Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Sunday, December 19, 2010

Kurangi Ion Besi dengan Bakteri

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/13035391/KurangiIonBesidenganBakteri.doc.html

Rabu, 14 April 2010
Bakteri Pseudomonas aeruginosa berpotensi memperkecil tingkat konsentrasi ion besi di kawasan air yang tercemar.

Penggunaan bakteri itu merupakan salah satu cara mengendalikan pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan, khususnya di kawasan perairan, merupakan salah satu gejala kerusakan alam yang tidak bisa dihindari.

Meski begitu, pencemaran tidak bisa didiamkan begitu saja. Pasalnya, sekitar 70,8 persen permukaan Bumi merupakan kawasan perairan.

Dengan begitu, kerusakan ekosistem di kawasan perairan menyimpan sekam yang bisa memicu bencana alam lebih besar. Kecemasan tersebut bukanlah tanpa alasan. Kawasan perairan menjadi sumber utama kehidupan manusia.

Sebut saja air untuk minum dan beragam jenis hewan laut yang menjadi sumber pangan manusia. Seandainya pencemaran air sudah melebihi ambang batas, organisme di perairan akan berangsurangsur punah.

Ikan banyak yang mati dan air tidak bisa diminum karena terkontaminasi cairan beracun. Tidak terbayangkan jika kondisi tersebut benar-benar terjadi.

Karena kekhawatiran tersebut, para ilmuwan berlomba-lomba mencari solusi untuk mengatasi pencemaran air. Umumnya, pencemaran air disebabkan limbah industri.

Betapa tidak, pabrik-pabrik mem butuhkan air dalam proses produksi sehingga limbahnya pun berupa cairan. Karena tercampur beragam bahan kimia, limbah industri kerap berbahaya.

Jadi, sebelum dibuang, pengelola pabrik seharusnya mengelola limbahnya agar tidak mencemari lingkungan.

Celakanya, pelaku usaha yang bisa mengelola limbah adalah industri bermodal besar. Sebaliknya, pelaku usaha di sektor kecil dan menengah harus gigit jari karena tidak mampu membeli mesin pengelolaan limbah yang harganya selangit.

Padahal masyarakat sangat berharap industri dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu mengelola limbahnya agar tidak mencemari lingkungan warga.

Besi dan Manusia Besi merupakan logam yang berasal dari bijih besi (tambang), yang banyak digunakan untuk manusia. Dalam tabel periodik, besi memunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi merupakan senyawa yang mudah ditemukan, seperti di air.

Umumnya besi dalam air bisa diuraikan menjadi dua unsur, yakni Fe2+ (Ferro) atau ion besi; Fe3+ (Ferri). Ion besi (Fe3+) merupakan bahan berbahaya bagi makhluk hidup.

Ion bisa dijumpai di limbah cair industri. Saking berbahayanya, anakanak yang terkontaminasi limbah tersebut bisa meninggal dunia.

Becermin dari kekhawatiran tersebut, para peneliti mengkreasikan metode-metode mengelola limbah. Sebut saja metode fisika, kimia, dan biologi.

Riyanti Atmaningsih, misalnya, melakukan penelitian menghilangkan kandungan ion besi di sumur, perusahaan air minum, dan perusahaan minyak di Desa Kampung Baru, Cepu, Jawa Tengah, pada 2007.

Penelitian Riyanti menyimpulkan bahwa air di sumur dan pernas usahaan air minum lokal tidak memadai karena konsentrasi ion besinya belum memenuhi standar kualitas, yakni 0,8 part per million (ppm) dan 0,7 ppm.

Sedangkan sampel air dari perusahaan minyak setempat hanya mengandung besi sekitar 0,1 ppm. Sementara itu, Rina Yuniarti melakukan penelitian serupa menggunakan bakteri Pseudomo pernas aeruginosa pada sampel air yang terkena limbah industri tekstil pada 2005.

Pada tahun yang sama, Evita Mayasari meneliti karakteristik serta penanganan Pseudomonas aeruginosa. Hasilnya me nunjukkan temperatur pengembangbiakan Pseu domo nas aeru ginosa idealnya pada suhu 37-42 derajat celcius.

Ketiga penelitian tersebut meng inspirasi tim peneliti muda dari SMA 1 Surakarta, Jawa Tengah, untuk merancang sebuah metode biologi dalam mengelola limbah cair yang mengandung ion besi. Mereka adalah Jayu Pramudya, Dio Cesar Alfananda, dan Gineng Pratidina Permana Sakti.

Jayu menjelaskan pada dasarnya metode pengelolaan limbah yang diusungnya mengguna kan mikroorganisme Pseudomonas aeruginosa. Makhluk berukuran mikro itu mampu mereduksi konsentrasi logam, khususnya ion besi, yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Kami ingin mengoptimalkan potensi alam menggunakan Pseudomonas aeruginosa, yaitu sejenis bakteri sebagai solusi mengurangi kadar ion besi di air,” tutur Jayu.

Kandungan besi di permukaan air sekitar satu miligram per liter (mg/l). Namun konsentrasi besi yang lebih tinggi bisa dijumpai di bawah air, yang bisa membuat pipa air menjadi berkarat.

Ketiga pelajar itu berhipotesis bahwa keberadaan Pseudomonas aeruginosa akan memengaruhi tingkat konsentrasi ion besi di perairan yang tercemar limbah.

Mereka juga berkeyakinan jumlah populasi mikroorganisme akan efektif mengurangi kadar ion besi. Cara Sederhana Guna membuktikan hipotesisnya tersebut, trio peneliti muda itu melakukan penelitian di laboratorium biologi Universitas Setia Budi, Surakarta, Jawa Tengah.

Peralatan yang digunakan antara lain Spectrophotometer UV – VIS SHIMADZU – 1201, botol pengukur mulai dari 50 sampai 1.000 mililiter (ml), gelas kimia (400 ml), pipet 10-25 ml, botol, dan inkubator.

Adapun materi yang digunakan adalah bibit Pseudomonas aeruginosa, nitrid acid (HNO¬3), larutan feriklorida (FeCl3), Ammonium Acetate (pH 4), BHI Medium, dan makanan jelly. Cara pengerjaannya pun sederhana.

Tahapan pertama dengan mengembangbiakkan Pseudomonas aeruginosa di jelly yang diinkubasi pada suhu 37 derajat celcius selama 24 jam.

Kemudian, meracik sampel ion besi sekitar 7,5 ppm yang dipanaskan selama 15 menit pada temperatur 121 derajat celcius. Setelah itu, mereka membubuhkan bakteri itu ke masing-masing sampel air berion besi.

Lalu, sampel tersebut diisolasi dan diinkubasi selama lima hari untuk mengukur kadar ion besinya. Tahapan selanjutnya adalah meng analisis tinggi-rendahnya kon sentrasi ion besi dalam sampel tersebut dibandingkan dengan kadar ion besi sebelum dimasukkan bakteri.

“Jadi kami bisa membedakan tingkat konsentrasi ion besi di sampel yang kita uji cobakan,” ucap Jayu.

Penghitungan itu, lanjut Jayu, berguna untuk menghitung persentase pengurangan kadar ion besi. Semakin tinggi persentasenya, bakteri di sebuah sampel tertentu akan dinilai efektif dalam mengurangi ion besi.

“Umumnya, Pseudomonas aerugi nosa bisa mengurangi kadar ion besi,” ulas dia. Dari hasil penghitungan, pe neliti menyimpulkan bahwa angka persentase pengurangan ion besi di setiap sampel sekitar 81-89 persen.

“Kami berharap pelaku usaha, dari yang kecil sampai skala besar, berupaya mengurangi polusi dengan mengelola limbahnya,” cetus pelajar kelahiran Boyolali, 20 September 1992, itu.
vic/L-3