Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Tuesday, December 14, 2010

Angka Kematian Bayi di Indonesia Tinggi

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/12957260/anduk.docx.html

Angka kematian balita di Indonesia sejak periode 2002 tidak mengalami penurunan.
Cornelius Eko Susanto
DEPARTEMEN Kesehatan (Depkes) mengungkapkan rata-rata per tahun terdapat 401 bayi baru lahir di Indonesia meninggal dunia sebelum umurnya genap 1 tahun. Data bersumber dari survei terakhir pemerintah, yaitu dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007 (SDKI).
"Rata-rata kematian bayi di Indonesia masih cukup besar. Kewajiban kita semua untuk menguranginya," sebut Kepala Sub Direktorat Bina Kesehatan Depkes, Kirana Pri-tasari, kemarin, di Jakarta.
Berdasarkan survei lainnya, yaitu Riset Kesehatan Dasar Depkes 2007, kematian bayi baru lahir (neonatus) merupakan penyumbang kematian terbesar pada tingginya angka kematian balita (AKB). Setiap tahun sekitar 20 bayi per 1.000 kelahiran hidup terenggut nyawanya dalam rentang waktu 0-12 hari pas-cakelahirannya.
Parahnya, dalam rentang 2002-2007 (data terakhir), angka neonatus tidak pernah mengalami penurunan. Penyebab kematian terbanyak pada periode ini, menurut Depkes, disebabkan oleh sepsis (infeksi sistemik), kelainan bawaan, dan infeksi saluran pemapasan atas.
Selaras dengan target pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), Depkes telah mematok target penurunan AKB di Indonesia dari rata-rata 36 meninggal per 1.000 kelahiran hidup menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup pada 2015.
AKB di indonesia termasuk salah satu yang paling tinggi di dunia. Hal itu tecermin dari perbandingan dengan jumlah AKB di negara tetangga seperti Malaysia yang telah mencapai 10 per 1.000 kelahiran hidup dan Singapura dengan 5 per 1.000 kelahiran hidup.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Badriul Hegar mengatakan banyak faktor yang menyebabkan angka kematian bayi tinggi. Antara lain, faktor kesehatan anak, lingkungan seperti keadaan geografis, dan faktor nutrisi.
Bisa dicegah Menurut Kirana, peran puskesmas dan posyandu sejatinya menjadi kunci untuk menekan kejadian AKB.Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih berkomentar kematian bayi juga
bisa dicegah lewat penyehatan lingkungan. Pasalnya, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan hampir separuh kematian bayi umur 29 hari sampai 11 bulan juga disebabkan oleh penyakit yang bisa dicegah dengan intervensi lingkungan dan perilaku. Penyakit itu adalah diare dan pneumonia.
Lantaran itu, upaya penyehatan lingkungan seperti penyediaan air minum, fasilitas sanitasi dan higienitas yang memadai, serta pengendalian pencemaran udara mampu meredam jumlah bayi meninggal.
"Untuk itu pemerintah tidak lelah mengampanyekan pentingnya upaya kesehatan lingkungan dan perilaku hidup sehat," imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Esther Indriani dari Maternal and Child Health
Specialist World Vision memaparkan, perawatan sederhana seperti pemberian air susu ibu (ASI) dapat menekan AKB. "Telah terbukti, pemberian ASI eksklusif dapat mencegah 13% kematian bayi dan bahkan 19/0 jika dikombinasikan dengan makanan tambahan bayi setelah usia 6 bulan."
Direktur Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI RS St Carolus, Utami Rusli, menambahkan inisiatif inisiasi bayi menyusu sendiri segera setelah lahir dapat mengurangi risiko kematian bayi akibat berbagai penyakit.
"Risiko kematian bayi diperkirakan bisa berkurang sebanyak 22% jika inisiasi menyusui bayi baru lahir dilakukan setidaknya 1 jam," imbuhnya.(N-l)
comel@mediaindonesia. com
Entitas terkaitAKB | Angka | Antara | ASI | Data | Depkes | Indonesia | Kewajiban | Kirana | Lantaran | Malaysia | Maternal | Penyakit | Penyebab | Risiko | Selaras | Singapura | Utami | Badriul Hegar | Child Health | DEPARTEMEN Kesehatan | Esther Indriani | Indonesia Tinggi | Angka Kematian Bayi | Cornelius Eko Susanto | Millenium Development Goals | Riset Kesehatan Dasar | Specialist World Vision | Riset Kesehatan Dasar Depkes | Survei Demografi Kesehatan Indonesia | Kepala Sub Direktorat Bina Kesehatan | Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih | Direktur Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI RS St | Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia | Ringkasan Artikel Ini
Angka Kematian Bayi di Indonesia Tinggi. Berdasarkan survei lainnya, yaitu Riset Kesehatan Dasar Depkes 2007, kematian bayi baru lahir (neonatus) merupakan penyumbang kematian terbesar pada tingginya angka kematian balita (AKB). "Telah terbukti, pemberian ASI eksklusif dapat mencegah 13% kematian bayi dan bahkan 19/0 jika dikombinasikan dengan makanan tambahan bayi setelah usia 6 bulan." Direktur Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI RS St Carolus, Utami Rusli, menambahkan inisiatif inisiasi bayi menyusu sendiri segera setelah lahir dapat mengurangi risiko kematian bayi akibat berbagai penyakit. "Risiko kematian bayi diperkirakan bisa berkurang sebanyak 22% jika inisiasi menyusui bayi baru lahir dilakukan setidaknya 1 jam," imbuhnya.(N-l) comel@mediaindonesia.






Sindrom kematian bayi mendadak
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Sindrom kematian bayi mendadak (dalam bahasa Inggris Sudden Infant Death Syndrome atau disingkat SIDS) adalah istilah untuk menyebut keadaan di mana bayi (dari usia satu bulan sampai satu tahun) yang tampak sehat secara tiba-tiba dan tak dapat dijelaskan meninggal.
Kondisi ini biasanya rentan terjadi pada bayi di bawah usia 1 tahun. Meski sudah ada penelitian dan penyelidikan penyebab kematian bayi, namun tetap belum dapat dipastikan penyebabnya. Pengujian ini telah dilakukan para peneliti di AS untuk menemukan cara memerangi penyebab utama kematian pada bayi. Berikut adalah beberapa tips sehat untuk membantu mengurangi risiko terjadinya kematian pada bayi secara mendadak.
Usahakan bayi tidur dalam boks yang tidak dipenuhi mainan Gunakan boks bayi untuk menghindari risiko jatuh. Cara ini lebih aman untuk melindungi bayi Anda, ketimbang meletakkan boneka, bantal ataupun selimut tebal di pinggir ranjang.
Lindungi bayi Anda dari asap rokok Bayi yang menghirup asap rokok mempunyai risiko yang lebih tinggi terserang sidroma mematikan ini. Tidak merokok selama kehamilan dan tidak mendekatkan bayi Anda pada asap merokok setelah lahir bisa membantu Anda menjaga buah hati.
Biarkan bayi terlelap lebih lama Sebaiknya tidak menidurkan bayi di atas sofa atau ranjang Anda. Karena, jika diletakkan pada permukaan datar, hal itu justru akan mengurangi porsi tidur si kecil. Biarkan si kecil tidur nyenyak dalam boks atau ayunan bayi lebih lama.
Kenakan busana berbahan nyaman saat menimang bayi P akaian yang Anda kenakan ternyata bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan tersendiri untuk si kecil, pilih pakaian dengan bahan nyaman dan menyerap keringat, seperti katun. Perlu Anda tahu, bahan pakaian juga bisa menjaga suhu pada tingkat nyaman untuk orang dewasa dan untuk menjaga bayi agar tetap tenang.
Alat bantu menjaga bayi Banyak orangtua berlatih menggunakan Snuza Halo untuk memantau anak-anaknya dari jauh. Ini bisa membantu anda memantau aktivitasnya meski Anda tidak berada di dekatnya. “The Snuza itu seperti alat kecil namun sangat efektif dan tidak menimbulkan bahaya bagi bayi,” kata Charlotte Wenham, pembuat Snuza Halo. Perangkat kecil terselip di dalam area popok ini merupakan alat pemantauan gerakan dan bisa merangsang bayi. Jika ingin menggunakannya. konsultasi dengan dokter anak untuk mengetahui apakah pilihan ini tepat buat bayi Anda.
Gunakan kipas Cara mudah untuk menjaga bayi Anda dari overheating adalah dengan menggunakan kipas angin di kamar bayi. Cara ini dinilai bisa membantu mendinginkan udara dalam kamar. Pada kenyataannya, sebuah studi dari Archives of Pediatrics melaporkan bahwa bayi yang tidur di kamar bayi menggunakan kipas udara ventiliate bisa mengalahkan 72% penurunan risiko sidroma kematian bayi secara mendadak ini. Jika Anda tidak memiliki kipas angin di kamar bayi, bisa menggunakan kipas manual. Usahakan angin dari kipas tidak langsung mengenai si kecil, karena sedikit hembusan angin lembut saja sudah bisa membuat bayi Anda tenang dan nyaman.
Penyakit Penyebab Kematian Anak
Kamis, 24 Juni 2010 | 07:59 WIB

shutterstock
TERKAIT:
• Infeksi, Penyebab Utama Kematian Bayi
• ASI Tekan 22 Persen Kematian
• Angka Kematian Ibu dan Anak Meningkat
• Penurunan Angka Kematian Bayi Lamban
• GramediaShop: 25 Resep Chinese Food Dan Kue
• GramediaShop: Make-up Bibir Sesuai Aura Dan Fengshui
KOMPAS.com — Angka kematian bayi di Indonesia saat ini 34 bayi per 1.000 kelahiran. Meski telah turun sejak tahun 1990, angka itu masih tergolong tinggi dan jauh dari pencapaian target pembangunan milenium 2015. Apa saja penyebab utama kematian anak di Indonesia?

Radang paru akut
Pada tahun 2003, di seluruh dunia terdapat 10,8 juta anak meninggal akibat penyakit pernapasan. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyebab kematian 37 persen bayi baru lahir di Indonesia.

Kematian anak akibat radang paru akut amat terkait dengan masalah kemiskinan yang memengaruhi tingkat gizi dan ketidakmampuan untuk mengakses fasilitas kesehatan. Dengan pembekalan informasi yang benar tentang penyakit ini pada petugas kesehatan dan pemenuhan gizi yang cukup, angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan hingga 42 persen.

Diare
Unicef dan WHO memperkirakan 2,5 miliar kasus diare terjadi pada anak balita setiap tahun. Di Indonesia, diare menjadi penyebab utama kematian bayi usia 1-12 bulan (42 persen) dan anak-anak hingga usia 4 tahun (25 persen). Bayi yang tidak mendapatkan ASI dinyatakan enam kali lipat lebih berisiko kehilangan nyawa akibat diare di usia dua bulan pertama.

Kondisi kesehatan dan gizi, serta sanitasi yang memadai memegang peranan penting untuk mencegah diare. Imunisasi perlu dilakukan pada anak guna melawan cacar, rotavirus (penyebab flu usus), serta infeksi usus lain yang dapat menimbulkan diare akut.

Komplikasi bayi baru lahir
Empat juta bayi mengalami komplikasi saat baru lahir dan ironisnya mereka kemudian kehilangan nyawa dalam empat minggu pertama. Di Indonesia 37 persen anak balita mengalami komplikasi pada saat lahir.

Tidak dapat disangkal, tenaga dan fasilitas kesehatan yang memadai ditunjang dengan kebersihan lingkungan amat diperlukan calon ibu untuk menjaga kesehatannya agar mampu menurunkan risiko berbahaya bagi dirinya dan sang bayi.

Penyebab lain
Penyebab lainnya adalah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi seperti campak dan TBC. Sementara itu, 50-60 persen kematian bayi dan anak balita terkait dengan masalah kekurangan gizi.
Penyakit Penyebab Kematian Anak
Kamis, 24 Juni 2010 | 07:59 WIB

shutterstock
TERKAIT:
• Infeksi, Penyebab Utama Kematian Bayi
• ASI Tekan 22 Persen Kematian
• Angka Kematian Ibu dan Anak Meningkat
• Penurunan Angka Kematian Bayi Lamban
• GramediaShop: 25 Resep Chinese Food Dan Kue
• GramediaShop: Make-up Bibir Sesuai Aura Dan Fengshui
KOMPAS.com — Angka kematian bayi di Indonesia saat ini 34 bayi per 1.000 kelahiran. Meski telah turun sejak tahun 1990, angka itu masih tergolong tinggi dan jauh dari pencapaian target pembangunan milenium 2015. Apa saja penyebab utama kematian anak di Indonesia?

Radang paru akut
Pada tahun 2003, di seluruh dunia terdapat 10,8 juta anak meninggal akibat penyakit pernapasan. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyebab kematian 37 persen bayi baru lahir di Indonesia.

Kematian anak akibat radang paru akut amat terkait dengan masalah kemiskinan yang memengaruhi tingkat gizi dan ketidakmampuan untuk mengakses fasilitas kesehatan. Dengan pembekalan informasi yang benar tentang penyakit ini pada petugas kesehatan dan pemenuhan gizi yang cukup, angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan hingga 42 persen.

Diare
Unicef dan WHO memperkirakan 2,5 miliar kasus diare terjadi pada anak balita setiap tahun. Di Indonesia, diare menjadi penyebab utama kematian bayi usia 1-12 bulan (42 persen) dan anak-anak hingga usia 4 tahun (25 persen). Bayi yang tidak mendapatkan ASI dinyatakan enam kali lipat lebih berisiko kehilangan nyawa akibat diare di usia dua bulan pertama.

Kondisi kesehatan dan gizi, serta sanitasi yang memadai memegang peranan penting untuk mencegah diare. Imunisasi perlu dilakukan pada anak guna melawan cacar, rotavirus (penyebab flu usus), serta infeksi usus lain yang dapat menimbulkan diare akut.

Komplikasi bayi baru lahir
Empat juta bayi mengalami komplikasi saat baru lahir dan ironisnya mereka kemudian kehilangan nyawa dalam empat minggu pertama. Di Indonesia 37 persen anak balita mengalami komplikasi pada saat lahir.

Tidak dapat disangkal, tenaga dan fasilitas kesehatan yang memadai ditunjang dengan kebersihan lingkungan amat diperlukan calon ibu untuk menjaga kesehatannya agar mampu menurunkan risiko berbahaya bagi dirinya dan sang bayi.

Penyebab lain
Penyebab lainnya adalah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi seperti campak dan TBC. Sementara itu, 50-60 persen kematian bayi dan anak balita terkait dengan masalah kekurangan gizi.
Penyakit Penyebab Kematian Anak
Kamis, 24 Juni 2010 | 07:59 WIB

shutterstock
TERKAIT:
• Infeksi, Penyebab Utama Kematian Bayi
• ASI Tekan 22 Persen Kematian
• Angka Kematian Ibu dan Anak Meningkat
• Penurunan Angka Kematian Bayi Lamban
• GramediaShop: 25 Resep Chinese Food Dan Kue
• GramediaShop: Make-up Bibir Sesuai Aura Dan Fengshui
KOMPAS.com — Angka kematian bayi di Indonesia saat ini 34 bayi per 1.000 kelahiran. Meski telah turun sejak tahun 1990, angka itu masih tergolong tinggi dan jauh dari pencapaian target pembangunan milenium 2015. Apa saja penyebab utama kematian anak di Indonesia?

Radang paru akut
Pada tahun 2003, di seluruh dunia terdapat 10,8 juta anak meninggal akibat penyakit pernapasan. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyebab kematian 37 persen bayi baru lahir di Indonesia.

Kematian anak akibat radang paru akut amat terkait dengan masalah kemiskinan yang memengaruhi tingkat gizi dan ketidakmampuan untuk mengakses fasilitas kesehatan. Dengan pembekalan informasi yang benar tentang penyakit ini pada petugas kesehatan dan pemenuhan gizi yang cukup, angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan hingga 42 persen.

Diare
Unicef dan WHO memperkirakan 2,5 miliar kasus diare terjadi pada anak balita setiap tahun. Di Indonesia, diare menjadi penyebab utama kematian bayi usia 1-12 bulan (42 persen) dan anak-anak hingga usia 4 tahun (25 persen). Bayi yang tidak mendapatkan ASI dinyatakan enam kali lipat lebih berisiko kehilangan nyawa akibat diare di usia dua bulan pertama.

Kondisi kesehatan dan gizi, serta sanitasi yang memadai memegang peranan penting untuk mencegah diare. Imunisasi perlu dilakukan pada anak guna melawan cacar, rotavirus (penyebab flu usus), serta infeksi usus lain yang dapat menimbulkan diare akut.

Komplikasi bayi baru lahir
Empat juta bayi mengalami komplikasi saat baru lahir dan ironisnya mereka kemudian kehilangan nyawa dalam empat minggu pertama. Di Indonesia 37 persen anak balita mengalami komplikasi pada saat lahir.

Tidak dapat disangkal, tenaga dan fasilitas kesehatan yang memadai ditunjang dengan kebersihan lingkungan amat diperlukan calon ibu untuk menjaga kesehatannya agar mampu menurunkan risiko berbahaya bagi dirinya dan sang bayi.

Penyebab lain
Penyebab lainnya adalah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi seperti campak dan TBC. Sementara itu, 50-60 persen kematian bayi dan anak balita terkait dengan masalah kekurangan gizi.
Penyakit Penyebab Kematian Anak
Kamis, 24 Juni 2010 | 07:59 WIB

shutterstock
TERKAIT:
• Infeksi, Penyebab Utama Kematian Bayi
• ASI Tekan 22 Persen Kematian
• Angka Kematian Ibu dan Anak Meningkat
• Penurunan Angka Kematian Bayi Lamban
• GramediaShop: 25 Resep Chinese Food Dan Kue
• GramediaShop: Make-up Bibir Sesuai Aura Dan Fengshui
KOMPAS.com — Angka kematian bayi di Indonesia saat ini 34 bayi per 1.000 kelahiran. Meski telah turun sejak tahun 1990, angka itu masih tergolong tinggi dan jauh dari pencapaian target pembangunan milenium 2015. Apa saja penyebab utama kematian anak di Indonesia?

Radang paru akut
Pada tahun 2003, di seluruh dunia terdapat 10,8 juta anak meninggal akibat penyakit pernapasan. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyebab kematian 37 persen bayi baru lahir di Indonesia.

Kematian anak akibat radang paru akut amat terkait dengan masalah kemiskinan yang memengaruhi tingkat gizi dan ketidakmampuan untuk mengakses fasilitas kesehatan. Dengan pembekalan informasi yang benar tentang penyakit ini pada petugas kesehatan dan pemenuhan gizi yang cukup, angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan hingga 42 persen.

Diare
Unicef dan WHO memperkirakan 2,5 miliar kasus diare terjadi pada anak balita setiap tahun. Di Indonesia, diare menjadi penyebab utama kematian bayi usia 1-12 bulan (42 persen) dan anak-anak hingga usia 4 tahun (25 persen). Bayi yang tidak mendapatkan ASI dinyatakan enam kali lipat lebih berisiko kehilangan nyawa akibat diare di usia dua bulan pertama.

Kondisi kesehatan dan gizi, serta sanitasi yang memadai memegang peranan penting untuk mencegah diare. Imunisasi perlu dilakukan pada anak guna melawan cacar, rotavirus (penyebab flu usus), serta infeksi usus lain yang dapat menimbulkan diare akut.

Komplikasi bayi baru lahir
Empat juta bayi mengalami komplikasi saat baru lahir dan ironisnya mereka kemudian kehilangan nyawa dalam empat minggu pertama. Di Indonesia 37 persen anak balita mengalami komplikasi pada saat lahir.

Tidak dapat disangkal, tenaga dan fasilitas kesehatan yang memadai ditunjang dengan kebersihan lingkungan amat diperlukan calon ibu untuk menjaga kesehatannya agar mampu menurunkan risiko berbahaya bagi dirinya dan sang bayi.

Penyebab lain
Penyebab lainnya adalah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi seperti campak dan TBC. Sementara itu, 50-60 persen kematian bayi dan anak balita terkait dengan masalah kekurangan gizi.
Forum Pembaca KOMPAS] Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita => Beberapa hal yg mengganjal pikiran saya
ghozan_gmail
Tue, 29 Apr 2008 23:56:17 -0700
Dear miliser.

Ada artikel yg cukup menarik, menurut saya.

Barangkali juga menarik untuk Anda.

Mohon maaf...ini pikiran bodoh saya saja.

Saya ndak yakin dengan apa yg di sampaikan Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
bahwa penyebab kematian 6jt bayi tersebut adalah IPD.

Saya ndak tahu apakah wartawannya yang salah kutip atau sayanya yang memang
bodoh.

Kalau memang benar penyebabnya IPD tolong sampaikan data epidemiologis secara
detail.

Sependek yg saya tahu th 2006 seorang konsultan WHO beliau menyampaikan bahwa
angka kematian anak akibat infeksi saluran nafas bawah (pneumonia) sangat
rendah...berbeda dengan Afrika misal Sudan.

Data lain :

Dalam laporan tahun 2000, dari kelompok bayi 2-23 bulan di Lombok, angka
infeksi akibat infeksi saluran nafas akut (ISPA) sebesar 58%, dengan angka
kematian 31 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan akibat infeksi sistem syaraf
pusat (CNS) sebesar 17% dengan angka kematian 9 per 1000 kelahiran hidup.
Laporan itu menganjurkan untuk memfokuskan usaha penurunan angka kematian
bayi pada menurunkan kejadian ISPA dan meningitis. Termasuk di dalamnya
mengevaluasi masuknya program HiB dan IPD dalam Program Imunisasi Anjuran di
Indonesia.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=11262765&query_hl=18&itool=pubmed_docsum

Tahun 2001, dilaporkan hasil penelitian di Mataram. Dari sampel 484 anak-anak
yang sehat usia 0-5 bulan di Pulau Lombok, diperoleh prevalensi carrier 48%.
Serotype yang dominan adalah 6, 23, 15, 33, or 12. Untunglah, pada sampel
tersebut, masih cukup sensitif terhadap antibiotika penicillin dan cefotaxime.
Lombok selama ini termasuk kategori carrier pneumococcal tingkat sedang (6).
Meskipun ada laporan lain tahun 1999, resistensi terhadap penisillin pada
Streptococcus pneumonie di wilayah Asia mulai meninggi.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=10451154&query_hl=18&itool=pubmed_docsum


Mengingat...menimbang....harganya yang sangat muahallll...polllll....tentu
sebagai konsumen kesehatan juga saya wajib tahu, seberapa besar manfaatnya.

Apakah benar-benar diperlukan di Indonesia?

Menurut WHO:

It can be difficult to establish the extent of pneumococcal disease as
developing countries often lack the clinical and laboratory facilities, the
expertise, and the resources to do so. As a result, public health
decision-makers are often unaware of the prevalence of the disease and of the
toll it exacts in death and disability. Because of the scarcity of data from
developing countries, there is concern over whether the seven-and nine-valent
vaccines contain the serotypes appropriate for all countries. Concerns remain -
although results to date are encouraging - that prevention of some serotypes of
pneumococcal disease may lead to increased incidence of other serotypes. The
price of the vaccine, although still to be set for developing countries, may be
too high for them to afford without special financing arrangements.

Pertanyaan lanjutan...

Apakah benar bahwa vaksin ini lebih tepatnya 7 serotype yang digunakan pada
Prevenar sesuai dengan serotype di Indonesia..???

Sependek yg saya tahu itu baru akan dilakukan penelitian. Kalau misalnya lebih
spesifik dan lebih sedikit jumlahnya, mungkin bisa diproduksi dengan harga
lebih murah.
Karena pemilihan 7 serotype ini hanya didasarkan pada pemberian di Malaysia,
Singapura, Philiphina dan Australia yang dianggap berdekatan dan memiliki ciri
geografis yang ama dgn Indonesia.

FYI..

Prevenar atau PV7 berisi 7 serotype Streptococcus pneumonia: 4, 6B, 9V, 14,
18C, 19F and 23F.

Yang mungkin perlu diperhatikan adalah bila ada riwayat reaksi alergi terhadap
imunisasi Dipteria (DPT), maka tidak diberikan imunisasi IPD jenis Prevenar
(kontraindikasi), karena dalam Prevenar ada kandungan varian dari Diphteria
toxin (sebagai protein-carrier).[sumber: dr. Tonang Ardyanto Ph.D].


Lebih sedih lagi kenapa harus bayar...????
Di Aussie dan US diberikan gratis.


Mohon pencerahan....

Terima kasih

salam,
ghz


Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita
Selasa, 29 April 2008 | 21:11 WIB
ANGKA kematian bayi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan di seluruh dunia,
Indonesia menduduki rangking keenam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati.
Urutan pertama India dengan angka kematian 44 juta, kedua China dengan angka
kematian 18 juta, ketiga Nigeria dengan angka kematian 7 juta, dan kelima
Bangladesh dengan angka kematian 6 juta bayi.

Kasus kematian bayi di Indonesia ini, menurut Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
disebabkan oleh Invassive Pneumococcus Disease (IPD). Ini adalah sekelompok
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini
memiliki 90 tipe kuman. Yang paling sering menyebabkan IPD adalah ke-7 serotipe
yang normalnya berada di daerah hidung dan tenggorokan dan cepat menyebar
melalui darah dan paling banyak menyerang bayi dan balita dibawah usia 2 tahun.

Spesialis anak, Konsultan Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial ini di Jakarta,
Selasa (29/4) mengatakan, meski bakteri ini ada di rongga hidung dan
tenggorokan semua orang, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Kelompok yang
paling rentan dengan penyakit ini adalah bayi usia di bawah 2 tahun. Ini akibat
dari belum sempurnanya daya tahan tubuh bayi seperti pada anak-anak diatas 5
tahun atau orang dewasa.

Polusi seperti lingkungan asap rokok, lahir prematur, tidak mendapatkan ASI,
hunian yang padat, dan pergantian cuaca merupakan faktor-faktor risiko yang
patut diwaspadai para orangtua, kata Soedjatmiko. Biasanya bayi-bayi yang sudah
terserang IPD bakal rewel. Ini terjadi akibat demam, sesak napas, nyeri yang
terjadi saat bernapas, mual dan muntah.

Penyakit ini cukup membahayakan karena mematikan. Mudah menular melalui
percikan ludah sat bersin, batuk, atau bicara. Karena itu, sebagai pencegahan,
sebaiknya sejak dini, saat bayi berusia dua bulan perlu diberi vaksinasi.
Vaksinasi merupakan upaya preventif terbaik mengingat besarnya angka morbiditas
akibat infeksi pneumokokus, terutama golongan IPD.

Saat ini vaksin pneumokokus konjugasi yang terdiri dari 7 serotipe (PCV-7)
telah menjadi vaksin yang diwajibkan di AS, Australia, Eropa dan Mexico serta
telah digunakan lebih dari 130 juta dosis di seluruh dunia. Vaksin ini telah
diluncurkan di beberapa negara Asia seperti Honkong, Taiwan, Filipina,
Singapura, Malaysia (2005), Indonesia, Pakistan, Thailand, dan India (2006).

Jadual Pemberian vaksin PCV-7 :
1. Usia di bawah 12 bulan diberi 4 dosis, yakni pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6
bulan dan booster pada usia 12-15 bulan.
2. Usia 7 - 11 bulan diberi 3 dosis, 2 dosis pertama dengan interval 4 minggu,
dosis ketiga diberikan setelah usia 12 bulan.
3. Usia 12 - 23 cukup diberi 2 dosis dengan interval 2 bulan.
4. Usia 2 tahun ke atas cukup diberi 1 dosis saja.

Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi lengkap dapat bertahan seumur hidup
karena vaksin ini dapat merangsang pembentukan memori di dalam tubuh.

Sumber : Kompas
Forum Pembaca KOMPAS] Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita => Beberapa hal yg mengganjal pikiran saya
ghozan_gmail
Tue, 29 Apr 2008 23:56:17 -0700
Dear miliser.

Ada artikel yg cukup menarik, menurut saya.

Barangkali juga menarik untuk Anda.

Mohon maaf...ini pikiran bodoh saya saja.

Saya ndak yakin dengan apa yg di sampaikan Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
bahwa penyebab kematian 6jt bayi tersebut adalah IPD.

Saya ndak tahu apakah wartawannya yang salah kutip atau sayanya yang memang
bodoh.

Kalau memang benar penyebabnya IPD tolong sampaikan data epidemiologis secara
detail.

Sependek yg saya tahu th 2006 seorang konsultan WHO beliau menyampaikan bahwa
angka kematian anak akibat infeksi saluran nafas bawah (pneumonia) sangat
rendah...berbeda dengan Afrika misal Sudan.

Data lain :

Dalam laporan tahun 2000, dari kelompok bayi 2-23 bulan di Lombok, angka
infeksi akibat infeksi saluran nafas akut (ISPA) sebesar 58%, dengan angka
kematian 31 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan akibat infeksi sistem syaraf
pusat (CNS) sebesar 17% dengan angka kematian 9 per 1000 kelahiran hidup.
Laporan itu menganjurkan untuk memfokuskan usaha penurunan angka kematian
bayi pada menurunkan kejadian ISPA dan meningitis. Termasuk di dalamnya
mengevaluasi masuknya program HiB dan IPD dalam Program Imunisasi Anjuran di
Indonesia.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=11262765&query_hl=18&itool=pubmed_docsum

Tahun 2001, dilaporkan hasil penelitian di Mataram. Dari sampel 484 anak-anak
yang sehat usia 0-5 bulan di Pulau Lombok, diperoleh prevalensi carrier 48%.
Serotype yang dominan adalah 6, 23, 15, 33, or 12. Untunglah, pada sampel
tersebut, masih cukup sensitif terhadap antibiotika penicillin dan cefotaxime.
Lombok selama ini termasuk kategori carrier pneumococcal tingkat sedang (6).
Meskipun ada laporan lain tahun 1999, resistensi terhadap penisillin pada
Streptococcus pneumonie di wilayah Asia mulai meninggi.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=10451154&query_hl=18&itool=pubmed_docsum


Mengingat...menimbang....harganya yang sangat muahallll...polllll....tentu
sebagai konsumen kesehatan juga saya wajib tahu, seberapa besar manfaatnya.

Apakah benar-benar diperlukan di Indonesia?

Menurut WHO:

It can be difficult to establish the extent of pneumococcal disease as
developing countries often lack the clinical and laboratory facilities, the
expertise, and the resources to do so. As a result, public health
decision-makers are often unaware of the prevalence of the disease and of the
toll it exacts in death and disability. Because of the scarcity of data from
developing countries, there is concern over whether the seven-and nine-valent
vaccines contain the serotypes appropriate for all countries. Concerns remain -
although results to date are encouraging - that prevention of some serotypes of
pneumococcal disease may lead to increased incidence of other serotypes. The
price of the vaccine, although still to be set for developing countries, may be
too high for them to afford without special financing arrangements.

Pertanyaan lanjutan...

Apakah benar bahwa vaksin ini lebih tepatnya 7 serotype yang digunakan pada
Prevenar sesuai dengan serotype di Indonesia..???

Sependek yg saya tahu itu baru akan dilakukan penelitian. Kalau misalnya lebih
spesifik dan lebih sedikit jumlahnya, mungkin bisa diproduksi dengan harga
lebih murah.
Karena pemilihan 7 serotype ini hanya didasarkan pada pemberian di Malaysia,
Singapura, Philiphina dan Australia yang dianggap berdekatan dan memiliki ciri
geografis yang ama dgn Indonesia.

FYI..

Prevenar atau PV7 berisi 7 serotype Streptococcus pneumonia: 4, 6B, 9V, 14,
18C, 19F and 23F.

Yang mungkin perlu diperhatikan adalah bila ada riwayat reaksi alergi terhadap
imunisasi Dipteria (DPT), maka tidak diberikan imunisasi IPD jenis Prevenar
(kontraindikasi), karena dalam Prevenar ada kandungan varian dari Diphteria
toxin (sebagai protein-carrier).[sumber: dr. Tonang Ardyanto Ph.D].


Lebih sedih lagi kenapa harus bayar...????
Di Aussie dan US diberikan gratis.


Mohon pencerahan....

Terima kasih

salam,
ghz


Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita
Selasa, 29 April 2008 | 21:11 WIB
ANGKA kematian bayi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan di seluruh dunia,
Indonesia menduduki rangking keenam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati.
Urutan pertama India dengan angka kematian 44 juta, kedua China dengan angka
kematian 18 juta, ketiga Nigeria dengan angka kematian 7 juta, dan kelima
Bangladesh dengan angka kematian 6 juta bayi.

Kasus kematian bayi di Indonesia ini, menurut Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
disebabkan oleh Invassive Pneumococcus Disease (IPD). Ini adalah sekelompok
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini
memiliki 90 tipe kuman. Yang paling sering menyebabkan IPD adalah ke-7 serotipe
yang normalnya berada di daerah hidung dan tenggorokan dan cepat menyebar
melalui darah dan paling banyak menyerang bayi dan balita dibawah usia 2 tahun.

Spesialis anak, Konsultan Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial ini di Jakarta,
Selasa (29/4) mengatakan, meski bakteri ini ada di rongga hidung dan
tenggorokan semua orang, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Kelompok yang
paling rentan dengan penyakit ini adalah bayi usia di bawah 2 tahun. Ini akibat
dari belum sempurnanya daya tahan tubuh bayi seperti pada anak-anak diatas 5
tahun atau orang dewasa.

Polusi seperti lingkungan asap rokok, lahir prematur, tidak mendapatkan ASI,
hunian yang padat, dan pergantian cuaca merupakan faktor-faktor risiko yang
patut diwaspadai para orangtua, kata Soedjatmiko. Biasanya bayi-bayi yang sudah
terserang IPD bakal rewel. Ini terjadi akibat demam, sesak napas, nyeri yang
terjadi saat bernapas, mual dan muntah.

Penyakit ini cukup membahayakan karena mematikan. Mudah menular melalui
percikan ludah sat bersin, batuk, atau bicara. Karena itu, sebagai pencegahan,
sebaiknya sejak dini, saat bayi berusia dua bulan perlu diberi vaksinasi.
Vaksinasi merupakan upaya preventif terbaik mengingat besarnya angka morbiditas
akibat infeksi pneumokokus, terutama golongan IPD.

Saat ini vaksin pneumokokus konjugasi yang terdiri dari 7 serotipe (PCV-7)
telah menjadi vaksin yang diwajibkan di AS, Australia, Eropa dan Mexico serta
telah digunakan lebih dari 130 juta dosis di seluruh dunia. Vaksin ini telah
diluncurkan di beberapa negara Asia seperti Honkong, Taiwan, Filipina,
Singapura, Malaysia (2005), Indonesia, Pakistan, Thailand, dan India (2006).

Jadual Pemberian vaksin PCV-7 :
1. Usia di bawah 12 bulan diberi 4 dosis, yakni pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6
bulan dan booster pada usia 12-15 bulan.
2. Usia 7 - 11 bulan diberi 3 dosis, 2 dosis pertama dengan interval 4 minggu,
dosis ketiga diberikan setelah usia 12 bulan.
3. Usia 12 - 23 cukup diberi 2 dosis dengan interval 2 bulan.
4. Usia 2 tahun ke atas cukup diberi 1 dosis saja.

Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi lengkap dapat bertahan seumur hidup
karena vaksin ini dapat merangsang pembentukan memori di dalam tubuh.

Sumber : Kompas
Forum Pembaca KOMPAS] Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita => Beberapa hal yg mengganjal pikiran saya
ghozan_gmail
Tue, 29 Apr 2008 23:56:17 -0700
Dear miliser.

Ada artikel yg cukup menarik, menurut saya.

Barangkali juga menarik untuk Anda.

Mohon maaf...ini pikiran bodoh saya saja.

Saya ndak yakin dengan apa yg di sampaikan Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
bahwa penyebab kematian 6jt bayi tersebut adalah IPD.

Saya ndak tahu apakah wartawannya yang salah kutip atau sayanya yang memang
bodoh.

Kalau memang benar penyebabnya IPD tolong sampaikan data epidemiologis secara
detail.

Sependek yg saya tahu th 2006 seorang konsultan WHO beliau menyampaikan bahwa
angka kematian anak akibat infeksi saluran nafas bawah (pneumonia) sangat
rendah...berbeda dengan Afrika misal Sudan.

Data lain :

Dalam laporan tahun 2000, dari kelompok bayi 2-23 bulan di Lombok, angka
infeksi akibat infeksi saluran nafas akut (ISPA) sebesar 58%, dengan angka
kematian 31 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan akibat infeksi sistem syaraf
pusat (CNS) sebesar 17% dengan angka kematian 9 per 1000 kelahiran hidup.
Laporan itu menganjurkan untuk memfokuskan usaha penurunan angka kematian
bayi pada menurunkan kejadian ISPA dan meningitis. Termasuk di dalamnya
mengevaluasi masuknya program HiB dan IPD dalam Program Imunisasi Anjuran di
Indonesia.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=11262765&query_hl=18&itool=pubmed_docsum

Tahun 2001, dilaporkan hasil penelitian di Mataram. Dari sampel 484 anak-anak
yang sehat usia 0-5 bulan di Pulau Lombok, diperoleh prevalensi carrier 48%.
Serotype yang dominan adalah 6, 23, 15, 33, or 12. Untunglah, pada sampel
tersebut, masih cukup sensitif terhadap antibiotika penicillin dan cefotaxime.
Lombok selama ini termasuk kategori carrier pneumococcal tingkat sedang (6).
Meskipun ada laporan lain tahun 1999, resistensi terhadap penisillin pada
Streptococcus pneumonie di wilayah Asia mulai meninggi.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=10451154&query_hl=18&itool=pubmed_docsum


Mengingat...menimbang....harganya yang sangat muahallll...polllll....tentu
sebagai konsumen kesehatan juga saya wajib tahu, seberapa besar manfaatnya.

Apakah benar-benar diperlukan di Indonesia?

Menurut WHO:

It can be difficult to establish the extent of pneumococcal disease as
developing countries often lack the clinical and laboratory facilities, the
expertise, and the resources to do so. As a result, public health
decision-makers are often unaware of the prevalence of the disease and of the
toll it exacts in death and disability. Because of the scarcity of data from
developing countries, there is concern over whether the seven-and nine-valent
vaccines contain the serotypes appropriate for all countries. Concerns remain -
although results to date are encouraging - that prevention of some serotypes of
pneumococcal disease may lead to increased incidence of other serotypes. The
price of the vaccine, although still to be set for developing countries, may be
too high for them to afford without special financing arrangements.

Pertanyaan lanjutan...

Apakah benar bahwa vaksin ini lebih tepatnya 7 serotype yang digunakan pada
Prevenar sesuai dengan serotype di Indonesia..???

Sependek yg saya tahu itu baru akan dilakukan penelitian. Kalau misalnya lebih
spesifik dan lebih sedikit jumlahnya, mungkin bisa diproduksi dengan harga
lebih murah.
Karena pemilihan 7 serotype ini hanya didasarkan pada pemberian di Malaysia,
Singapura, Philiphina dan Australia yang dianggap berdekatan dan memiliki ciri
geografis yang ama dgn Indonesia.

FYI..

Prevenar atau PV7 berisi 7 serotype Streptococcus pneumonia: 4, 6B, 9V, 14,
18C, 19F and 23F.

Yang mungkin perlu diperhatikan adalah bila ada riwayat reaksi alergi terhadap
imunisasi Dipteria (DPT), maka tidak diberikan imunisasi IPD jenis Prevenar
(kontraindikasi), karena dalam Prevenar ada kandungan varian dari Diphteria
toxin (sebagai protein-carrier).[sumber: dr. Tonang Ardyanto Ph.D].


Lebih sedih lagi kenapa harus bayar...????
Di Aussie dan US diberikan gratis.


Mohon pencerahan....

Terima kasih

salam,
ghz


Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita
Selasa, 29 April 2008 | 21:11 WIB
ANGKA kematian bayi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan di seluruh dunia,
Indonesia menduduki rangking keenam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati.
Urutan pertama India dengan angka kematian 44 juta, kedua China dengan angka
kematian 18 juta, ketiga Nigeria dengan angka kematian 7 juta, dan kelima
Bangladesh dengan angka kematian 6 juta bayi.

Kasus kematian bayi di Indonesia ini, menurut Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
disebabkan oleh Invassive Pneumococcus Disease (IPD). Ini adalah sekelompok
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini
memiliki 90 tipe kuman. Yang paling sering menyebabkan IPD adalah ke-7 serotipe
yang normalnya berada di daerah hidung dan tenggorokan dan cepat menyebar
melalui darah dan paling banyak menyerang bayi dan balita dibawah usia 2 tahun.

Spesialis anak, Konsultan Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial ini di Jakarta,
Selasa (29/4) mengatakan, meski bakteri ini ada di rongga hidung dan
tenggorokan semua orang, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Kelompok yang
paling rentan dengan penyakit ini adalah bayi usia di bawah 2 tahun. Ini akibat
dari belum sempurnanya daya tahan tubuh bayi seperti pada anak-anak diatas 5
tahun atau orang dewasa.

Polusi seperti lingkungan asap rokok, lahir prematur, tidak mendapatkan ASI,
hunian yang padat, dan pergantian cuaca merupakan faktor-faktor risiko yang
patut diwaspadai para orangtua, kata Soedjatmiko. Biasanya bayi-bayi yang sudah
terserang IPD bakal rewel. Ini terjadi akibat demam, sesak napas, nyeri yang
terjadi saat bernapas, mual dan muntah.

Penyakit ini cukup membahayakan karena mematikan. Mudah menular melalui
percikan ludah sat bersin, batuk, atau bicara. Karena itu, sebagai pencegahan,
sebaiknya sejak dini, saat bayi berusia dua bulan perlu diberi vaksinasi.
Vaksinasi merupakan upaya preventif terbaik mengingat besarnya angka morbiditas
akibat infeksi pneumokokus, terutama golongan IPD.

Saat ini vaksin pneumokokus konjugasi yang terdiri dari 7 serotipe (PCV-7)
telah menjadi vaksin yang diwajibkan di AS, Australia, Eropa dan Mexico serta
telah digunakan lebih dari 130 juta dosis di seluruh dunia. Vaksin ini telah
diluncurkan di beberapa negara Asia seperti Honkong, Taiwan, Filipina,
Singapura, Malaysia (2005), Indonesia, Pakistan, Thailand, dan India (2006).

Jadual Pemberian vaksin PCV-7 :
1. Usia di bawah 12 bulan diberi 4 dosis, yakni pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6
bulan dan booster pada usia 12-15 bulan.
2. Usia 7 - 11 bulan diberi 3 dosis, 2 dosis pertama dengan interval 4 minggu,
dosis ketiga diberikan setelah usia 12 bulan.
3. Usia 12 - 23 cukup diberi 2 dosis dengan interval 2 bulan.
4. Usia 2 tahun ke atas cukup diberi 1 dosis saja.

Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi lengkap dapat bertahan seumur hidup
karena vaksin ini dapat merangsang pembentukan memori di dalam tubuh.

Sumber : Kompas
Forum Pembaca KOMPAS] Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita => Beberapa hal yg mengganjal pikiran saya
ghozan_gmail
Tue, 29 Apr 2008 23:56:17 -0700
Dear miliser.

Ada artikel yg cukup menarik, menurut saya.

Barangkali juga menarik untuk Anda.

Mohon maaf...ini pikiran bodoh saya saja.

Saya ndak yakin dengan apa yg di sampaikan Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
bahwa penyebab kematian 6jt bayi tersebut adalah IPD.

Saya ndak tahu apakah wartawannya yang salah kutip atau sayanya yang memang
bodoh.

Kalau memang benar penyebabnya IPD tolong sampaikan data epidemiologis secara
detail.

Sependek yg saya tahu th 2006 seorang konsultan WHO beliau menyampaikan bahwa
angka kematian anak akibat infeksi saluran nafas bawah (pneumonia) sangat
rendah...berbeda dengan Afrika misal Sudan.

Data lain :

Dalam laporan tahun 2000, dari kelompok bayi 2-23 bulan di Lombok, angka
infeksi akibat infeksi saluran nafas akut (ISPA) sebesar 58%, dengan angka
kematian 31 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan akibat infeksi sistem syaraf
pusat (CNS) sebesar 17% dengan angka kematian 9 per 1000 kelahiran hidup.
Laporan itu menganjurkan untuk memfokuskan usaha penurunan angka kematian
bayi pada menurunkan kejadian ISPA dan meningitis. Termasuk di dalamnya
mengevaluasi masuknya program HiB dan IPD dalam Program Imunisasi Anjuran di
Indonesia.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=11262765&query_hl=18&itool=pubmed_docsum

Tahun 2001, dilaporkan hasil penelitian di Mataram. Dari sampel 484 anak-anak
yang sehat usia 0-5 bulan di Pulau Lombok, diperoleh prevalensi carrier 48%.
Serotype yang dominan adalah 6, 23, 15, 33, or 12. Untunglah, pada sampel
tersebut, masih cukup sensitif terhadap antibiotika penicillin dan cefotaxime.
Lombok selama ini termasuk kategori carrier pneumococcal tingkat sedang (6).
Meskipun ada laporan lain tahun 1999, resistensi terhadap penisillin pada
Streptococcus pneumonie di wilayah Asia mulai meninggi.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=10451154&query_hl=18&itool=pubmed_docsum


Mengingat...menimbang....harganya yang sangat muahallll...polllll....tentu
sebagai konsumen kesehatan juga saya wajib tahu, seberapa besar manfaatnya.

Apakah benar-benar diperlukan di Indonesia?

Menurut WHO:

It can be difficult to establish the extent of pneumococcal disease as
developing countries often lack the clinical and laboratory facilities, the
expertise, and the resources to do so. As a result, public health
decision-makers are often unaware of the prevalence of the disease and of the
toll it exacts in death and disability. Because of the scarcity of data from
developing countries, there is concern over whether the seven-and nine-valent
vaccines contain the serotypes appropriate for all countries. Concerns remain -
although results to date are encouraging - that prevention of some serotypes of
pneumococcal disease may lead to increased incidence of other serotypes. The
price of the vaccine, although still to be set for developing countries, may be
too high for them to afford without special financing arrangements.

Pertanyaan lanjutan...

Apakah benar bahwa vaksin ini lebih tepatnya 7 serotype yang digunakan pada
Prevenar sesuai dengan serotype di Indonesia..???

Sependek yg saya tahu itu baru akan dilakukan penelitian. Kalau misalnya lebih
spesifik dan lebih sedikit jumlahnya, mungkin bisa diproduksi dengan harga
lebih murah.
Karena pemilihan 7 serotype ini hanya didasarkan pada pemberian di Malaysia,
Singapura, Philiphina dan Australia yang dianggap berdekatan dan memiliki ciri
geografis yang ama dgn Indonesia.

FYI..

Prevenar atau PV7 berisi 7 serotype Streptococcus pneumonia: 4, 6B, 9V, 14,
18C, 19F and 23F.

Yang mungkin perlu diperhatikan adalah bila ada riwayat reaksi alergi terhadap
imunisasi Dipteria (DPT), maka tidak diberikan imunisasi IPD jenis Prevenar
(kontraindikasi), karena dalam Prevenar ada kandungan varian dari Diphteria
toxin (sebagai protein-carrier).[sumber: dr. Tonang Ardyanto Ph.D].


Lebih sedih lagi kenapa harus bayar...????
Di Aussie dan US diberikan gratis.


Mohon pencerahan....

Terima kasih

salam,
ghz


Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita
Selasa, 29 April 2008 | 21:11 WIB
ANGKA kematian bayi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan di seluruh dunia,
Indonesia menduduki rangking keenam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati.
Urutan pertama India dengan angka kematian 44 juta, kedua China dengan angka
kematian 18 juta, ketiga Nigeria dengan angka kematian 7 juta, dan kelima
Bangladesh dengan angka kematian 6 juta bayi.

Kasus kematian bayi di Indonesia ini, menurut Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
disebabkan oleh Invassive Pneumococcus Disease (IPD). Ini adalah sekelompok
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini
memiliki 90 tipe kuman. Yang paling sering menyebabkan IPD adalah ke-7 serotipe
yang normalnya berada di daerah hidung dan tenggorokan dan cepat menyebar
melalui darah dan paling banyak menyerang bayi dan balita dibawah usia 2 tahun.

Spesialis anak, Konsultan Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial ini di Jakarta,
Selasa (29/4) mengatakan, meski bakteri ini ada di rongga hidung dan
tenggorokan semua orang, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Kelompok yang
paling rentan dengan penyakit ini adalah bayi usia di bawah 2 tahun. Ini akibat
dari belum sempurnanya daya tahan tubuh bayi seperti pada anak-anak diatas 5
tahun atau orang dewasa.

Polusi seperti lingkungan asap rokok, lahir prematur, tidak mendapatkan ASI,
hunian yang padat, dan pergantian cuaca merupakan faktor-faktor risiko yang
patut diwaspadai para orangtua, kata Soedjatmiko. Biasanya bayi-bayi yang sudah
terserang IPD bakal rewel. Ini terjadi akibat demam, sesak napas, nyeri yang
terjadi saat bernapas, mual dan muntah.

Penyakit ini cukup membahayakan karena mematikan. Mudah menular melalui
percikan ludah sat bersin, batuk, atau bicara. Karena itu, sebagai pencegahan,
sebaiknya sejak dini, saat bayi berusia dua bulan perlu diberi vaksinasi.
Vaksinasi merupakan upaya preventif terbaik mengingat besarnya angka morbiditas
akibat infeksi pneumokokus, terutama golongan IPD.

Saat ini vaksin pneumokokus konjugasi yang terdiri dari 7 serotipe (PCV-7)
telah menjadi vaksin yang diwajibkan di AS, Australia, Eropa dan Mexico serta
telah digunakan lebih dari 130 juta dosis di seluruh dunia. Vaksin ini telah
diluncurkan di beberapa negara Asia seperti Honkong, Taiwan, Filipina,
Singapura, Malaysia (2005), Indonesia, Pakistan, Thailand, dan India (2006).

Jadual Pemberian vaksin PCV-7 :
1. Usia di bawah 12 bulan diberi 4 dosis, yakni pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6
bulan dan booster pada usia 12-15 bulan.
2. Usia 7 - 11 bulan diberi 3 dosis, 2 dosis pertama dengan interval 4 minggu,
dosis ketiga diberikan setelah usia 12 bulan.
3. Usia 12 - 23 cukup diberi 2 dosis dengan interval 2 bulan.
4. Usia 2 tahun ke atas cukup diberi 1 dosis saja.

Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi lengkap dapat bertahan seumur hidup
karena vaksin ini dapat merangsang pembentukan memori di dalam tubuh.

Sumber : Kompas
Forum Pembaca KOMPAS] Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita => Beberapa hal yg mengganjal pikiran saya
ghozan_gmail
Tue, 29 Apr 2008 23:56:17 -0700
Dear miliser.

Ada artikel yg cukup menarik, menurut saya.

Barangkali juga menarik untuk Anda.

Mohon maaf...ini pikiran bodoh saya saja.

Saya ndak yakin dengan apa yg di sampaikan Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
bahwa penyebab kematian 6jt bayi tersebut adalah IPD.

Saya ndak tahu apakah wartawannya yang salah kutip atau sayanya yang memang
bodoh.

Kalau memang benar penyebabnya IPD tolong sampaikan data epidemiologis secara
detail.

Sependek yg saya tahu th 2006 seorang konsultan WHO beliau menyampaikan bahwa
angka kematian anak akibat infeksi saluran nafas bawah (pneumonia) sangat
rendah...berbeda dengan Afrika misal Sudan.

Data lain :

Dalam laporan tahun 2000, dari kelompok bayi 2-23 bulan di Lombok, angka
infeksi akibat infeksi saluran nafas akut (ISPA) sebesar 58%, dengan angka
kematian 31 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan akibat infeksi sistem syaraf
pusat (CNS) sebesar 17% dengan angka kematian 9 per 1000 kelahiran hidup.
Laporan itu menganjurkan untuk memfokuskan usaha penurunan angka kematian
bayi pada menurunkan kejadian ISPA dan meningitis. Termasuk di dalamnya
mengevaluasi masuknya program HiB dan IPD dalam Program Imunisasi Anjuran di
Indonesia.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=11262765&query_hl=18&itool=pubmed_docsum

Tahun 2001, dilaporkan hasil penelitian di Mataram. Dari sampel 484 anak-anak
yang sehat usia 0-5 bulan di Pulau Lombok, diperoleh prevalensi carrier 48%.
Serotype yang dominan adalah 6, 23, 15, 33, or 12. Untunglah, pada sampel
tersebut, masih cukup sensitif terhadap antibiotika penicillin dan cefotaxime.
Lombok selama ini termasuk kategori carrier pneumococcal tingkat sedang (6).
Meskipun ada laporan lain tahun 1999, resistensi terhadap penisillin pada
Streptococcus pneumonie di wilayah Asia mulai meninggi.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=10451154&query_hl=18&itool=pubmed_docsum


Mengingat...menimbang....harganya yang sangat muahallll...polllll....tentu
sebagai konsumen kesehatan juga saya wajib tahu, seberapa besar manfaatnya.

Apakah benar-benar diperlukan di Indonesia?

Menurut WHO:

It can be difficult to establish the extent of pneumococcal disease as
developing countries often lack the clinical and laboratory facilities, the
expertise, and the resources to do so. As a result, public health
decision-makers are often unaware of the prevalence of the disease and of the
toll it exacts in death and disability. Because of the scarcity of data from
developing countries, there is concern over whether the seven-and nine-valent
vaccines contain the serotypes appropriate for all countries. Concerns remain -
although results to date are encouraging - that prevention of some serotypes of
pneumococcal disease may lead to increased incidence of other serotypes. The
price of the vaccine, although still to be set for developing countries, may be
too high for them to afford without special financing arrangements.

Pertanyaan lanjutan...

Apakah benar bahwa vaksin ini lebih tepatnya 7 serotype yang digunakan pada
Prevenar sesuai dengan serotype di Indonesia..???

Sependek yg saya tahu itu baru akan dilakukan penelitian. Kalau misalnya lebih
spesifik dan lebih sedikit jumlahnya, mungkin bisa diproduksi dengan harga
lebih murah.
Karena pemilihan 7 serotype ini hanya didasarkan pada pemberian di Malaysia,
Singapura, Philiphina dan Australia yang dianggap berdekatan dan memiliki ciri
geografis yang ama dgn Indonesia.

FYI..

Prevenar atau PV7 berisi 7 serotype Streptococcus pneumonia: 4, 6B, 9V, 14,
18C, 19F and 23F.

Yang mungkin perlu diperhatikan adalah bila ada riwayat reaksi alergi terhadap
imunisasi Dipteria (DPT), maka tidak diberikan imunisasi IPD jenis Prevenar
(kontraindikasi), karena dalam Prevenar ada kandungan varian dari Diphteria
toxin (sebagai protein-carrier).[sumber: dr. Tonang Ardyanto Ph.D].


Lebih sedih lagi kenapa harus bayar...????
Di Aussie dan US diberikan gratis.


Mohon pencerahan....

Terima kasih

salam,
ghz


Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita
Selasa, 29 April 2008 | 21:11 WIB
ANGKA kematian bayi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan di seluruh dunia,
Indonesia menduduki rangking keenam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati.
Urutan pertama India dengan angka kematian 44 juta, kedua China dengan angka
kematian 18 juta, ketiga Nigeria dengan angka kematian 7 juta, dan kelima
Bangladesh dengan angka kematian 6 juta bayi.

Kasus kematian bayi di Indonesia ini, menurut Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
disebabkan oleh Invassive Pneumococcus Disease (IPD). Ini adalah sekelompok
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini
memiliki 90 tipe kuman. Yang paling sering menyebabkan IPD adalah ke-7 serotipe
yang normalnya berada di daerah hidung dan tenggorokan dan cepat menyebar
melalui darah dan paling banyak menyerang bayi dan balita dibawah usia 2 tahun.

Spesialis anak, Konsultan Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial ini di Jakarta,
Selasa (29/4) mengatakan, meski bakteri ini ada di rongga hidung dan
tenggorokan semua orang, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Kelompok yang
paling rentan dengan penyakit ini adalah bayi usia di bawah 2 tahun. Ini akibat
dari belum sempurnanya daya tahan tubuh bayi seperti pada anak-anak diatas 5
tahun atau orang dewasa.

Polusi seperti lingkungan asap rokok, lahir prematur, tidak mendapatkan ASI,
hunian yang padat, dan pergantian cuaca merupakan faktor-faktor risiko yang
patut diwaspadai para orangtua, kata Soedjatmiko. Biasanya bayi-bayi yang sudah
terserang IPD bakal rewel. Ini terjadi akibat demam, sesak napas, nyeri yang
terjadi saat bernapas, mual dan muntah.

Penyakit ini cukup membahayakan karena mematikan. Mudah menular melalui
percikan ludah sat bersin, batuk, atau bicara. Karena itu, sebagai pencegahan,
sebaiknya sejak dini, saat bayi berusia dua bulan perlu diberi vaksinasi.
Vaksinasi merupakan upaya preventif terbaik mengingat besarnya angka morbiditas
akibat infeksi pneumokokus, terutama golongan IPD.

Saat ini vaksin pneumokokus konjugasi yang terdiri dari 7 serotipe (PCV-7)
telah menjadi vaksin yang diwajibkan di AS, Australia, Eropa dan Mexico serta
telah digunakan lebih dari 130 juta dosis di seluruh dunia. Vaksin ini telah
diluncurkan di beberapa negara Asia seperti Honkong, Taiwan, Filipina,
Singapura, Malaysia (2005), Indonesia, Pakistan, Thailand, dan India (2006).

Jadual Pemberian vaksin PCV-7 :
1. Usia di bawah 12 bulan diberi 4 dosis, yakni pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6
bulan dan booster pada usia 12-15 bulan.
2. Usia 7 - 11 bulan diberi 3 dosis, 2 dosis pertama dengan interval 4 minggu,
dosis ketiga diberikan setelah usia 12 bulan.
3. Usia 12 - 23 cukup diberi 2 dosis dengan interval 2 bulan.
4. Usia 2 tahun ke atas cukup diberi 1 dosis saja.

Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi lengkap dapat bertahan seumur hidup
karena vaksin ini dapat merangsang pembentukan memori di dalam tubuh.

Sumber : Kompas
Forum Pembaca KOMPAS] Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita => Beberapa hal yg mengganjal pikiran saya
ghozan_gmail
Tue, 29 Apr 2008 23:56:17 -0700
Dear miliser.

Ada artikel yg cukup menarik, menurut saya.

Barangkali juga menarik untuk Anda.

Mohon maaf...ini pikiran bodoh saya saja.

Saya ndak yakin dengan apa yg di sampaikan Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
bahwa penyebab kematian 6jt bayi tersebut adalah IPD.

Saya ndak tahu apakah wartawannya yang salah kutip atau sayanya yang memang
bodoh.

Kalau memang benar penyebabnya IPD tolong sampaikan data epidemiologis secara
detail.

Sependek yg saya tahu th 2006 seorang konsultan WHO beliau menyampaikan bahwa
angka kematian anak akibat infeksi saluran nafas bawah (pneumonia) sangat
rendah...berbeda dengan Afrika misal Sudan.

Data lain :

Dalam laporan tahun 2000, dari kelompok bayi 2-23 bulan di Lombok, angka
infeksi akibat infeksi saluran nafas akut (ISPA) sebesar 58%, dengan angka
kematian 31 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan akibat infeksi sistem syaraf
pusat (CNS) sebesar 17% dengan angka kematian 9 per 1000 kelahiran hidup.
Laporan itu menganjurkan untuk memfokuskan usaha penurunan angka kematian
bayi pada menurunkan kejadian ISPA dan meningitis. Termasuk di dalamnya
mengevaluasi masuknya program HiB dan IPD dalam Program Imunisasi Anjuran di
Indonesia.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=11262765&query_hl=18&itool=pubmed_docsum

Tahun 2001, dilaporkan hasil penelitian di Mataram. Dari sampel 484 anak-anak
yang sehat usia 0-5 bulan di Pulau Lombok, diperoleh prevalensi carrier 48%.
Serotype yang dominan adalah 6, 23, 15, 33, or 12. Untunglah, pada sampel
tersebut, masih cukup sensitif terhadap antibiotika penicillin dan cefotaxime.
Lombok selama ini termasuk kategori carrier pneumococcal tingkat sedang (6).
Meskipun ada laporan lain tahun 1999, resistensi terhadap penisillin pada
Streptococcus pneumonie di wilayah Asia mulai meninggi.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=10451154&query_hl=18&itool=pubmed_docsum


Mengingat...menimbang....harganya yang sangat muahallll...polllll....tentu
sebagai konsumen kesehatan juga saya wajib tahu, seberapa besar manfaatnya.

Apakah benar-benar diperlukan di Indonesia?

Menurut WHO:

It can be difficult to establish the extent of pneumococcal disease as
developing countries often lack the clinical and laboratory facilities, the
expertise, and the resources to do so. As a result, public health
decision-makers are often unaware of the prevalence of the disease and of the
toll it exacts in death and disability. Because of the scarcity of data from
developing countries, there is concern over whether the seven-and nine-valent
vaccines contain the serotypes appropriate for all countries. Concerns remain -
although results to date are encouraging - that prevention of some serotypes of
pneumococcal disease may lead to increased incidence of other serotypes. The
price of the vaccine, although still to be set for developing countries, may be
too high for them to afford without special financing arrangements.

Pertanyaan lanjutan...

Apakah benar bahwa vaksin ini lebih tepatnya 7 serotype yang digunakan pada
Prevenar sesuai dengan serotype di Indonesia..???

Sependek yg saya tahu itu baru akan dilakukan penelitian. Kalau misalnya lebih
spesifik dan lebih sedikit jumlahnya, mungkin bisa diproduksi dengan harga
lebih murah.
Karena pemilihan 7 serotype ini hanya didasarkan pada pemberian di Malaysia,
Singapura, Philiphina dan Australia yang dianggap berdekatan dan memiliki ciri
geografis yang ama dgn Indonesia.

FYI..

Prevenar atau PV7 berisi 7 serotype Streptococcus pneumonia: 4, 6B, 9V, 14,
18C, 19F and 23F.

Yang mungkin perlu diperhatikan adalah bila ada riwayat reaksi alergi terhadap
imunisasi Dipteria (DPT), maka tidak diberikan imunisasi IPD jenis Prevenar
(kontraindikasi), karena dalam Prevenar ada kandungan varian dari Diphteria
toxin (sebagai protein-carrier).[sumber: dr. Tonang Ardyanto Ph.D].


Lebih sedih lagi kenapa harus bayar...????
Di Aussie dan US diberikan gratis.


Mohon pencerahan....

Terima kasih

salam,
ghz


Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita
Selasa, 29 April 2008 | 21:11 WIB
ANGKA kematian bayi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan di seluruh dunia,
Indonesia menduduki rangking keenam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati.
Urutan pertama India dengan angka kematian 44 juta, kedua China dengan angka
kematian 18 juta, ketiga Nigeria dengan angka kematian 7 juta, dan kelima
Bangladesh dengan angka kematian 6 juta bayi.

Kasus kematian bayi di Indonesia ini, menurut Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
disebabkan oleh Invassive Pneumococcus Disease (IPD). Ini adalah sekelompok
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini
memiliki 90 tipe kuman. Yang paling sering menyebabkan IPD adalah ke-7 serotipe
yang normalnya berada di daerah hidung dan tenggorokan dan cepat menyebar
melalui darah dan paling banyak menyerang bayi dan balita dibawah usia 2 tahun.

Spesialis anak, Konsultan Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial ini di Jakarta,
Selasa (29/4) mengatakan, meski bakteri ini ada di rongga hidung dan
tenggorokan semua orang, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Kelompok yang
paling rentan dengan penyakit ini adalah bayi usia di bawah 2 tahun. Ini akibat
dari belum sempurnanya daya tahan tubuh bayi seperti pada anak-anak diatas 5
tahun atau orang dewasa.

Polusi seperti lingkungan asap rokok, lahir prematur, tidak mendapatkan ASI,
hunian yang padat, dan pergantian cuaca merupakan faktor-faktor risiko yang
patut diwaspadai para orangtua, kata Soedjatmiko. Biasanya bayi-bayi yang sudah
terserang IPD bakal rewel. Ini terjadi akibat demam, sesak napas, nyeri yang
terjadi saat bernapas, mual dan muntah.

Penyakit ini cukup membahayakan karena mematikan. Mudah menular melalui
percikan ludah sat bersin, batuk, atau bicara. Karena itu, sebagai pencegahan,
sebaiknya sejak dini, saat bayi berusia dua bulan perlu diberi vaksinasi.
Vaksinasi merupakan upaya preventif terbaik mengingat besarnya angka morbiditas
akibat infeksi pneumokokus, terutama golongan IPD.

Saat ini vaksin pneumokokus konjugasi yang terdiri dari 7 serotipe (PCV-7)
telah menjadi vaksin yang diwajibkan di AS, Australia, Eropa dan Mexico serta
telah digunakan lebih dari 130 juta dosis di seluruh dunia. Vaksin ini telah
diluncurkan di beberapa negara Asia seperti Honkong, Taiwan, Filipina,
Singapura, Malaysia (2005), Indonesia, Pakistan, Thailand, dan India (2006).

Jadual Pemberian vaksin PCV-7 :
1. Usia di bawah 12 bulan diberi 4 dosis, yakni pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6
bulan dan booster pada usia 12-15 bulan.
2. Usia 7 - 11 bulan diberi 3 dosis, 2 dosis pertama dengan interval 4 minggu,
dosis ketiga diberikan setelah usia 12 bulan.
3. Usia 12 - 23 cukup diberi 2 dosis dengan interval 2 bulan.
4. Usia 2 tahun ke atas cukup diberi 1 dosis saja.

Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi lengkap dapat bertahan seumur hidup
karena vaksin ini dapat merangsang pembentukan memori di dalam tubuh.

Sumber : Kompas
Forum Pembaca KOMPAS] Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita => Beberapa hal yg mengganjal pikiran saya
ghozan_gmail
Tue, 29 Apr 2008 23:56:17 -0700
Dear miliser.

Ada artikel yg cukup menarik, menurut saya.

Barangkali juga menarik untuk Anda.

Mohon maaf...ini pikiran bodoh saya saja.

Saya ndak yakin dengan apa yg di sampaikan Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
bahwa penyebab kematian 6jt bayi tersebut adalah IPD.

Saya ndak tahu apakah wartawannya yang salah kutip atau sayanya yang memang
bodoh.

Kalau memang benar penyebabnya IPD tolong sampaikan data epidemiologis secara
detail.

Sependek yg saya tahu th 2006 seorang konsultan WHO beliau menyampaikan bahwa
angka kematian anak akibat infeksi saluran nafas bawah (pneumonia) sangat
rendah...berbeda dengan Afrika misal Sudan.

Data lain :

Dalam laporan tahun 2000, dari kelompok bayi 2-23 bulan di Lombok, angka
infeksi akibat infeksi saluran nafas akut (ISPA) sebesar 58%, dengan angka
kematian 31 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan akibat infeksi sistem syaraf
pusat (CNS) sebesar 17% dengan angka kematian 9 per 1000 kelahiran hidup.
Laporan itu menganjurkan untuk memfokuskan usaha penurunan angka kematian
bayi pada menurunkan kejadian ISPA dan meningitis. Termasuk di dalamnya
mengevaluasi masuknya program HiB dan IPD dalam Program Imunisasi Anjuran di
Indonesia.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=11262765&query_hl=18&itool=pubmed_docsum

Tahun 2001, dilaporkan hasil penelitian di Mataram. Dari sampel 484 anak-anak
yang sehat usia 0-5 bulan di Pulau Lombok, diperoleh prevalensi carrier 48%.
Serotype yang dominan adalah 6, 23, 15, 33, or 12. Untunglah, pada sampel
tersebut, masih cukup sensitif terhadap antibiotika penicillin dan cefotaxime.
Lombok selama ini termasuk kategori carrier pneumococcal tingkat sedang (6).
Meskipun ada laporan lain tahun 1999, resistensi terhadap penisillin pada
Streptococcus pneumonie di wilayah Asia mulai meninggi.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=10451154&query_hl=18&itool=pubmed_docsum


Mengingat...menimbang....harganya yang sangat muahallll...polllll....tentu
sebagai konsumen kesehatan juga saya wajib tahu, seberapa besar manfaatnya.

Apakah benar-benar diperlukan di Indonesia?

Menurut WHO:

It can be difficult to establish the extent of pneumococcal disease as
developing countries often lack the clinical and laboratory facilities, the
expertise, and the resources to do so. As a result, public health
decision-makers are often unaware of the prevalence of the disease and of the
toll it exacts in death and disability. Because of the scarcity of data from
developing countries, there is concern over whether the seven-and nine-valent
vaccines contain the serotypes appropriate for all countries. Concerns remain -
although results to date are encouraging - that prevention of some serotypes of
pneumococcal disease may lead to increased incidence of other serotypes. The
price of the vaccine, although still to be set for developing countries, may be
too high for them to afford without special financing arrangements.

Pertanyaan lanjutan...

Apakah benar bahwa vaksin ini lebih tepatnya 7 serotype yang digunakan pada
Prevenar sesuai dengan serotype di Indonesia..???

Sependek yg saya tahu itu baru akan dilakukan penelitian. Kalau misalnya lebih
spesifik dan lebih sedikit jumlahnya, mungkin bisa diproduksi dengan harga
lebih murah.
Karena pemilihan 7 serotype ini hanya didasarkan pada pemberian di Malaysia,
Singapura, Philiphina dan Australia yang dianggap berdekatan dan memiliki ciri
geografis yang ama dgn Indonesia.

FYI..

Prevenar atau PV7 berisi 7 serotype Streptococcus pneumonia: 4, 6B, 9V, 14,
18C, 19F and 23F.

Yang mungkin perlu diperhatikan adalah bila ada riwayat reaksi alergi terhadap
imunisasi Dipteria (DPT), maka tidak diberikan imunisasi IPD jenis Prevenar
(kontraindikasi), karena dalam Prevenar ada kandungan varian dari Diphteria
toxin (sebagai protein-carrier).[sumber: dr. Tonang Ardyanto Ph.D].


Lebih sedih lagi kenapa harus bayar...????
Di Aussie dan US diberikan gratis.


Mohon pencerahan....

Terima kasih

salam,
ghz


Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita
Selasa, 29 April 2008 | 21:11 WIB
ANGKA kematian bayi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan di seluruh dunia,
Indonesia menduduki rangking keenam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati.
Urutan pertama India dengan angka kematian 44 juta, kedua China dengan angka
kematian 18 juta, ketiga Nigeria dengan angka kematian 7 juta, dan kelima
Bangladesh dengan angka kematian 6 juta bayi.

Kasus kematian bayi di Indonesia ini, menurut Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
disebabkan oleh Invassive Pneumococcus Disease (IPD). Ini adalah sekelompok
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini
memiliki 90 tipe kuman. Yang paling sering menyebabkan IPD adalah ke-7 serotipe
yang normalnya berada di daerah hidung dan tenggorokan dan cepat menyebar
melalui darah dan paling banyak menyerang bayi dan balita dibawah usia 2 tahun.

Spesialis anak, Konsultan Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial ini di Jakarta,
Selasa (29/4) mengatakan, meski bakteri ini ada di rongga hidung dan
tenggorokan semua orang, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Kelompok yang
paling rentan dengan penyakit ini adalah bayi usia di bawah 2 tahun. Ini akibat
dari belum sempurnanya daya tahan tubuh bayi seperti pada anak-anak diatas 5
tahun atau orang dewasa.

Polusi seperti lingkungan asap rokok, lahir prematur, tidak mendapatkan ASI,
hunian yang padat, dan pergantian cuaca merupakan faktor-faktor risiko yang
patut diwaspadai para orangtua, kata Soedjatmiko. Biasanya bayi-bayi yang sudah
terserang IPD bakal rewel. Ini terjadi akibat demam, sesak napas, nyeri yang
terjadi saat bernapas, mual dan muntah.

Penyakit ini cukup membahayakan karena mematikan. Mudah menular melalui
percikan ludah sat bersin, batuk, atau bicara. Karena itu, sebagai pencegahan,
sebaiknya sejak dini, saat bayi berusia dua bulan perlu diberi vaksinasi.
Vaksinasi merupakan upaya preventif terbaik mengingat besarnya angka morbiditas
akibat infeksi pneumokokus, terutama golongan IPD.

Saat ini vaksin pneumokokus konjugasi yang terdiri dari 7 serotipe (PCV-7)
telah menjadi vaksin yang diwajibkan di AS, Australia, Eropa dan Mexico serta
telah digunakan lebih dari 130 juta dosis di seluruh dunia. Vaksin ini telah
diluncurkan di beberapa negara Asia seperti Honkong, Taiwan, Filipina,
Singapura, Malaysia (2005), Indonesia, Pakistan, Thailand, dan India (2006).

Jadual Pemberian vaksin PCV-7 :
1. Usia di bawah 12 bulan diberi 4 dosis, yakni pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6
bulan dan booster pada usia 12-15 bulan.
2. Usia 7 - 11 bulan diberi 3 dosis, 2 dosis pertama dengan interval 4 minggu,
dosis ketiga diberikan setelah usia 12 bulan.
3. Usia 12 - 23 cukup diberi 2 dosis dengan interval 2 bulan.
4. Usia 2 tahun ke atas cukup diberi 1 dosis saja.

Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi lengkap dapat bertahan seumur hidup
karena vaksin ini dapat merangsang pembentukan memori di dalam tubuh.

Sumber : Kompas
Forum Pembaca KOMPAS] Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita => Beberapa hal yg mengganjal pikiran saya
ghozan_gmail
Tue, 29 Apr 2008 23:56:17 -0700
Dear miliser.

Ada artikel yg cukup menarik, menurut saya.

Barangkali juga menarik untuk Anda.

Mohon maaf...ini pikiran bodoh saya saja.

Saya ndak yakin dengan apa yg di sampaikan Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
bahwa penyebab kematian 6jt bayi tersebut adalah IPD.

Saya ndak tahu apakah wartawannya yang salah kutip atau sayanya yang memang
bodoh.

Kalau memang benar penyebabnya IPD tolong sampaikan data epidemiologis secara
detail.

Sependek yg saya tahu th 2006 seorang konsultan WHO beliau menyampaikan bahwa
angka kematian anak akibat infeksi saluran nafas bawah (pneumonia) sangat
rendah...berbeda dengan Afrika misal Sudan.

Data lain :

Dalam laporan tahun 2000, dari kelompok bayi 2-23 bulan di Lombok, angka
infeksi akibat infeksi saluran nafas akut (ISPA) sebesar 58%, dengan angka
kematian 31 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan akibat infeksi sistem syaraf
pusat (CNS) sebesar 17% dengan angka kematian 9 per 1000 kelahiran hidup.
Laporan itu menganjurkan untuk memfokuskan usaha penurunan angka kematian
bayi pada menurunkan kejadian ISPA dan meningitis. Termasuk di dalamnya
mengevaluasi masuknya program HiB dan IPD dalam Program Imunisasi Anjuran di
Indonesia.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=11262765&query_hl=18&itool=pubmed_docsum

Tahun 2001, dilaporkan hasil penelitian di Mataram. Dari sampel 484 anak-anak
yang sehat usia 0-5 bulan di Pulau Lombok, diperoleh prevalensi carrier 48%.
Serotype yang dominan adalah 6, 23, 15, 33, or 12. Untunglah, pada sampel
tersebut, masih cukup sensitif terhadap antibiotika penicillin dan cefotaxime.
Lombok selama ini termasuk kategori carrier pneumococcal tingkat sedang (6).
Meskipun ada laporan lain tahun 1999, resistensi terhadap penisillin pada
Streptococcus pneumonie di wilayah Asia mulai meninggi.

Sumber :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=10451154&query_hl=18&itool=pubmed_docsum


Mengingat...menimbang....harganya yang sangat muahallll...polllll....tentu
sebagai konsumen kesehatan juga saya wajib tahu, seberapa besar manfaatnya.

Apakah benar-benar diperlukan di Indonesia?

Menurut WHO:

It can be difficult to establish the extent of pneumococcal disease as
developing countries often lack the clinical and laboratory facilities, the
expertise, and the resources to do so. As a result, public health
decision-makers are often unaware of the prevalence of the disease and of the
toll it exacts in death and disability. Because of the scarcity of data from
developing countries, there is concern over whether the seven-and nine-valent
vaccines contain the serotypes appropriate for all countries. Concerns remain -
although results to date are encouraging - that prevention of some serotypes of
pneumococcal disease may lead to increased incidence of other serotypes. The
price of the vaccine, although still to be set for developing countries, may be
too high for them to afford without special financing arrangements.

Pertanyaan lanjutan...

Apakah benar bahwa vaksin ini lebih tepatnya 7 serotype yang digunakan pada
Prevenar sesuai dengan serotype di Indonesia..???

Sependek yg saya tahu itu baru akan dilakukan penelitian. Kalau misalnya lebih
spesifik dan lebih sedikit jumlahnya, mungkin bisa diproduksi dengan harga
lebih murah.
Karena pemilihan 7 serotype ini hanya didasarkan pada pemberian di Malaysia,
Singapura, Philiphina dan Australia yang dianggap berdekatan dan memiliki ciri
geografis yang ama dgn Indonesia.

FYI..

Prevenar atau PV7 berisi 7 serotype Streptococcus pneumonia: 4, 6B, 9V, 14,
18C, 19F and 23F.

Yang mungkin perlu diperhatikan adalah bila ada riwayat reaksi alergi terhadap
imunisasi Dipteria (DPT), maka tidak diberikan imunisasi IPD jenis Prevenar
(kontraindikasi), karena dalam Prevenar ada kandungan varian dari Diphteria
toxin (sebagai protein-carrier).[sumber: dr. Tonang Ardyanto Ph.D].


Lebih sedih lagi kenapa harus bayar...????
Di Aussie dan US diberikan gratis.


Mohon pencerahan....

Terima kasih

salam,
ghz


Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita
Selasa, 29 April 2008 | 21:11 WIB
ANGKA kematian bayi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan di seluruh dunia,
Indonesia menduduki rangking keenam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati.
Urutan pertama India dengan angka kematian 44 juta, kedua China dengan angka
kematian 18 juta, ketiga Nigeria dengan angka kematian 7 juta, dan kelima
Bangladesh dengan angka kematian 6 juta bayi.

Kasus kematian bayi di Indonesia ini, menurut Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si
disebabkan oleh Invassive Pneumococcus Disease (IPD). Ini adalah sekelompok
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini
memiliki 90 tipe kuman. Yang paling sering menyebabkan IPD adalah ke-7 serotipe
yang normalnya berada di daerah hidung dan tenggorokan dan cepat menyebar
melalui darah dan paling banyak menyerang bayi dan balita dibawah usia 2 tahun.

Spesialis anak, Konsultan Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial ini di Jakarta,
Selasa (29/4) mengatakan, meski bakteri ini ada di rongga hidung dan
tenggorokan semua orang, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Kelompok yang
paling rentan dengan penyakit ini adalah bayi usia di bawah 2 tahun. Ini akibat
dari belum sempurnanya daya tahan tubuh bayi seperti pada anak-anak diatas 5
tahun atau orang dewasa.

Polusi seperti lingkungan asap rokok, lahir prematur, tidak mendapatkan ASI,
hunian yang padat, dan pergantian cuaca merupakan faktor-faktor risiko yang
patut diwaspadai para orangtua, kata Soedjatmiko. Biasanya bayi-bayi yang sudah
terserang IPD bakal rewel. Ini terjadi akibat demam, sesak napas, nyeri yang
terjadi saat bernapas, mual dan muntah.

Penyakit ini cukup membahayakan karena mematikan. Mudah menular melalui
percikan ludah sat bersin, batuk, atau bicara. Karena itu, sebagai pencegahan,
sebaiknya sejak dini, saat bayi berusia dua bulan perlu diberi vaksinasi.
Vaksinasi merupakan upaya preventif terbaik mengingat besarnya angka morbiditas
akibat infeksi pneumokokus, terutama golongan IPD.

Saat ini vaksin pneumokokus konjugasi yang terdiri dari 7 serotipe (PCV-7)
telah menjadi vaksin yang diwajibkan di AS, Australia, Eropa dan Mexico serta
telah digunakan lebih dari 130 juta dosis di seluruh dunia. Vaksin ini telah
diluncurkan di beberapa negara Asia seperti Honkong, Taiwan, Filipina,
Singapura, Malaysia (2005), Indonesia, Pakistan, Thailand, dan India (2006).

Jadual Pemberian vaksin PCV-7 :
1. Usia di bawah 12 bulan diberi 4 dosis, yakni pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6
bulan dan booster pada usia 12-15 bulan.
2. Usia 7 - 11 bulan diberi 3 dosis, 2 dosis pertama dengan interval 4 minggu,
dosis ketiga diberikan setelah usia 12 bulan.
3. Usia 12 - 23 cukup diberi 2 dosis dengan interval 2 bulan.
4. Usia 2 tahun ke atas cukup diberi 1 dosis saja.

Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi lengkap dapat bertahan seumur hidup
karena vaksin ini dapat merangsang pembentukan memori di dalam tubuh.

Sumber : Kompas






BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia masih juga belum mampu mengatasi tingginya angka kematian ibu (AKI) yang 307 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 35 per 1.000 kelahiran hidup. "Itu berarti setiap tahun ada 13.778 kematian ibu atau setiap dua jam ada dua ibu hamil, bersalin, nifas yang meninggal karena berbagai penyebab," kata Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Prof dr Azrul Azwar MPH.
Angka kematian bayi baru lahir (neonatal) penurunannya lambat, yaitu 28,2 per 1.000 menjadi 20 per 1.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung berkaitan dengan kematian ibu adalah komplikasi pada kehamilan, persalinan, dan nifas yang tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu.

1.2 Tujuan
• Untuk mengetahui populasi penyebab kematian bayi baru lahir.
• Untuk mengetahui cara penanggulangan kematian bayi baru lahir.
• Untuk memenuhi tugas keperawatan komunitas yang telah diberikan.


BAB II
DATA HASIL SURVEY

Dari hasil survei (SKRT 2001) diketahui bahwa komplikasi penyebab kematian ibu yang terbanyak adalah perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (eklampsia), infeksi, partus lama, dan komplikasi keguguran. Angka kematian bayi baru lahir terutama disebabkan oleh antara lain infeksi dan berat bayi lahir rendah. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan kondisi kehamilan, pertolongan persalinan yang aman, dan perawatan bayi baru lahir.
DEPARTEMEN Kesehatan (Depkes) mengungkapkan rata-rata per tahun terdapat 401 bayi baru lahir di Indonesia meninggal dunia sebelum umurnya genap 1 tahun. Data bersumber dari survei terakhir pemerintah, yaitu dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007 (SDKI).
"Rata-rata kematian bayi di Indonesia masih cukup besar. Kewajiban kita semua untuk menguranginya," sebut Kepala Sub Direktorat Bina Kesehatan Depkes, Kirana Pri-tasari, kemarin, di Jakarta.
Berdasarkan survei lainnya, yaitu Riset Kesehatan Dasar Depkes 2007, kematian bayi baru lahir (neonatus) merupakan penyumbang kematian terbesar pada tingginya angka kematian balita (AKB). Setiap tahun sekitar 20 bayi per 1.000 kelahiran hidup terenggut nyawanya dalam rentang waktu 0-12 hari pas-cakelahirannya.
Parahnya, dalam rentang 2002-2007 (data terakhir), angka neonatus tidak pernah mengalami penurunan. Penyebab kematian terbanyak pada periode ini, menurut Depkes, disebabkan oleh sepsis (infeksi sistemik), kelainan bawaan, dan infeksi saluran pemapasan atas.
Selaras dengan target pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), Depkes telah mematok target penurunan AKB di Indonesia dari rata-rata 36 meninggal per 1.000 kelahiran hidup menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup pada 2015.
AKB di indonesia termasuk salah satu yang paling tinggi di dunia. Hal itu tecermin dari perbandingan dengan jumlah AKB di negara tetangga seperti Malaysia yang telah mencapai 10 per 1.000 kelahiran hidup dan Singapura dengan 5 per 1.000 kelahiran hidup.
Kematian balita dan bayi. Pada tahun 1960 angka kematian balita (AKB) masih sangat tinggi yaitu 216 per 1000 kelahiran hidup. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003 menunjukkan terjadinya penurunan AKB hingga mencapai 46 per 1.000 kelahiran hidup pada periode 1998-2002. Rata-rata penurunan AKBA pada dekade 1990-an adalah sebesar 7 persen per tahun, lebih tinggi dari dekade sebelumnya sebesar 4 persen per tahun.
Pada tahun 2000 Indonesia telah mencapai target yang ditetapkan dalam World Summit for Children (WSC) yaitu 65 per 1000 kelahiran hidup.


BAB III
PEMBAHASAN

Kesehatan neonatal dan maternal. Tingginya kematian anak pada usia hingga satu tahun, yaitu sepertiganya terjadi dalam satu bulan pertama setelah kelahiran dan sekitar 80 persen kematian neonatal ini terjadi pada minggu pertama, menunjukkan masih rendahnya status kesehatan ibu dan bayi baru lahir; rendahnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya pada masa persalinan dan segera sesudahnya; serta perilaku (baik yang bersifat preventif maupun kuratif) ibu hamil dan keluarga serta masyarakat yang belum mendukung perilaku hidup bersih dan sehat.
Angka kematian bayi pada kelompok termiskin adalah 61 per 1.000 kelahiran hidup, jauh lebih tinggi daripada golongan terkaya sebesar 17 per 1.000 kelahiran hidup. Penyakit infeksi yang merupakan penyebab kematian balita dan bayi seperti infeksi saluran pernafasan akut, diare dan tetanus, lebih sering terjadi pada kelompok miskin. Rendahnya status kesehatan penduduk miskin ini terutama disebabkan oleh terbatasnya akses terhadap pelayanan karena kendala kendala biaya (cost barrier), geografis dan transportasi.
Perubahan perilaku merupakan penyebab langsung kematian bayi dan balita sebenarnya relatif dapat ditangani secara mudah, dibandingkan upaya untuk meningkatkan perilaku masyarakat dan keluarga yang dapat menjamin kehamilan, kelahiran, dan perawatan bayi baru lahir yang lebih sehat. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memperbaiki perilaku keluarga dan masyarakat, terutama perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk upaya mencari pelayanan kesehatan serta memperbaiki akses, memperkuat mutu manajemen terpadu penyakit bayi dan balita, memperbaiki kesehatan lingkungan termasuk air bersih dan sanitasi, pengendalian penyakit menular, dan pemenuhan gizi yang cukup.


3.1 Definisi
Kematian adalah akhir kehidupan, ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Semua makhluk hidup pada akhirnya mati secara permanen, baik dari penyebab alami seperti penyakit atau dari penyebab tidak alami seperti kecelakaan.
Kematian neonatus(neonatal) yaitu kematian neonatus lahir hidup pada usia gestasi 20 minggu atau lebih. Sedangkan, neonatus lahir hidup adalah salah satu neonatus yang menunjukkan bukti hidup setelah lahir, bahkan bila hanya sementara (pernapasan, denyut jantung, gerakan otot volunter, atau pulsasi dalam korda umbilikalis), dan yang meninggal dalam 28 hari.
Angka Kematian Neo-Natal adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu bulan atau 28 hari, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
Rumus
Dimana:
Angka Kematian Neo-Natal =Angka Kematian Bayi umur 0-<1bulan ∑D 0-<1bulan =Jumlah Kematian Bayi umur 0 - kurang 1 bulan pada satu tahun tertentu di daerah tertentu. ∑lahir hidup = Jumlah Kelahiran hidup pada satu tahun tertentu di daerah tertentu K = 1000 3.2 Penyebab Sebab kematian pada anak. Tiga penyebab utama kematian bayi adalah infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), komplikasi perinatal dan diare. Gabungan ketiga penyebab ini memberi andil bagi 75% kematian bayi. Pada 2001 pola penyebab kematian bayi ini tidak banyak berubah dari periode sebelumnya, yaitu karena sebab-sebab perinatal, kemudian diikuti oleh infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), diare, tetanus neotarum, saluran cerna, dan penyakit saraf.Pola penyebab utama kematian balita juga hampir sama yaitu penyakit saluran pernafasan, diare, penyakit syaraf – termasuk meningitis dan encephalitis – dan tifus. 1. Faktor Ibu a. Masa Kehamilan • ANC • Infeksi ibu hamil : rubela, sifilis, gonorhoe, malaria • Gizi ibu hamil • Karakteristik ibu hamil : umur, paritas, jarak b. Persalinan • Partus macet/ lama : letak sunsang, bayi kembar, distocia • Tenaga Penolong Kehamilan 2. Faktor Janin • Umur 0 – 7 hari : BBLR, Asfiksia • Umur 8 – 28 hari : pneumonia, diare, tetanus, sepsis, kelainan kogenital 3.3 Pencegahan Angka kematian bayi baru lahir dapat dicegah dengan intervensi lingkungan dan perilaku. Upaya penyehatan lingkungan seperti penyediaan air minum, fasilitas sanitasi dan higienitas yang memadai, serta pengendalian pencemaran udara mampu meredam jumlah bayi meninggal. "Untuk itu pemerintah tidak lelah mengampanyekan pentingnya upaya kesehatan lingkungan dan perilaku hidup sehat”. Perawatan sederhana seperti pemberian air susu ibu (ASI) dapat menekan AKB. Telah terbukti, pemberian ASI eksklusif dapat mencegah 13% kematian bayi dan bahkan 19/0 jika dikombinasikan dengan makanan tambahan bayi setelah usia 6 bulan. 3.4 Cara penanggulangan Dari gambaran penyakit penyebab kematian neonatal di Indonesia, dan permasalahan kesehatan neonatal yang kompleks dimana dipengaruhi oleh faktor medis, sosial dan budaya (sama dengan permasalahan kesehatan maternal) maka: 1. Bidan di desa atau petugas kesehatan harus mampu melakukan: • perawatan terhadap bayi neonatal, • promosi perawatan bayi neonatal kepada ibunya, serta • pertolongan pertama bayi neonatal yang mengalami gangguan atau sakit. 2. Kepala Puskesmas dan jajarannya mempunyai komitmen yang tinggi dalam melaksanakan: • Deteksi dan penanganan bayi neonatal sakit • Persalinan yang ditolong/didampingi oleh tenaga kesehatan • Pembinaan bidan di desa dan pondok bersalin di desa • PONED dengan baik dan lengkap (obat, infus, alat-alat emergensi) • Organisasi transportasi untuk kasus rujukan 3. Kepala Dinkes Dati II dan atau RS Dati II dan jajarannya mempunyai komitmen yang tinggi dalam melaksanakan: • Fungsi RS Dati II sebagai PONEK 24 jam • Sistem yang tertata sehingga memberi kesempatan kepada keluarga bayi neonatal dari golongan tidak mampu untuk mendapatkan pelayanan standar, termasuk pertolongan gawat darurat di RS Dati II dengan biaya terjangkau • Pelayanan berkualitas yang berkesinambungan • Pembinaan teknis profesi kebidanan untuk bidan yang bekerja Puskesmas/desa melalui pelatihan, penyegaran pengetahuan dan keterampilan, penanganan kasus rujukan. 4. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan neonatal emergency care di Puskesmas dan RS Dati II. BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Angka Kematian Neo-Natal adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu bulan atau 28 hari, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Sebab kematian pada anak. Tiga penyebab utama kematian bayi adalah infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), komplikasi perinatal dan diare. Gabungan ketiga penyebab ini memberi andil bagi 75% kematian bayi. Pada 2001 pola penyebab kematian bayi ini tidak banyak berubah dari periode sebelumnya, yaitu karena sebab-sebab perinatal, kemudian diikuti oleh infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), diare, tetanus neotarum, saluran cerna, dan penyakit saraf.Pola penyebab utama kematian balita juga hampir sama yaitu penyakit saluran pernafasan, diare, penyakit syaraf – termasuk meningitis dan encephalitis – dan tifus. Perubahan perilaku merupakan penyebab langsung kematian bayi dan balita sebenarnya relatif dapat ditangani secara mudah, dibandingkan upaya untuk meningkatkan perilaku masyarakat dan keluarga yang dapat menjamin kehamilan, kelahiran, dan perawatan bayi baru lahir yang lebih sehat. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memperbaiki perilaku keluarga dan masyarakat, terutama perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk upaya mencari pelayanan kesehatan serta memperbaiki akses, memperkuat mutu manajemen terpadu penyakit bayi dan balita, memperbaiki kesehatan lingkungan termasuk air bersih dan sanitasi, pengendalian penyakit menular, dan pemenuhan gizi yang cukup. 4.2 Saran Meningkatkan mutu dan pelayanan kesehatan masyarakat baik dari masyarakat menengah keatas dan khususnya masyarakat menengah ke bawah. Oleh karena itu diharapkan seluruh elemen masyarakat menyadari tentang status kesehatan ibu dan bayi, dll. Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Artikel ini tidak memiliki referensi sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa diverifikasi. Bantulah memperbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Artikel yang tidak dapat diverifikasikan dapat dihapus sewaktu-waktu oleh Pengurus. Tag ini diberikan tanggal 3 Juni 2010 Seorang bayi Bayi merupakan manusia yang baru lahir sampai umur 12 bulan, namun tidak ada batasan yang pasti. Pada masa ini manusia sangat lucu dan menggemaskan tetapi juga rentan terhadap kematian. Kematian bayi dibagi menjadi dua, kematian neonatal (kematian di 27 hari pertama hidup), dan post-neonatal (setelah 27 hari). Pemberian makanan dilakukan dengan penetekan atau dengan susu industri khusus. Bayi memiliki insting menyedot, yang membuat mereka dapat mengambil susu dari buah dada. Bila sang ibu tidak bisa menyusuinya, atau tidak mau, formula bayi biasa digunakan di negara-negara Barat. Di negara lain ada yang menyewa "perawat basah" (wet nurse) untuk menyusui bayi tersebut. Bayi tidak mampu mengatur pembuangan kotorannya, oleh karena itu digunakanlah popok. Popok yang digunakan bayi bisa berupa popok kain biasa atau popok sekali pakai (diapers). Dewasa ini, popok sekali pakai menjadi lebih populer penggunaannya dibandingkan popok kain biasa karena lebih praktis dan tidak terlalu merepotkan. Namun, masalah baru yang utamanya timbul akibat pemakaian popok sekali pakai adalah masalah ruam popok. Kulit bayi yang masih sensitif lebih sering tertutup dan menjadi sulit bernafas sehingga memungkinkan timbulnya masalah ruam dan iritasi pada kulit bayi. Meskipun masalah ruam popok merupakan masalah yang biasa terjadi, namun bila dibiarkan begitu saja tanpa penanganan yang tepat bisa timbul masalah yang cukup serius seperti peradangan dan infeksi kulit bayi. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Bayi Berat Lahir Rendah a. Faktor Ibu 1) Gizi saat hamil yang kurang Kekurangan gizi selama hamil akan berakibat buruk terhadap janin. Penentuan status gizi yang baik yaitu dengan mengukur berat badan ibu sebelum hamil dan kenaikkan berat badan selama hamil. Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia. Intra partum (mati dalam kandungan) lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Pertambahan berat badan selama kehamilan rata-rata 0,3-0,5 kg/ minggu. Bila dikaitkan dengan usia kehamilan, kenaikan berat badan selama hamil muda 5 kg, selanjutnya tiap trimester (II dan III) masing-masing bertambah 5 kg. Pada akhir kehamilan, pertambahan berat badan total adalah 9-12 kg. Bila terdapat kenaikan berat badan yang berlebihan, perlu dipikirkan adanya risiko bengkak, kehamilan kembar, hidroamnion, atau anak besar. Indikator lain untuk mengetahui status gizi ibu hamil adalah dengan mengukur LLA. LLA adalah Lingkar Lengan Atas. LLA kurang dari 23,5 cm merupakan indikator kuat untuk status gizi yang kurang/ buruk. Ibu berisiko untuk melahirkan anak dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Dengan demikian, bila hal ini ditemukan sejak awal kehamilan, petugas dapat memotivasi ibu agar ia lebih memperhatikan kesehatannya (Hidayati, 2009). 2) Umur Berat badan lahir rendah juga berkolerasi dengan usia ibu. Persentase tertinggi bayi dengan berat badan lahir rendah terdapat pada kelompok remaja dan wanita berusia lebih dari 40 tahun. Ibu-ibu yang terlalu muda seringkali secara emosional dan fisik belum matang, selain pendidikan pada umumnya rendah, ibu yang masih muda masih tergantung pada orang lain. Kelahiran bayi BBLR lebih tinggi pada ibu-ibu muda berusia kurang dari 20 tahun. Remaja seringkali melahirkan bayi dengan berat lebih rendah. Hal ini terjadi karena mereka belum matur dan mereka belum memiliki sistem transfer plasenta seefisien wanita dewasa. Pada ibu yang tua meskipun mereka telah berpengalaman, tetapi kondisi badannya serta kesehatannya sudah mulai menurun sehingga dapat mempengaruhi janin intra uterin dan dapat menyebabkan kelahiran BBLR. Faktor usia ibu bukanlah faktor utama kelahiran BBLR, tetapi kelahiran BBLR tampak meningkat pada wanita yang berusia di luar usia 20 sampai 35 tahun. 3) Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik, persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan baik. Ibu yang melahirkan anak dengan jarak yang sangat berdekatan (di bawah dua tahun) akan mengalami peningkatan resiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester III, termasuk karena alasan plasenta previa, anemia dan ketuban pecah dini serta dapat melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. 4) Paritas ibu Anak lebih dari 4 dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin sehingga melahirkan bayi dengan berat lahir rendah dan perdarahan saat persalinan karena keadaan rahim biasanya sudah lemah. 5) Penyakit menahun ibu a) Asma bronkiale: Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan, karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen (O2) atau hipoksia. Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin, dan sering terjadi keguguran, persalinan premature atau berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan (gangguan pertumbuhan janin). b) Infeksi saluran kemih dengan bakteriuria tanpa gejala (asimptomatik): Frekuensi bakteriuria tanpa gejala kira-kira 2 – 10%, dan dipengaruhi oleh paritas, ras, sosioekonomi wanita hamil tersebut. Beberapa peneliti mendapatkan adanya hubungan kejadian bakteriuria dengan peningkatan kejadian anemia dalam kehamilan, persalinan premature, gangguan pertumbuhan janin, dan preeklampsia. c) Hipertensi: Penyakit hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler yang terjadi sebelum kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada permulaan persalinan, hipertensi dalam kehamilan menjadi penyebab penting dari kelahiran mati dan kematian neonatal. Ibu dengan hipertensi akan menyebabkan terjadinya insufisiensi plasenta, hipoksia sehingga pertumbuhan janin terhambat dan sering terjadi kelahiran prematur. Hipertensi pada ibu hamil merupakan gejala dini dari pre-eklamsi, eklampsi dan penyebab gangguan pertumbuhan janin sehingga menghasilkan berat badan lahir rendah. 6) Gaya hidup Konsumsi obat-obatan pada saat hamil: Peningkatan penggunaan obat-obatan (antara 11% dan 27% wanita hamil, bergantung pada lokasi geografi) telah mengakibatkan makin tingginya insiden kelahiran premature, BBLR, defek kongenital, ketidakmampuan belajar, dan gejala putus obat pada janin (Bobak, 2004). Konsumsi alkohol pada saat hamil: Penggunaan alkohol selama masa hamil dikaitkan dengan keguguran (aborsi spontan), retardasi mental, BBLR dan sindrom alkohol janin. b. Faktor kehamilan 1) Komplikasi Hamil a) Pre-eklampsia/ Eklampsia: Pre-eklampsia/ Eklampsia dapat mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan janin dalam kandungan atau IUGR dan kelahiran mati. Hal ini disebabkan karena Pre-eklampsia/ Eklampsia pada ibu akan menyebabkan perkapuran di daerah plasenta, sedangkan bayi memperoleh makanan dan oksigen dari plasenta, dengan adanya perkapuran di daerah plasenta, suplai makanan dan oksigen yang masuk ke janin berkurang. b) Ketuban Pecah Dini Ketuban dinyatakan pecah sebelum waktunya bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Ketuban Pecah Dini (KPD) disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran yang diakibatkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Pada persalinan normal selaput ketuban biasanya pecah atau dipecahkan setelah pembukaan lengkap, apabila ketuban pecah dini, merupakan masalah yang penting dalam obstetri yang berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi ibu. 2) Hidramnion Hidramnion atau kadang-kadang disebut juga polihidramnion adalah keadaan di mana banyaknya air ketuban melebihi 2000 cc. Gejala hidramnion terjadi semata-mata karena faktor mekanik sebagai akibat penekanan uterus yang besar kepada organ-organ seputarnya. Hidramnion harus dianggap sebagai kehamilan dengan risiko tinggi karena dapat membahayakan ibu dan anak. Prognosis anak kurang baik karena adanya kelainan kongenital, prematuritas, prolaps funikuli dan lain-lain. 3) Hamil ganda/ Gemeli Berat badan janin pada kehamilan kembar lebih ringan daripada janin pada kehamilan tunggal pada umur kehamilan yang sama. Sampai kehamilan 30 minggu kenaikan berat badan janin kembar sama dengan janin kehamilan tunggal. Setelah itu, kenaikan berat badan lebih kecil, mungkin karena regangan yang berlebihan menyebabkan peredaran darah plasenta mengurang. Berat badan satu janin pada kehamilan kembar rata-rata 1000 gram lebih ringan daripada janin kehamilan tunggal. Berat badan bayi yang baru lahir umumnya pada kehamilan kembar kurang dari 2500 gram. Suatu faktor penting dalam hal ini ialah kecenderungan terjadinya partus prematurus. 4) Perdarahan Antepartum Perdarahan antepartum merupakan perdarahan pada kehamilan diatas 22 minggu hingga mejelang persalinan yaitu sebelum bayi dilahirkan (Saifuddin, 2002). Komplikasi utama dari perdarahan antepartum adalah perdarahan yang menyebabkan anemia dan syok yang menyebabkan keadaan ibu semakin jelek. Keadaan ini yang menyebabkan gangguan ke plasenta yang mengakibatkan anemia pada janin bahkan terjadi syok intrauterin yang mengakibatkan kematian janin intrauterin (Wiknjosastro, 1999 : 365). Bila janin dapat diselamatkan, dapat terjadi berat badan lahir rendah, sindrom gagal napas dan komplikasi asfiksia. c. Faktor janin 1) Cacat Bawaan (kelainan kongenital) Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongenital, umumnya akan dilahirkan sebagai Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) atau bayi kecil untuk masa kehamilannya. Bayi Berat Lahir Rendah dengan kelainan kongenital yang mempunyai berat kira-kira 20% meninggal dalam minggu pertama kehidupannya (Wiknjosastro, 2007). 2) Infeksi Dalam Rahim Infeksi hepatitis terhadap kehamilan bersumber dari gangguan fungsi hati dalam mengatur dan mempertahankan metabolisme tubuh, sehingga aliran nutrisi ke janin dapat terganggu atau berkurang. Oleh karena itu, pengaruh infeksi hepatitis menyebabkan abortus atau persalinan prematuritas dan kematian janin dalam rahim. Wanita hamil dengan infeksi rubella akan berakibat buruk terhadap janin. Infeksi ini dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah, cacat bawaan dan kematian janin.By Dr.Dian, diambil dari berbagai sumber Penyakit Penyebab Kematian Bayi Baru Lahir (Neonatal) dan Sistem Pelayanan Kesehatan yang Berkaitan di Indonesia Creator Sarimawar Djaja Publisher JKPKBPPK - Universitas Komputer Indonesia Contributor Subject mortality; neonatal; Sistem Pelayanan Kesehatan, surkesnas, skrt Copyright Published 2003-03-05 11:53:00 Source URL http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jkpkbppk-gdl-res-2003-sarimawar-881-neonatal Abstract Di Indonesia, program kesehatan bayi baru lahir tercakup di dalam program kesehatan ibu. Dalam rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer, target dari dampak kesehatan untuk bayi baru lahir adalah menurunkan angka kematian neonatal dari 25 per 1000 KH (tahun 1997) menjadi 15 per 1000 KH. Sehubungan dengan tersedianya data studi mortalitas SKRT 2001, beberapa informasi mengenai kematian bayi baru lahir (neonatal) dapat dipertimbangkan sebagai informasi untuk kegiatan-kegiatan program dalam menurunkan kesakitan dan kematian bayi baru lahir di Indonesia.
Rancangan penelitian adalah cross-sectional dari data mortalitas SKRT 2001 yang berintegrasi dengan Susenas 2001. Rancangan sampel dari Susenas 2001 dipakai sebagai rancangan sampel studi mortalitas SKRT 2001. Sampling Susenas 2001 berdasarkan prosedur PPS (Probability Proportional to Size) selection dari blok sensus terpilih. Untuk setiap blok sensus terpilih diambil secara systematic random sampling sebesar 16 rumah tangga. Jumlah rumah tangga terpilih adalah sebesar 211.168 rumah tangga dengan 3677 kasus kematian.
Sampel adalah semua data mortalitas yang memenuhi syarat penelitian yaitu: kasus kematian bayi berumur 0-28 hari yang terjadi pada tahun 2000, telah diidentifikasi secara lengkap oleh dokter pewawancara dengan teknik autopsi verbal, dan merupakan underlying cause of death yang diklasifikasikan menurut International Classification of Diseases 10 (ICD-10).
Dari hasil SKRT 2001, kematian neonatal adalah 180 kasus. Kasus lahir mati berjumlah 115 kasus. Jumlah seluruh kematian bayi adalah 466 kasus. Distribusi kematian neonatal sebagian besar di wilayah Jawa Bali (66,7%) dan di daerah pedesaan (58,6%). Menurut umur kematian, 79,4% dari kematian neonatal terjadi sampai dengan usia 7 hari, dan 20,6% terjadi pada usia 8-28 hari.
Proporsi kematian neonatal sebesar 39% dari seluruh kematian bayi (N=466). Rasio kematian postneonatal dan neonatal adalah 1,58. Rasio tersebut sama nilainya dengan rasio hasil SKRT 1995. Pola ini tidak lazim seperti umumnya di negara berkembang pada kondisi tahun 1999, dimana dua per tiga dari kematian bayi terjadi pada masa neonatal. Kemungkinan kejadian kematian bayi pada usia terlalu dini cenderung dilupakan perlu dipertimbangkan sebagai salah satu sebab rendahnya pelaporan kasus kematian. Rasio kematian postneonatal dan neonatal sangat dipengaruhi oleh keberhasilan program imunisasi dan manajemen penanggulangan bayi sakit. Apabila pencapaian program berhasil, maka proporsi kematian postneonatal akan menurun, sedangkan proporsi kematian neonatal akan meningkat.
Dari hasil studi mortalitas SKRT menunjukkan bahwa angka kematian bayi karena pnemonia dan diare masih cukup tinggi. Menurut karakteristik perawatan ibu ketika hamil dan bersalin, perawatan antenatal yang diterima ketika bayi masih dalam kandungan, sebagian besar dari neonatal yang meninggal mendapatkan pemeriksaan 4 kali atau lebih (60,8%), pada usia kandungan trimester pertama telah diperiksa (64,6%) dan mendapatkan perlindungan terhadap tetanus secara lengkap (53%). Kehadiran tenaga kesehatan pada saat melahirkan berkaitan dengan penurunan kematian maternal dan perinatal 3, penolong persalinan oleh nakes 57 persen, dukun sebesar 40 persen. Sebagian besar kematian neonatal dilahirkan di rumah yaitu 54,2 persen dan melalui proses persalinan secara normal sebesar 88,9 persen. Delapan persen bayi yang dilahirkan melalui bedah Caesar meninggal pada masa neonatal.
Menurut karakteristik kesehatan ibu sebelum dan ketika hamil, kematian neonatal banyak terjadi pada kelompok umur 20-39 tahun, pada anak pertama, dan pada ibu dengan paritas 3 ke atas. Banyak studi menunjukkan bahwa kehamilan ke dua dan ketiga adalah paling tidak menyulitkan, sedangkan komplikasi meningkat setelah anak ke tiga. Sebagian besar dari kematian neonatal ibunya tidak mengalami komplikasi ketika hamil. Di antara ibu yang mengalami gangguan kesehatan ketika hamil, kematian neonatal terjadi pada 7,5% ibu yang menderita anemi.
Dari hasil studi SKRT ibu yang menderita infeksi ketika hamil sebesar 4,6 persen. Ibu yang menderita infeksi ketika hamil dapat menyebabkan dampak yang besar terhadap ibu sendiri maupun janin dan bayi neonatal seperti cacat congenital (infeksi rubella), aborsi spontan atau fetal death (infeksi sifiliis), infeksi neonatal (gonorrhoea atau infeksi streptococcus group B), berat bayi lahir rendah (malaria).
Menurut karakteristik perawatan bayi baru lahir, hanya sekitar 26,7% bayi neonatal yang dibawa berobat. Pengobatan terbanyak ke rumah sakit 8,3%, sedangkan ke puskesmas 5,5%. Sekitar 6% bayi neonatal dibawa ke pengobat tradisional. Sebagian besar bayi neonatal meninggal di rumah yaitu 54,2%. Di antara yang meninggal di fasilitas kesehatan, 38,5% meninggal di rumah sakit dan 1,1% meninggal di puskesmas/poliklinik.
Pola penyakit penyebab kematian menunjukkan bahwa proporsi penyebab kematian neonatal kelompok umur 0-7 hari tertinggi adalah premature dan berat badan lahir rendah/LBW (35%), kemudian asfiksia lahir (33,6%). Penyakit penyebab kematian neonatal kelompok umur 8-28 hari tertinggi adalah infeksi sebesar 57,1% (termasuk tetanus, sepsis, pnemonia, diare), kemudian feeding problem (14,3%).
Berat badan lahir rendah (kurang dari 2500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kematian perinatal dan neonatal. Berat badan lahir rendah (BBLR) dibedakan dalam 2 katagori yaitu: BBLR karena premature (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR) yaitu bayi cukup bulan tetapi berat kurang untuk usianya. Banyak BBLR di negara berkembang dengan IUGR sebagai akibat ibu dengan status gizi buruk, anemi, malaria, dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau ketika hamil, namun dari hasil survei proporsi kematian BBLR dengan IUGR hanya 1,4%.
Infeksi sebagai penyebab kematian neonatal masih banyak dijumpai. Infeksi ini termasuk tetanus neonatorum, sepsis, pnemoni. Masih sekitar 12 negara dengan estimasi kasus neonatal tetanus yang tinggi termasuk di Indonesia. Proporsi kematian karena tetanus neonatorum hasil survei menunjukkan tertinggi di antara penyakit infeksi (9,5%). Case fatality rate tetanus sangat tinggi. Pengobatannya sulit, namun pencegahan (imunisasi TT ibu hamil) merupakan kunci untuk menurunkan kematian ini, selain persalinan bersih dan perawatan tali pusat yang tepat.
Cacat lahir merupakan salah satu penyebab kematian neonatal yang penting di negara berkembang, diperkirakan sekitar 10 persen. Dari hasil survei dijumpai sebesar 7,3 persen kematian akibat cacat lahir.
Dari gambaran penyakit penyebab kematian neonatal di Indonesia, dan permasalahan kesehatan neonatal yang kompleks dimana dipengaruhi oleh faktor medis, sosial dan budaya (sama dengan permasalahan kesehatan maternal) maka:
1. Bidan di desa atau petugas kesehatan harus mampu melakukan: