Indonesia.
Pada hari Selasa yang lalu, seperti yang dilansir Antara, Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah mengatakan bahwa kajian penelitian BI memperlihatkan tekanan inflasi pada 2008 maksimum terjadi 6,3%, bila pemerintah tidak melakukan tindakan apa pun. Lebih lanjut ia mengatakan, "Para peneliti di BI melihat justru pada 'high end' dekat ke arah 6%, dan bahkan bisa melewati 6%, maksimumnya 6,3% apabila tidak ada usaha yang dilakukan, jadi apabila tidak melakukan apa-apa, maka itulah yang akan terjadi".
Untuk itu, ia mengemukakan, pihaknya bersama pemerintah akan terus berupaya untuk mengendalikan tekanan inflasi yang kuat pada 2008. Menurutnya, pemerintah akan mengendalikan inflasi dengan berupaya perbaikan di bidang distribusi dan upaya penyediaan kebutuhan pokok.
Banyak pihak mulai meragukan kemampuan pemerintah untuk merealisasikan target penurunan inflasi dalam negeri sebesar lima plus minus satu dapat tercapai. Apalagi jika dilihat dalam dua tahun sebelumnya, terbukti pemerintah juga telah meleset dari target penurunan inflasi yang ditetapkannya. Kenaikkan harga minyak dunia pada akhir tahun 2007 yang sempat mencapai $100 dollar per barel kemarin pun ternyata masih berdampak pada harga barang kebutuhan di dalam negeri.
Seperti yang dikatakan Anton Gunawan, seorang ekonom Citibank kepada Antara, “Kami memperkirakan tingkat inflasi 2008 bergerak lebih tinggi sebagai kelanjutan dari berbagai kecenderungan sebelumnya”. Menurutnya kenaikan harga pangan serta tingginya tekanan pada inflasi inti, seperti gejolak kurs, pertumbuhan jumlah uang edar, akan meningkatkan tekanan pada inflasi.
Disamping itu Indonesia diperkirakan juga masih akan menghadapi sejumlah masalah yang menyebabkan tekanan pada inflasi, seperti adanya gangguan arus barang dan jasa serta memburuknya infrastruktur. Untuk hal yang satu ini, tentunya Indonesia juga harus waspada, mengingat selama ini masih banyak pemenuhan kebutuhan barang di Indonesia bergantung pada arus impor dari luar negeri. Sebut saja barang-barang elektronik, suku cadang kendaraan, serta berbagai macam piranti komputer, mulai dari hardware hingga software, Indonesia masih sangat bergantung pada arus barang dagang dari luar negeri, alias import. Tentu saja hal ini menimbulkan keprihatinan tersendiri, mengingat nilai tukar rupiah terhadap dollar pun ternyata hingga saat ini belum menunjukkan perbaikan yang signifikan, apalagi kestabilan.
Khusus untuk bidang IT, kerawanan terhadap distribusi hardware maupun software dari luar negeri tetap merupakan ancaman terbesar dalam masalah ini. Mengingat ketergantungan Indonesia terhadap arus barang datang serta belum mampunya industri dalam negeri memenuhi kebutuhan jenis barang ini. Selain itu, dari segi harga barang-barang jenis ini juga diperkirakan masih akan sangat fluktuatif, mengingat gejolak ketidakstabilan nilai tukar rupiah terhadap dollar yang masih berlangsung hingga saat ini. (dna)
Teori Inflasi
1. Teori Kuantitas
Teori ini mengemukakan bahwa terjadinya inflasi akibat bertambahnya jumlah uang yang beredar. Hal ini sejalan dengan pandangan apa yang dkemukakan oleh kaum klasik bahwa tingkat harga ditentukan oleh jumlah uang yang beredar P = ∫(M)

2. Teori Keynes
Keynes melihat bahwa inflasi terjadi karena nafsu berlebihan dari segolongan masyarakat yang ingin memanfaatkan lebih banyak barang dan jasa yang tersedia. Karena keinginan tersebut mendorong bertambahnya permintaan sedangkan penawarannya tetap maka akan mendorong naiknya harga.

3. Teori Strukturalis
Teori ini menyatakan bahwa penyebab inflasi adalah dari segi struktur ekonomi yang kaku (infleksibilitas) khususnya di negara sedang berkembang. Ada dua faktor infleksibilitas (ketegaran/kekakuan) ekonomi negara berkembang yaitu:
a. Kekakuan penerimaan ekspor
Bahwa nilai penerimaan ekspor selalu bertambah lebih lambat dibanding dengan nilai impornya sehingga berakibat negara kesulitan membiayai impor bahan-bahan baku dan modal. Untuk mengatasi itu pemerintah menggiatkan industri di dalam negari untuk bisa menghasilkan barang-barang yang masih harus diimpor. Karena umumnya biaya produksi barang substituli impor ini mahal maka harga jualnya pun juga akan naik.

b. Kekakuan penawaran bahan makanan
Bahwa pertambahan produksi bahan makanan lebih lambat dibandingkan dengan pertambahan kebutuhan penduduknya sehingga mendorong naiknya harga bahan makanan, yang juga mendorong naiknya harga barang yang lain.
Menurut teori strukturalis, jika terjadi kenaikan harga maka akan diikuti oleh tuntutan kenaikan gaji. Bila ini yang terjadi pengusaha agar tetap bisa mempertahankan tingkat keuntungannya menaikkan harga barang sehingga akan mendorong terjadinya inflasi.

Cara Menghitung Angka Inflasi
Mengitung laju inflasi merupakan sesuatu yang perlu kita ketahui. Laju inflasi adalah tingkat presentase kenaikan dalam beberapa indeks harga dari satu periode ke periode yang lainnya. Untuk bisa menghitung laju inflasi, perlu diketahui lebih dahulu Indeks Harga Konsumen yaitu perubahan harga kelompok barang jasa yang sering digunakan dalam sebuah rumah tangga dalam jangka waktu tertentu. Kelompok barang ini adalah:

Perhitungannya:


Untuk mengetahui laju inflasi, ada beberapa hal yang bisa dilihat:
• Membandingkan rata-rata tahunan
• Membandingkan bulan ini dengan bulan yang sama tahun lalu
• Membandingkan bulan ini dengan bulan lalu

Dampak Inflasi
A. Terhadap Perekonomian Secara Umum
1. Hasil produksi (output) harga barang menjadi mahal sehingga menurunkan permintaan masyarakat
2. Pananaman Modal akan terpaksa menunda investasi karena lesunya produksi
3. Perdagangan internasional akan terganggu karena beberapa negara tidak mampu memenuhi permintaan pasa luar negeri
4. Efisiensi sulit dicapai karena kenaikan harga barang
5. Perhitungan Harga Pokok

B. Terhadap Individu dan Masyarakat
1. Pendapatan masyarakat, khususnya yang berpenghasilan tetap. Akibatnya jumlah barang yang dapat dibeli menjadi berkurang.
2. Minat menabung berkurang karena habis untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari.
C. Kehidupan Politik, Berbangsa dan Bernegara
Mempengaruhi kepercayaan masyarakat kepada pemerintahan
Terganggunya tingkat keamanan

Cara Mengatasi Inflasi
Sasarannya: mengurangi jumlah uang beredar, memperbanyak jumlah barang dan jasa serta menetapkan harga maksimum
Bentuknya:
A. Kembijakan Moneter
1. Operasi Pasar Terbuka, dengan cara pemerintah melakukan jual beli Sertifikat Bank Indonesia
2. Politik Diskonto, menaikan atau menurunkan tingkat suku bunga bank
3. Cadangan Kas (Cash Ratio) mengubah nilai cadangan minimum yang harus ada di bank
4. Kredit Selektif melakukan seleksi terhadap pemberian kredit

B. Kebijakan Fiskal
1. Penghematan pengeluaran
2. Miningkatkan Pajak

C. Kebijakan diluar fiskal dan moneter
1. Menaikan produksi
2. Pengendalian Harga