Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Saturday, January 8, 2011

Suku Madura

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/13309148/SukuMadura.docx.html


Suku Madura
Jumlah populasi
6.8 million (2000 census)[1]

Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan
Jawa Timur: 6.281.000.
Kalimantan Barat: 204.000.
Kalimantan Tengah: 62.000.

Bahasa
Madura, Jawa dan Indonesia.

Agama
Sebagian besar Islam dan sebuah minoritas kecil ada yang beragama Kristen.

Kelompok etnis terdekat
suku Jawa dan suku Melayu.

Suku Madura merupakan etnis dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 6,8 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, orang Madura tinggal di bagian timur Jawa Timur, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa Jawa.
Disamping suku Jawa dan Sunda, orang Madura juga banyak yang bertransmigrasi ke wilayah lain terutama ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Beberapa kota di Kalimantan seperti Sampit dan Sambas, pernah terjadi kerusuhan etnis yang melibatkan orang Madura. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang, terutama besi tua dan barang-barang bekas lainnya. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan dan buruh.
Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang temperamental dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja. Untuk naik haji, orang Madura sekalipun miskin pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan larung sesaji).
Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura.


Suku Madura di Tanah Impian
Sudah hampir dua bulan kerusuhan etnis antara suku Madura dan Dayak di Kalimantan Barat berlangsung. Belum diketahui bagaimana penyelesaiannya. Proses relokasi masih menemui banyak hambatan, sementara prospek persandingan mereka secara damai di masa mendatang juga masih kabur. Rona kali ini mencoba memotret realita sosial orang Madura di Sambas. Pahrian G. Siregar, koresponden Panji di Pontianak, menghadirkan penelusurannya ihwal orang Madura di Sambas, dilengkapi hasil pengamatan fotografer Panji A. Satari di tempat-tempat penampungan, dan wawancara wartawan Panji Iqbal Setyarso dengan tokoh Madura di Jakarta.
Stadion sepakbola Pontianak. Para pengungsi Madura itu tampak "berserakan"--tak ubahnya barang-barang jamaah haji di embarkasi. Tak ada tenda. Untuk menghindari sinar matahari dan kemungkinan air hujan, mereka menempati tribun tempat duduk penonton (terbuat dari semen) yang beratap dan di bawah tirisan di emperan luar stadion. Sebagai alas, mereka gelar tikar--tanpa kasur.
Memasuki "rumah-rumah" mereka beberapa pekan lalu, Panji segera disergap bau tak sedap. Ini mungkin dari bau makanan yang tercecer, berbaur dengan bau keringat dan pakaian mereka. Maklum, pasokan air dari PDAM tak mencukupi, sementara banyak dari mereka yang tak membawa pakaian ganti.
Siang itu mereka duduk-duduk sambil bercengkerama atau tiduran, menunggu waktu makan siang. Ada pula yang mencuci pakaian di beberapa fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) yang dibikin di tengah lapangan dari triplek. Sebagian lagi mengipasi anggota keluarga yang sedang sakit. Tinggal di tempat terbuka seperti itu, dengan sanitasi yang buruk, membuat penyakit setia mengunjungi mereka. Apalagi orang Madura sudah terbiasa tidur dengan bertelanjang dada.
Memang, tidak semua pengungsi menampakkan wajah sedih. Lihatlah anak-anak itu. Begitu ceria mereka. Bermain main layang-layang, main dorong-dorong ban mobil, atau membantu orangtua mereka mencari kayu bakar. Mungkin akal kekanakan mereka tak mampu merasakan penderitaan yang dialami orangtuanya. Banyak dari pengungsi yang memasak sendiri, dengan kayu bakar atau kompor. Terutama yang punya anak kecil. Anak-anak kecil kan tidak tahan menunggu makan sampai pukul 14.00. Tapi, tidak semua pengungsi keadaannya mengenaskan seperti itu. Yang ditempatkan di asrama haji masih lebih beruntung. Di sana ada ranjang dan kasur, ada pula posko kesehatan yang dibuat mahasiswa.
Begitu pula yang ditampung di Wajo. Di daerah ini didirikan sekitar 17 barak dari triplek, masing-masing dihuni 200 orang. Yang di stadion tertutup juga bisa dikatakan lebih beruntung karena mereka bisa terhindar dari tusukan angin malam, terik matahari atau tempias air hujan. Namun, alamak, betapa pengapnya tempat ini. Maklum, jumlah pengungsi jauh lebih banyak melebihi daya tampung. Dan, baunya, wow! lebih menyengat dari yang di stadion.
Kembali ke stadion terbuka tadi. Akhirnya, pada pukul 13.00, yang mereka tunggu-tunggu datang juga. Tak lain adalah mobil pikap pengangkut makanan milik Depsos. Serentak para kepala keluarga berbaris, membawa apa saja untuk mewadahi makanan: ember, panci atau lainnya. Selanjutnya adalah pemandangan makan siang yang, celakanya, di situ pun menunjukkan "perbedaan kelas". Yang sudah mendapat pembagian piring bisa membagi makanan jatah itu ke dalam piring. Tapi, bagi yang belum beruntung, ya terpaksa mengeroyok makanan di satu wadah.
Itulah pemandangan dari sisa-sisa kerusuhan antaretnis di Sambas yang pecah hampir dua bulan lalu. Mereka yang masih berpeluk derita itu adalah orang-orang yang belum sanggup hengkang ke Madura. Yang masih ada di pos pengungsian kebanyakan sudah tak punya tanah atau sanak keluarga di Madura. Karena memang mereka lahir dan besar di Kalimantan Barat.
Tak sedikit yang mencari rumah kontrakan dan melibatkan diri dalam kegiatan informal di sekitar kota Pontianak. Namun yang lain, yang belum bisa mandiri, terpaksa mengemis di pasar-pasar. Tak sedikit pula yang sudah berikhtiar mencari penghidupan secara layak, di dalam ataupun di luar penampungan. Barak-barak di Wajo, misalnya, dibangun dengan menggunakan tenaga para pengungsi sendiri yang dibayar harian. "Banyak di antara kawan-kawan saya yang bekerja bangunan atau proyek padat karya. Ada beberapa orang teman wanita yang diambil jadi pembantu oleh keluarga," tutur Edo, ketua Resah (Remaja Asrama Haji) Pontianak. Kegiatan ini harus dilakukan karena hanya pasokan bahan makanan dari Depsos yang tetap rutin mengalir, sedangkan sumbangan donatur yang pada awal-awal gelombang eksodus lumayan besar, makin hari makin menipis.
Manusia Ulet. Para pengungsi ini mungkin tak pernah menyangka bakal mengalami nasib seperti itu. Semua milik mereka tercerabut: rumah, harta benda, lahan pertanian, binatang ternak, bahkan juga banyak anggota keluarga. H. Ismail, misalnya, terpaksa meninggalkan rumah seluas 250 meter persegi berikut segala isinya, kebun seluas 30 borong, dan puluhan sapi, hasil jerih payahnya selama hampir 50 tahun. "Kini semua sudah habis hanya tinggal sehelai baju di badan. Serban ini saya peroleh dari warga di sini," tuturnya di penampungan asrama haji Pontianak.
Sejarah etnis Madura di Kalimantan Barat adalah sejarah sukses orang perantauan. "Pendatang yang sukses biasanya lebih makmur daripada penduduk asli. Ini berlaku bagi pendatang dari mana saja. Apakah itu Madura, Cina, Arab atau India," tulis Amir Santoso, dosen UI Jakarta yang berdarah Madura. Tentu saja tidak semua orang Madura di Kalbar sukses. Ada pula yang menjadi preman, seperti halnya kelompok-kelompok masyarakat lainnya.
Yang pasti, orang Madura dikenal sebagai suku perantau, seperti halnya orang Minang, Bugis, dan suku perantau lainnya. Mungkin didorong oleh keadaan geologis Pulau Madura yang gersang, mereka juga dikenal memiliki etos kerja dan ulet dalam berusaha. Sebagai pekerja, mereka dikenal patuh, mau bekerja keras, dan tak banyak protes. Setidaknya, begitulah kira-kira persepsi pemerintah kolonial Belanda dulu. Itu sebabnya mereka dipilih untuk dipekerjakan di perkebunan di banyak tempat. Begitulah yang terjadi di Kalbar pada sekitar 1902. Waktu itu banyak dari mereka yang dikirim ke sana sebagai kuli kontrak di perkebunan dalam perdagangan budak yang terselubung. Itulah titik awal sejarah keberadaan etnis Madura di Kalimantan Barat.
Gelombang migrasi terjadi lagi pada 1930-an. Menurut catatan Grader yang dikutip Biljmer, kala itu terjadi penjualan tenaga (etnis Madura) ke Kalbar dan Kalsel (Martapura). Karena banyak orang Madura yang berhasil di daerah baru, ditambah transportasi makin lancar, kian banyak saja orang Madura yang hijrah ke "daerah impian" itu pada 1950-an.
Sejak saat itu, dari tahun ke tahun arus migrasi makin besar, lebih-lebih pada masa Orde Baru. "Kebanyakan yang datang ke Kalbar adalah orang-orang dari Bangkalan, sisanya dari Sampang. Walau di beberapa tempat kita jumpai pula orang Madura lainnya," ujar Drs. Abdus Syukur, pemuka masyarakat Madura Kalbar dan wakil ketua PWNU Kalbar. Mereka berangkat menggunakan kapal kayu dari Pelabuhan Telaga Biru, Bangkalan.
H. Ismail termasuk yang datang pada 1950-an bersama kawan-kawan sebayanya dengan perahu kayu. Di tempat baru ini kerja kasar macam apa pun dilakoninya. Mulai dari menggali parit, membuka hutan, memecah batu sampai mencangkul. Hasil kerja kasarnya itu dia tabung, lalu dibelikan sapi, hingga bisa menunaikan ibadah haji pada 1992. "Lima ekor sapi untuk membiayai keberangkatan, lima ekor untuk selamatan," jelas H. Ismail. Dari sapi-sapi itu pula ia kemudian berhasil membangun rumah dan membeli perkebunan.
Berbagai lapangan kerja memang digeluti oleh para pendatang baru ini. Di pedesaan kebanyakan bertani, plus memelihara sapi sebagai tambahan pendapatan. Ada pula yang bekerja sebagai penambang emas, penebang kayu, dan pemecah batu. Sementara yang di kota, sebagian besar bekerja di sektor informal seperti menjadi penarik becak, pengayuh sampan, sopir oplet, pemulung sampai penjual sate.
Sejarah Konflik. Di samping sifat-sifat positif tadi, mereka juga memiliki beberapa kelemahan, khususnya dalam hal watak yang cenderung temperamental. Mereka juga sangat teguh memegang prinsip dan tradisi, dalam bentuknya yang positif ataupun negatif--meski bukannya mereka sama sekali tak mau berbaur dengan budaya setempat. Gara-gara hal sepele mereka bisa langsung angkat senjata, terutama kalau menyangkut kehormatan diri. Hal ini tak terlepas dari pandangan hidup orang Madura, ango’an potea tolang, e tembhang pote mata (lebih baik berputih tulang daripada berputih mata), yang maksudnya mereka lebih baik mati daripada terhina. Kondisi alam dan topografi di Kalbar yang tidak bersahabat telah menempa mereka menjadi kian tangguh, ulet, pantang menyerah, juga keras. Kebetulan, di Kalbar ini berdiam pula suku Dayak yang dikenal keras.
Benturan pun acap terjadi di antara mereka. Yang tertua terjadi di Sukadana, Kabupaten Ketapang, pada 1933. Kejadiannya bermula ketika 25 orang Madura yang akan diperdagangkan sebagai tenaga kerja "memberontak" pada juragan perahu yang akan menjualnya. Atas bantuan etnis Dayak, migran Madura dapat ditangkap kembali. Sebagai tanda terima kasih dan perikatan persaudaraan, seorang gadis Madura dikawini orang Dayak setempat.
Tapi kemudian konflik demi konflik terjadi lagi, setidaknya hingga 10 kali. Ini menurut sebagian pengamat, karena proses sosialisasi berjalan tak sesuai harapan. Pada pola hubungan Melayu-Dayak, terdapat banyak konflik kecil tetapi tidak pernah sampai memuncak. "Ini bisa diselesaikan melalui pengungkapan kembali tradisi lisan atau cerita rakyat yang menyatakan sesungguhnya mereka bersaudara," tutur Stephanus Djuweng, direktur IDRD/Dayakologi. Kondisi serupa juga ditemui pada potensi konflik lainnya seperti Dayak-Cina, Melayu-Cina, Melayu-Jawa, atau Dayak-Jawa.
Tradisi lisan maupun cerita rakyat yang mempertautkan Madura dan Dayak belum terbangun. Ini karena hadirnya masyarakat Madura di Kalbar pada umumnya relatif baru. Pada 1902-an di Kalbar sudah masuk budaya tulis. Akibatnya, orang tidak sempat merekonstruksi cerita rakyat yang menghubungkan masyarakat Madura dan etnis lainnya," ucap Djuweng. Karena itu, kalau terjadi benturan horisontal, secara kultural belum ada "titik kembali".
Sebenarnya, mayoritas penduduk Sambas adalah suku Melayu (49,1). Sementara Dayak termasuk minoritas meski minoritas terbesar (19,86%). Toh, bisa dikatakan, pada konflik terbuka antara etnis Madura--yang merupakan kelompok minoritas sangat kecil (jauh di bawah jumlah Cina yang 17,73%)--dan etnis Melayu--pada kerusuhan dua bulan lalu--hanya sejumlah kecil orang Melayu yang ikut terlarut. Mungkinkah ini dikarenakan di antara mereka ada pertautan agama? Sama-sama muslim? Bisa jadi. Paling tidak, di antara kedua etnis ini proses asimilasi tidak mengalami hambatan (lihat boks). Sudah cukup banyak pemuda Madura yang mempersunting gadis Melayu atau sebaliknya dan tak ada masalah.
Jadi, bagaimana hubungan Madura-Dayak? Djuweng punya resep: "Perlu dilakukan dialog di tingkat yang paling bawah sehingga terjadi perangkaian kotak-kotak budaya demi terciptanya saling pengertian tanpa mengubah budaya dasar mereka."
Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang keras dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin dan rajin bekerja. Untuk naik haji, orang Madura sekalipun miskin pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan Larung Sesaji).
Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa "Lebbi Bagus Pote Tollang, atembang Pote Mata". Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata).
Upaya orang-orang Madura menghapus stereotipe negatif yang sudah terlanjur melekat di benak banyak orang, seperti berjuang dalam sepi karena rendahnya dukungan masyarakat pendukungnya. Mereka mampu beradaptasi dan memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan. Orang-orang Madura dikenal ulet. Riset majalah Tempo pada tahun 1980-an pernah menempatkan suku Madura dalam lima besar suku yang paling sukses di Indonesia.
Orang-orang Madura di tanah rantau adalah saksi hidup dari semangat itu. Mereka berani melakukan pekerjaan apa saja demi hidup. Namun, dibalik kegigihan itu, masyarakat dari pulau garam ini memiliki rasa humor yang khas. Karakter lain yang lekat dalam diri orang-orang Madura adalah perilaku yang selalu apa adanya dalam bertindak. Suara yang tegas dan ucapan yang jujur kiranya merupakan salah satu bentuk keseharian yang bisa kita rasakan jika berkumpul dengan orang Madura.
Sosok yang berpendirian teguh merupakan bentuk lain dari kepribadian umum yang dimiliki suku Madura. Mereka sangat berpegang pada falsafah yang diyakininya. Apa pun mereka lakukan untuk mempertahankan harga diri. Masyarakat Madura sangat taat beragama. Selain ikatan kekerabatan, agama menjadi unsur penting sebagai penanda identitas etnik suku ini. Bagi orang Madura, agama Islam seakan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari jati dirinya. Akibatnya, jika ada warga Madura yang memeluk agama lain selain Islam, identitas kemaduraannya bisa hilang sama sekali. Lingkungan sosialnya ‘akan menolak’, dan orang yang bersangkutan bisa terasing dari akar Maduranya
Tokoh Utama Suku Madura
Di antara kelompok atau kelas sosial yang sangat berpengaruh dalam masyarakat Madura adalah ulama lokal atau kiai. Untuk sebagian hal ini merupakan konsekuensi dari islamisasi Madura yang relatif “tuntas” tadi. Karena islamisasi berlangsung baik di hampir semua kelompok dan kelas sosial dengan ulama sebagai institusi sentrumnya, maka ulama memiliki posisi sentral dalam struktur sosial masyarakat Madura di hampir semua tingkatannya. Posisi mereka tampak kian kuat dan luas dari waktu ke waktu. Belakangan, konfigurasi politik nasional dan lokal memungkinkan mereka untuk mengintegrasikan diri ke dalam sistem nasional, dimana ulama menduduki posisi tertinggi dalam birokrasi negara tingkat lokal, suatu hal yang sulit terjadi sejak zaman kolonial hingga zaman Orde Baru.


Sistem Komunikasi dan hambatannya
Salah satu modal budaya yang sangat penting adalah pergumulan bahasa Madura di lingkungan pesantren. Sudah tentu kita harus menyadari pula keterbatasan-keterbatasannya, karena pesantren bagaimanapun ”hanya” salah satu lembaga sosial yang mungkin menjadi modal budaya dan sosial bagi bahasa Madura. Tapi tak dapat disangkal bahwa dunia pesantren telah memainkan peran penting bukan saja dalam melestarikan bahasa Madura sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, melainkan juga dalam pelembagaan bahasa Madura itu sendiri sebagai bahasa ilmu dan bahasa sastra. Dengan pergumulan bahasa Madura di lingkungan pesantren, bahasa Madura mengalami pengayaan penting terutama dengan masuknya banyak sekali kosakata Arab ke dalam bahasa Madura itu sendiri. Dirumuskan dengan cara lain, di dunia pesantren bahasa Madura jadi terbuka terhadap bahasa asing, terutama terhadap konsep-konsep agama Islam. Lebih dari itu, bahasa Madura di lingkungan pesantren adalah percobaan pemakaian bahasa Madura sebagai bahasa tulis secara berkesinambungan.
Di banyak pesantren di Madura (dan daerah Tapal Kuda), bahasa Madura digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Apa yang penting di sini adalah kesejajaran antara bahasa Madura yang bertingkat dan struktur sosial di lingkungan internal pesantren yang juga bertingkat. Artinya, struktur sosial pesantren yang bersifat hirarkis sangat sejalan dengan bahasa Madura yang juga hirarkis, dan dengan demikian pesantren merupakan lingkungan sosial yang sendirinya menjadi arena yang efektif bagi sosialisasi dan institusionalisasi bahasa Madura yang bertingkat itu, khususnya di kalangan para santri. Pengalaman pesantren di Madura pada hemat saya menunjukkan: hirarki bahasa Madura bukannya melanggengkan hirarki sosial di lingkungan pesantren, alih-alih hirarki sosial lingkungan pesantren telah memungkinkan hirarki bahasa Madura menemukan lingkungannya untuk melestarikan diri.
Apa boleh buat, kita tidak bisa menampik sifat bertingkat (hirarkis) bahasa Madura ini, sebagaimana juga kita tidak bisa menampik hirarki sosial di lingkungan pesantren (bahkan lingkungan sosial secara umum). Sampai batas tertentu hal ini mungkin menghambat bahasa Madura untuk berkembang terutama di hadapan tantangan modernitas yang menjunjung tinggi egaliterianisme dan kepraktisan. Dengan sifat bertingkatnya, bahasa Madura jadi tidak sejalan dengan semangat egaliterianisme dan relatif tidak praktis (mudah) digunakan. Sekali kita berbicara dalam bahasa Madura, dengan sendirinya kita memposisikan kita sendiri dan orang lain dalam hirarki sosial tertentu, sehingga dengan sendirinya bahasa Madura menjadi praktik relasi kuasa yang amat langsung. Bahasa Madura dengan demikian mengandung implikasi psikologi sosial yang kadangkala —bahkan seringkali— tidak nyaman.
Sampai taraf yang sangat terbatas sesungguhnya terjadi negosiasi antara budaya hirarkis dan budaya egaliter dalam masyarakat Madura, termasuk dalam bahasa Madura. Setidaknya di Porè, Cangkrèng, dan Tongghal, tiga desa di kampung saya di Sumenep, semangat egaliter dijunjung tinggi. Mereka berbicara dalam bahasa Madura enjak-iyah untuk anggota komunitas mereka, tanpa peduli dengan usia dan status sosial mereka karena mereka menganggap komunikasi enjak-iyah antara anggota komunitas (orèng diyah, orèng dinnak) sebagai tanda keintiman dan keakraban (nganggep). Berbicara ènggi-enten apalagi èiki-bunten antarmereka adalah sesuatu yang asing dan mengasingkan. Hanya kepada orang luar komunitas, mereka berbicara dalam bahasa Madura halus. (Enggkok tak abasa’a ka been, Nom. Moh abasa katon tak nganggep, ’Saya tidak akan berbahasa Madura halus denganmu, Paman. Sebab berbahasa Madura halus terasa tidak akrab’). Tetapi, seiring dengan banyaknya anak-anak tiga desa ini belajar di pesantren, pengaruh bahasa Madura hirarkis di sana lambat-laun mulai diterima. Pada titik ini, negosiasi antara bahasa egaliter dan bahasa hirarkis menghasilkan diterimanya bahasa Madura yang bersifat hirarkis secara sukarela.
Maka marilah kita terima sifat bertingkat bahasa Madura itu sebagai kekayaan bahasa Madura, sebagaimana juga bahasa etnis lain seperti Jawa dan Sunda. Apa yang penting di sini adalah bahwa pengalaman pesantren dengan bahasa Madura menunjukkan adanya kultur hirarki yang kadangkala memang amat kaku, tetapi pada saat yang sama justru memungkinkan batas-batas tertentu kekakuan hirarki itu diterobos. Jika hirarki sosial bersifat tertutup, hirarki bahasa tetap terbuka. Para santri (yunior) tidak akan bisa menyentuh lingkaran elite pesantren secara sosial, namun mereka bisa menyentuh lingkaran elit pesantren itu dalam dan lewat bahasa. Para santri (yunior) dan elite pesantren adalah dua wilayah yang terpisah, namun keduanya dipersatukan oleh bahasa. Dengan demikian, meskipun bersifat hirarkis, bahasa Madura justru bisa menjembatani hirarki sosial di lingkungan pesantren.
Hal serupa berlaku juga di lingkungan sosial yang lebih luas. Masyarakat dan elit sosial (birokrasi negara) adalah dua wilayah yang dengan relatif tegas terpisah secara sosial dalam struktur hirarkis yang ketat dan kaku. Rakyat tidak selalu mudah bertemu dengan bupati, gubernur, apalagi presiden, karena hirarki birokrasi yang ketat dan kaku itu. Tetapi adalah bahasa yang memungkinkan pertemuan antara dua lapisan sosial tersebut, betapapun bahasa itu sendiri bersifat hirarkis, yaitu bahasa yang termaterialisasi lewat berbagai media. Dalam arti itu, maka hirarki bahasa bukan saja berfungsi menjembatani hirarki sosial, melainkan juga menyelesaikan atau mengatasi kebuntuan hirarki sosial itu sendiri.
Dengan demikian, hirarki bahasa Madura di satu sisi memang membatasi atau bahkan menghambat kemajuan bahasa Madura sendiri karena tidak sejalan dengan desakan modernitas yang menjunjung egaliterianisme dan kepraktisan. Namun di sisi lain hirarki bahasa Madura telah memungkinkan, bahkan mendorong, agar bahasa Madura memainkan fungsi sosial justru di saat struktur sosial menghadapi jalan buntu. Dalam konteks itulah maka hirarki bahasa yang semula menjadi hambatan telah mentransformasi diri menjadi kekuatan. Sampai di sini kiranya cukup jelas bahwa di lingkungan pesantren bahasa Madura bukan saja menjadi alat komunikasi sehari-hari, melainkan juga memainkan fungsi sosial, yaitu menjembatani atau bahkan mengatasi kekakuan dan kebuntuan hubungan-hubungan sosial di lingkungan pesantren itu sendiri.
Di pesantren, bahasa Madura tidak hanya diajarkan dan digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Lebih dari itu, bahasa Madura digunakan sebagai bahasa ilmu secara relatif permanen. Paling tidak sampai tingkat tertentu, pelajaran akhlak, fiqih, akidah, tasawuf, dan lain-lain di pesantren disampaikan dalam bahasa Madura. Arti penting bahasa Madura yang digunakan sebagai bahasa ilmu ini adalah menaikkan fungsi bahasa Madura ke tingkat abstraksi dan konsep-konsep dengan kadar kerumitan dan pengayaan kosakata melebihi bahasa sebagai alat komunikasi sehari-hari. Dengan demikian, di pesantren bahasa Madura tidak hanya memainkan fungsi sosial, melainkan juga memainkan fungsi intelektual. Sudah pasti khazanah intelektual akan memperkaya kehidupan sosial suatu masyarakat. Karenanya, ketika bahasa Madura digunakan sebagai bahasa ilmu, maka ia pasti memperkaya bahasa Madura itu sendiri sekaligus membuka jalan bagi pengembangannya untuk benar-benar menjadi alat artikulasi ilmu secara modern.
Di samping itu, di pesantren bahasa Madura juga digunakan sebagai bahasa sastra. Kalau bahasa ilmu menggunakan banyak abstraksi, konsep, dan teori, bahasa sastra menggunakan banyak metafor, alusi, imajinasi, asosiasi, dan sejenisnya. Hanya saja, karena tujuan pesantren dengan semua aktivitasnya adalah pendidikan dan agama, maka metafor dan sejenisnya cenderung dieksploitasi untuk kepentingan didaktis dan moral agama. KH Musyfiq dari Karai, Sumenep, misalnya yang secara rutin mengisi pengajian melalui radio pemancar terbatasnya, kerap memulai pengajiannya dengan membacakan syair-syair keagamaan karangannya sendiri. Di pesantren, pelajaran akidah, fiqih, dan akhlak seringkali diajarkan lewat syiir yang dinyanyikan bersama.
Dengan menjadikan bahasa Madura sebagai alat komunikasi sehari-hari, bahasa ilmu, dan bahasa sastra, maka pesantren telah memanfaatkan bahasa Madura dalam batas maksimal yang mungkin dilakukannya.
Lebih dari itu, sejumlah kitab yang diajarkan di pesantren —seperti Safinatun Najâ, Sullamuttawfîq, dan Bidâyatul Hidâyah, untuk menyebut sebagian— diterjemahkan ke bahasa Madura, dicetak dan diedarkan secara relatif luas. Apa artinya ini? Ini berarti bahasa Madura yang berkembang di pesantren didukung oleh kapitalisme-cetak (print-capitalism), satu kekuatan budaya modern yang dalam pengalaman kebudayaan di banyak tempat —di Eropa sejak abad ke-16 dan di Indonesia sejak awal abad ke-20— mempercepat proses modernisasi bahasa dan akhirnya masyarakat pemakai bahasa itu sendiri. Bahasa Indonesia berkembang menjadi bahasa modern jelas didukung oleh kapitalisme-cetak ini, terutama sejumlah penerbit swasta bacaan berbahasa Melayu dan kemudian penerbit Balai Pustaka. Jadi, pesantren sesungguhnya memiliki kekuatan atau prasyarat budaya untuk memodernisasi bahasa Madura untuk berkembang menjadi alat artikulasi modern.
Perpaduan antara mesin cetak dan kapital(isme) —yang memproduksi dan memasarkan bahasa dalam suatu cetakan— memungkinkan suatu bahasa terakselerasi sedemikian rupa dan menjangkau masyarakat dengan relatif luas, dengan pembayangan tentang suatu komunitas pengguna bahasa itu sendiri. Cetakan membangkitkan imajinasi tentang sejumlah pembaca di tempat-tempat lain yang relatif jauh, yang secara bersama-sama disatukan dan dipertemukan oleh bahasa dalam cetakan itu sendiri. Ketika para santri belajar kitab cetakan berbahasa (terjemahan) Madura, diam-diam mereka membayangkan santri-santri lain belajar kitab yang sama di tempat-tempat yang tak mereka kenal, dengan bahasa yang sama yakni bahasa Madura. Dengan cara itu, bahasa Madura terakselerasi, tersosialisasi, dan terinstitusionalisasi dalam jangkauan sosial yang tak terbayangkan sebelumnya.
Keunikan Adat Istiadat Masyarakat Madura

Letaknya yang berada di sebelah utara Pulau Jawa, Madura atau lebih dikenal dengan pulau garam, mempunyai masyarakat sendiri, dalam arti, mempunyai corak, karakter dan sifat yang berbeda dengan masyarakat jawa. Masyarakatnya yang santun, membuat masyarakat Madura disegani, dihormati bahkan “ditakuti” oleh masyarakat yang lain.
Kebaikan yang diperoleh oleh masyarakat atau orang Madura akan dibalas dengan serupa atau lebih baik. Namun, jika dia disakiti atau diinjak harga dirinya, tidak menutup kemungkinan dia akan membalas dengan yang lebih kejam. Ada sebuah adagium masyarakat Madura, yang sampai sekarang sudah mendarah daging, ” lebbi baek pote tolang dari pada pote mata”.
Banyak orang yang mengatakan bahwa masyarakat Madura itu unik, estetis dan agamis. Bahkan, ada yang mengenal masyarakat “pulau garam” ini adalah masyarakat santri, nan sopan tutur katanya dan kepribadiannya.
Kita mungkin mengenal CAROK …. ? Carok dan celurit laksana dua sisi mata uang. Hal ini muncul di kalangan orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan).
PADA zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal budaya tersebut. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris. Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Pak Sakera. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah carok.Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M.
wisata madura
Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat. Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok. Senjata yang digunakan selalu celurit.
Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian. Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka ini keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah Belanda. Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan.
Marjinalisasi Masyarakat Madura Bisa Memicu Konflik
Program Wajib Belajar Baru Sentuh 55 Persen
Surabaya, Kompas – Proses pembangunan Madura harus dipandang sebagai suatu proses berkelanjutan dan memerlukan perencanaan sosial budaya yang jelas. Pembangunan fisik tanpa perencanaan sosial hanya akan menimbulkan kesenjangan antara kesiapan sumber daya manusia Madura dan tuntutan industri.
Hal ini disampaikan secara terpisah oleh antropolog Universitas Jember, Kusnadi, dan antropolog Universitas Airlangga Surabaya, Pinky Saptandari, Rabu (22/11).
Tanpa proses perencanaan sosial, kata Kusnadi, hal yang terjadi hanya marjinalisasi masyarakat Madura. Akibatnya, itu bisa memicu konflik yang menghambat industrialisasi. Hal serupa sudah terjadi di beberapa daerah seperti Aceh dengan industri gas alamnya yang malah membuat masyarakat terabaikan dan mengalami konflik berkepanjangan.
Kusnadi, Pinky, dan pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Soebagyo sepakat bahwa etos kerja tinggi masyarakat Madura merupakan modal bagi masyarakat Madura menghadapi percepatan pembangunan. Namun tanpa persiapan berupa akses pendidikan, keterampilan, dan akses informasi yang benar, masyarakat Madura tidak akan siap menghadapi pengembangan ekonomi yang akan dilakukan.
Apalagi kenyataannya, kata Kusnadi, berdasarkan penelitian yang dia lakukan pada tahun 2004, program wajib belajar sembilan tahun baru menyentuh 55 persen masyarakat Madura. Masih banyak masyarakat yang tidak lulus sekolah dasar atau tidak bersekolah.
Peran organisasi sosial dan organisasi masyarakat Islam, Kusnadi melanjutkan, juga perlu dioptimalkan. Karena keberadaan pondok pesantren (ponpes) dan kiai sangat kuat di masyarakat Madura, ponpes bisa diarahkan sebagai pusat informasi pembangunan regional. Peran lainnya adalah sebagai jembatan aspirasi masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta. Responsif
Karakter masyarakat Madura sangat responsif terhadap perubahan yang mengarah pada kebaikan. Namun, perubahan itu harus berbasis kepentingan masyarakat lokal.
Hal ini juga disampaikan Bupati Bangkalan Fuad Amin Imfron yang mengharapkan proyek pengembangan wilayah khusus di kaki Jembatan Suramadu sepanjang 5.438 meter dan pembangunan pelabuhan peti kemas di wilayahnya bisa menampung hingga 120.000 tenaga kerja.
Menghadapi rencana percepatan pembangunan di Madura dengan adanya Badan Percepatan Pembangunan dan Pemekaran Wilayah Suramadu, Kusnadi menyatakan pesimistis bahwa dalam waktu singkat masyarakat Madura siap menghadapi industrialisasi. Apalagi pemerintah hanya membicarakan mengenai perpindahan industri ke Madura tanpa memikirkan perencanaan sosial.
Selain itu, kata Kusnadi, kondisi Madura yang tidak memiliki sumber air sebagai penggerak industri dan hanya mendapat pasokan listrik terbatas dari Pulau Jawa juga dinilai tidak siap menghadapi rencana pengembangan Madura.
KERIS DALAM BUDAYA MASYARAKAT MADURA
Oleh : RB. Ahmad Ramadan
PENDAHULUAN

Selama ini masyarakat luas mengenal pulau Madura hanya dari aspek kebudayaan yang berupa kerapan sapi dan carok. Kerapan sapi dianggap sebagai ikon masyarakat madura di bidang hiburan dan seni pertunjukan, sedangkan carok dianggap sebagai sebuah aktifitas masyarakat yang berkaitan dengan kepribadian umum masyarakat Madura. Masyarakat Madura dikenal juga sebagai etnis yang religius dan menampilkan kesan kelompok masyarakat yang fanatik terhadap agama yang dianut dan diyakininya.
Sebenarnya masyarakat Madura hidup dengan aspek budaya yang unik, karena didalam kehidupan masyarakat Madura sendiri memiliki pola dan pandangan hidup yang berbeda-beda. Secara administratif pemerintahan, Madura dibagi menjadi empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Walaupun secara garis besar suku bangsa mereka sama-sama berasal dari suku bangsa Madura, namun masyarakat di masing-masing kabupaten didalam aktifitas kesehariannya memiliki corak dan khas yang berbeda-beda.
Berdasarkan hasil pengamatan sementara, pandangan hidup antara masyarakat Madura pesisir utara dan masyarakat Madura yang berada di pesisir selatan memiliki perbedaan pola dan pandangan hidup. Masyarakat Madura yang berada dibagian pesisir utara terkesan memiliki pola dan pandangan hidup yang masih tradisional, bahkan terkesan sebagai kelompok masyarakat yang terbelakang dalam bidang pendidikan yang berbeda dengan masyarakat Madura yang berada di pesisir selatan yang dianggap kelompok masyarakat yang sudah mulai mengalami masa transisi menuju masyarakat modern.
Selama ini masyarakat banyak yang kurang memamahi kebudayaan Madura yang esensial. Masyarakat hanya memahami kebudayaan Madura dari sisi permukaan saja, tanpa memahami konsep umum kebudayaan Madura. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya literatur yang berkaitan dengan penelitian terhadap kebudayaan Madura secara khusus dan mendalam. Selama ini, literatur yang ada hanya menggambarkan perkembangan budaya masyarakat Madura secara universal dan terkesan bersifat subjektif.
Untuk ketaatan terhadap agama, masyarakat Madura terkesan kelompok masyarakat yang fanatik terhadap agama yang dianutnya. Ketaatan mereka terhadap agama juga diiringi dengan perhatian mereka terhadap hal-hal yang berbau magis, seperti dalam upacara perkawinan,kelahiran, kematian dan beberapa hal yang berkaitan dengan mata pencaharian mereka serta perlakuan masyarakat terhadap benda-benda tertentu yang dianggap memiliki kekuatan magis. Perhatian mereka terhadap hal-hal yang berkaitan dengan magis dan ritus turut mewarnai dan memberikan peranan yang penting dalam pelaksanaan kehidupan masyarakat Madura.
Salah satu bentuk kepercayaan terhadap hal yang berbau magis tersebut adalah perhatian masyarakat Madura terhadap benda pusaka yang berupa Keris ataupun jenis tosan aji yang lain. Keyakinan masyarakat terhadap nilai-nilai magis yang terkandung di dalam benda-benda pusaka tersebut menyebabkan masyarakat Madura memiliki dan menyimpan benda pusaka tersebut di rumah atau bahkan menjadikan benda-benda- tersebut sebagai sebuah "sikep". Perburuan terhadap keberadaan benda-benda pusaka itu dilakukan masyarakat Madura hingga ke daerah luar Pulau Madura.
Keris dianggap sebagai sebuah benda yang keramat oleh masyarakat Madura memiliki karakter yang unik dan khas yang dapat menandakan corak perkembangan kehidupan masyarakat dari masa ke masa. Selain itu ciri khas dan unik yang terdapat pada keris juga dapat menjadi sistem pertanda tentang kehidupan sosial masyarakat Madura yang paternalistik.
Selain mengandung unsur-unsur religi, keris juga memiliki unsur-unsur lain yang terkandung didalamnya. Unsur seni yang terdapat pada sebuah keris tidak hanya pada sisi estetika saja, namun dari sisi religius dan etika masih tetap ditampilkan. Sisi religi pada sebuah keris bisa ditampakkan melalui keyakinan masyarakat terhadap kekuatan magis yang terkandung pada sebuah keris, hingga menimbulkan tradisi.- dalam memperlakukan sebuah keris seperti tradisi mewarangi, atau memabndikan keris, tradisi "ngokop" keris pada hari-hari tertentu, dan memolesi dengan minyak yang harum. Sedangkan sisi etika dalam sebuah keris ditunjukkan melalui cara mereka dalam menyandang keris, membuka keris, dan sebagainya, bahkan dalam memilih kerispun dengan cara meminta pertimbangan pada pemimpin sosial-religi masyarakat. Kebiasaan masyarakat untuk meminta pandangan dari tokoh-tokoh sentral masyarakat masih berlangsung hingga masa kini.
Secara umum, pandangan atau konsepsi masyarakat Jawa dan Madura memiliki beberapa perbedaan yang dianggap menjadi ciri khas dari masing-masing budaya. Perbedaan konsepsi inilah yang akan menjadi titik tekan dalam proses pembuatan makalah ini. Perbedaan konsepsi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah bentuk kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang memiliki perbedaan. Secara sederhana kita dapat menilai bahwa kehidupan masyarakat Jawa dan Madura memiliki perbedaan. Namun yang menjadi titik tekan dalam makalah ini adalah perbedaan konsepsi dan persepsi masyarakat terhadap sebuah benda pusaka yang bernama keris.

Gambaran Umum Keris Madura
Pada perkembangan masyarakat madura, keris yang dibuat sebelum abad ke-16 sampai abad ke-17 tidak hanya memiliki fungsi sebagai peralatan perang para prajurit. Keris yang dalam bahasa Madura tingkat halus, disebut "abinan" dianggap sebagai sebuah senjata tajam yang juga memiliki kekuatan magis. Sebelum pembuatan keris dilakukan, terlebih dahulu sang empu melakukan ritual khusus yang disebut "pojja " yaitu sebuah ritual yang berupa tapa untuk memohon kepada Tuhan dalam keadaan berkelakuan yang suci, meminta dengan berendah diri lahir-batin agar keris yang akan, dibuatnya tersebut mampu memberikan dorongan kepada orang yang memakainya agar supaya selalu berkelakuan baik, selamat dan jauh dari semua perbuatan yang kurang baik. Dalam proses sebelum pembuatan, biasanya sang empu akan membawa besi calon keris yang akan dibuatanya ke pasar atau ke temp'at yang ramai. Jika masyarakat masih dapat melihat besi yang dibawa sang empu, maka sang empu akan mengulangi tapanya sampai besi tersebut benar-benar tidak terlihat lagi oleh masyarakat umum, barulah sang empu melanjutkan ke tahap pembuatan keris.
Setelah keris selesai dibuat, sang empu melakukan tahapan akhir pembuatan keris yaitu penyempuhan dengan cara menambahkan racun didalamnya, lalu sang empu mengatakan sepatah-dua kata misalnya : Selamat, jaya, kaya dan lain sebagainya. Hal ini dipercaya bahwa keris tersebut memiliki kegunaan bagi pemakainya seperti kata-kata yang diucapkan oleh sang empu. Untuk menguji kekerasan besi keris, sang empu menguji keris yang dibuatnya dengan cara menusukkan keris tersebut kekulit kerbau putih yang sudah dikeringkan. Biasanya keris yang dibuat pada abad-abad tersebut memiliki tiga atau empat lapis pamor saja pada masing-masing bilahnya.
Keris yang dibuat pada abad tersebut, masyarakat lebih mengenalnya sebagai keris judhagati, tesnagati yang dipercaya mengandung khaslat untuk menambah keberanian (madura = tatag), untuk mengusir musuh dan sebagai sikep dalam peperangan.
Konsepsi tentang keberadaan keris masyarakat Madura mulai mengalami perubahan orientasi pada abad ke-18 dan ke-19. Puncak kejayaan pembuatan keris terjadi pada abad ini. Banyak empu-empu yang menghasilkan karyanya pada masa itu. Keris tidak hanya berkedudukan sebagai senjata. Pada abad tersebut keris digunakan sebagai benda keramat yang dianggap bisa menjadi media untuk memperoleh keselamatan melalui kekuatan magis yang tersimpan di dalamnya. Selain berkedudukan sebagai media untuk memperoleh keselamatan, keris juga mengalami perkembangan pada bidang seni pamor-nya. Keris yang dibuat pada kisaran abad ke-18 dan ke-19. memiliki perkembangan nilai estetika melalui seni bentuk dan seni pamor yang terdapat di dalamnya.
Pada abad ke-21, pengrajin keris mulai merubah persepsi dalam proses tujuan pembuatan sebuah keris. Persebaran pengrajin keris di Kabupaten Sumenep banyak terdapat di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi. Keris yang dibuat pada abad ke-21 hanya menampilkan sisi estetika pada sebuah keris yang tercermin dari bentuk keris serta pamor yang terkandung di dalam sebuah keris. Unsur seni yang terdapat dalam sebuah keris semakin menunjukkan bahwa keberadaan keris bagi masyarakat Madura masih begitu penting. Pada masa ini, keris tidak lagi dianggap sebagai sebuah benda yang memiliki kekuatan magis, tetapi dianggap sebagai sebuah benda seni yang memiliki nilai ekonomi yang dapat dipejual belikan untuk dijadikan sebagai sebuah cendera mata ataupun karya seni untuk di koleksi.

Karakteristik Keris Madura
Secara umum mengenai persepsi dan fungsi keris yang dipahami oleh masyarakat Jawa dan Madura memiliki persamaan. Keris yang dianggap sebagai sebuah benda pusaka yang keramat tidak hanya memiliki kekuatan magis di dalamnya tetapi juga memiliki nilai histories, falsafah serta nilai-nilai seni yang ditampilkan pada seni bentuk dan seni pamor. Keris juga digunakan sebagai aksesoris bagi busana yang digunakan kaum pria dan diyakini mampu memberikan perlindungan terhadap keselamatan orang yang memilikinya.
Seiring dengan perjalanan sejarah persebaran kens, pada masing-masing daerah persebaran budaya yang berkaitan dengan benda pusaka ini memiliki karakteristik yang khas yang dapat menandakan corak kehidupah masyarakatnya. Keris Madura memiliki bentuk yang khas serta ricikan yang sangat sederhana. Secara umum yang menggambarkan perbedaan antara keris Jawa dan Madura adalah pada seni bentuk serta corak pamornyaL.
Perbedaan bentuk yang dimaksudkan dalam penjelasan diatas adalah perbedaan pada bagian "sor-soran". Umumnya ganja pada keris Madura berukuran lebih pendek bila dibandingkan dengan ganja pada keris Jawa. Hingga jika ditarik garis vertikal sampai ujung ganja membentuk sebuah pola yang agak kaku dan oleh masyarakat Madura disebut sebagai pola noron pjan seperti yang tertera pada gambar dibawah ini (gambar 1).
Nama ricikan keris Madura banyak memiliki persamaan dengan nama-nama ricikan keris Jawa. Penamaan pada ricikan keris Madura pada akhirnya menimbulkan kesan bahwa nama ricikan keris Madura berasal dari bahasa Jawa yang di Madura-kan, misalnya Gonjo Madura-nya ganca, peksi Madura-nya pakse pucuk Madura-nya pamoco k greneng Madura-nya garining.
Sedangkan nama ricikan yang berasal dari bahasa Madura asli diantaranya: Keloran (sogokan), pejetan (papakang), koko macan (kembang kacang), bubung (ada-ada), batton (gusen). Selain itu, dikenal juga sebutan pang bar at dalam (bilah bagian dalam) dan pang bar at luar (bilah bagian luar)





gambar 2. pang bar at dalam gambar 3. pang bar at luar

Sebagian masyarakat mempercayai bahwa sebuah keris harus lebih banyak dan lebih bagus pamornya dibagian pang barat dalam-nya dari pada pang barat luar, mereka beranggapan bahwa pang barat dalam adalah gambaran masa depan sedangkan pang barat luar adalah gambaran keadaan kita pada masa sekarang. Dikenal pula istilah ajub dalam yaitu pamor yang berada di ujung keris pang barat dalam terlihat lebih menonjol dari pada pamor yang berada di ujung pang barat luar. Ini juga dipercaya bahwa si pemilik keris tersebut tidak akan kedahuluan lawannya dalam peperangan dan Iain-lain. Sedangkan ajub luar adalah sebaliknya.
Kebiasaan masyarakat Madura tentang proses memilih keris yang diyakini memiliki kecocokan dengan si pemilik diantaranya dilakukan dengan cara pal. Pal adalah cara memilih dan menilai keris dengan cara mengukur bilah keris dengan menggunakan ukuran jempol, benang, serta tangan dengan ukuran tertentu. Selain melihat keris dari seni bentuk dan seni pamor, pal juga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan masyarakat dalam memilih sebuah keris agar dapat menunjang perjalanan hidup mereka di masa depan.
Cara lain yang dilakukan mereka untuk memilih sebuah keris diantaranya dengan cara meminta pertimbangan dan pendapat pada tokoh masyarakat yang dianggap ahli tentang keris baik dari segi fisik maupun nilai mistik yang terkandung di dalam sebuah keris. Keberadaan tokoh masyarakat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sistem sosial mereka yang patemalistik. Mereka dapat mempengaruhi masyarakat dalam menentukan suatu pilihan, termasuk pula di dalamnya bagaimana cara mereka memilih keris.
Alternatif lain yang dilakukan masyarakat untuk memilih sebuah keris ialah dengan menilai kualitas empu-nya. Mereka cenderung memilih keris yang dibuat oleh seorang empu yang terkenal, memiliki budi pekerti luhur, dan dianggap memiliki kedekatan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Perkembangan mitos dan legenda dalam masyarakat yang berkaitan dengan para empu akan turut berpengaruh terhadap alasan masyarakat memilih sebuah keris. Mereka tidak menilai keris hanya dari seni bentuk dan seni pamor-nya saja, tetapi melakukan penilaian terhadap sebuah keris dari bobot spiritual empu yang membuatnya.

PENUTUP
Keris merupakan senjata tradisional yang masih popular bagi masyarakat dan memiliki wilayah persebaran yang cukup luas. Keris tidak hanya menjadi identitas budaya masyarakat Jawa. Bagi masyarakat Madura, keris dijadikan sebagai pusaka yang memiliki hubungan dengan nilai histories, falsafah dan nilai-nilai seni. Nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah keris meliputi nilai religi, etika dan nilai estetika.
Kepercayaan terhadap kekuatan mistik yang terkandung di dalam keris merupakan cerminan dari nilai religi pada sebuah keris. Keindahan pada seni bentuk dan seni pamor mewakili nilai estetika pada sebuah keris. Sedangkan pada nilai etika, ditunjukkan dengan cara masyarakat memperlakukan keris yang merupakan warisan budaya pada generasi berikutnya.
Pelaksanaan kajian ilmiah tentang keberadaan keris sebagai salah satu bentuk warisan budaya, diharapkan dapat memberikan pemahaman secara komprehensif bagi masyarakat.
Kajian Terhadap Kebudayaan Madura Sebagai Bentuk Usaha Pelestarian Budaya Lokal
Oleh: Lukman
Madura memiliki kekayaan kesenian tradisional yang amat banyak, beragam dan amat bernilai. Dalam menghadapi dunia global yang membawa pengaruh materalisme dan pragmatisme, kehadiran kesenian tradisional dalam hidup bermasyarakat di Madura sangat diperlukan, agar kita tidak terje bak pada moralitas asing yang bertentangan de ngan moralitas lokal ataujati din bangsa. Kita sebagai orang asli Madura harus mengenal budaya Madura yang masih hidup, bahkan yang akan dan telah punah. Pengenalan terhadap berba gai macam kebudayaan Madura tersebut akan diharapkan mampu menggugah rasa kebangsaan kita akan kesenian daerah.
Madura dikenal sebagai wilayah yang tandus namun kaya akan kebudayaan. Kekayaan budaya yang terdapat di Madura dibangun dari berbagai unsur budaya baik dari pengaruh animisme, Hin duisme dan Islam. Perkawinan dari ketiga unsur tersebut sangat dominant mewamai kebudayaan yang ada. Dalam perkembangannya berbagai kese nian yang bemafaskan religius, terutama benuansa Islami temyata lebih menonjol. Keanekaragaman dan berbagai bentuk seni budaya tradisional yang ada di Madura menunjuk kan betapa tinggi budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Kekayaan seni tradisional yang berisi nilai-nilai adiluhur yang berlandaskan nilai religius Islami seharusnya dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda sebagai penerus warisan bangsa. Kesenian tradisional adalah aset kekayaan budaya lokal yang akan mampu melindungi gene rasi muda dari pengaruh negatif era globalisasi. Pengaruh budaya global yang demikian gencar melalui media elektronik dan media cetak menye babkan generasi muda kehilangan jati diri.
Dengan mengetahui kebudayaan lokal diharapkan generasi muda mampu menggali potensi kekayaaan seni tradisional sekaligus melestarikannya. Secara garis besar jenis-jenis kebudayaan tra disional Madura dapat dibagi dalam empat kelom pok dan dari masing-masing kelompok tersebut mempunyai tujuan maupun fungsi yang berbeda, adapun jenis-jenis kebudayaan tradisional tersebut adalah:
Pertama, seni musik atau seni suara yaitu tembang macapat, musik saronen dan musik ghul-ghul. Tembang macapat adalah tembang (nyanyian) yang mula-mula dipakai sebagai media untuk memuji Allah SWT (pujian keagamaan) di surau-surau sebelum dilaksanakan shalat wajib, tembang tersebut penuh sentuhan lembut dan membawa kesahduan jiwa.
Selain berisi puji-pujian tembang tersebut juga berisi ajaran, anjuran serta ajakan untuk mencintai ilmu pengetahuan, ajaran untuk bersama-sama membenahi kerusakan moral dan budi pekerti, mencari hakekat kebenaran ser ta membentuk manusia berkepribadian dan berbu daya. Melalui tembang ini setiap manusia diketuk hatinya untuk lebih memahami dan mendalami makna hidup. Syair tembang macapat merupakan manivestasi hubungan manusia dengan alam, serta ketergantungan manusia kepada Sang Penguasa Alam Semesta. Contoh tembang macapat:
Mara kacong ajar onggu, kapenterran mara sare,
Ajari eimo agama, eimo kadunnya ‘an pole,
Sal a settongja pabidda, ajari bi onggu ate.
Nyare eimo patar onggu,
Sala settongjapaceccer,
Eimo kadunnyaan reya,
Menangka sangona odhi
Dineng eimo agama, menangka sangona mate.
Paccowan kenga ‘e kacong, sombajangja ‘la ‘el/a ‘e,
Sa ‘are samalem coma,
Salat wajib lema kale,
Badha pole salat sonnat, rawatib ban salat lail (anggoyudo, 1983)
Seni musik atau seni suara selanjutnya adalah musik saronen. Beberapa atraksi kesenian Madura pengiring instrumen musiknya adalah saronen. Mu sik ini adalah musik yang sangat kompleks dan ser baguna yang mampu menghadirkan nuansa sesuai dengan kepentingannya. Walaupun musik saronen adalah perpaduan dari beberapa alat musik, namun yang paling dominan adalah liuk-liukan alat tiup berupa kerucut sebagai alat musik utama, alat musik tersebut bernama saronen.
Musik saronen bersal dari desa Sendang Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep yang berasal dari kata senninan (hari Senin)
Suku Madura terkenal sebagai suku berwatak keras, polos, terbuka dan hangat, sehingga jenis musik riang dan berirama mars menjadi pilihan yang paling pas. Untuk mengiringi kerapan sapi dimain kan irama sarka yaitu permainan musik yang cepat dan dinamis, sedangkan irama lorongan jhalan (irama sedang) dimainkan pada saat dalam perjalanan menuju lokasi kerapan sapi.
Irama lorongan toju’ biasanya memainkan lagu-lagu gending yang beri rama lembut, biasanya digunakan untuk mengiringi pengantin keluar dan pintu gerbang menuju pintu pelaminan. Jenis seni musik atau sent suara selan jutnya adalah musik ghul-ghul yaitu didominasi oleh gendang (ghul-ghul). Namun dalam perkemba ngannya permainan musik ini memasukkan alat musik lainnya, baik alat musik tiup maupun alat musik pukul.
Ciri spesifik dari alat musik ini adalah terletak pada model gendang yang menggelem bung besar di bagian tengah. Musik ghul-ghul ini diciptakan untuk mengiringi merpati ketika sedang terbang. Iringan musik ini dipakai sebagai sarana hiburan bagi organisasi (perkumpulan) “dara get tak” , ketika membentak kemudian merpati dilepas ke udara, musik ini ditujukan untuk menyemarak kan suasana, musik ghul-ghul ini berasal dari desa Lenteng Timur Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep.
Kedua, sent tari atau gerak yaitu tan muang sangkal dan tari duplang. Gerakan tari tradisional Madura tidak pemah terlepas dari kata-kata yang tertera dalam Al-Quran seperti kata Allahu atau Muhammad, begitu pula dengan batas-batas gerakan tangan tidak pemah melebihi batas payudara. Tari muang sangkal adalah sent tradisi yang bertahan sampai sekarang, Tari tersebut telah mengalami berbagai perubahan yaitu menjadi tarian wajib untuk menyambut tamu-tamu yang datang ke Sumenep.
Sedangkan Tari duplang meru pakan tari yang spesifik, unik dan langka. Keunikan dari tarian ini disebabkan karena tarian ini merupa kan sebuah penggambaran prosesi yang utuh dari kehidupan seorang wanita desa. Wanita yang be kerja keras sebagai petani yang selama ini terlupakan. Dijalin dan dirangkai dalam gerakan-gerakan yang sangat indah, lemah-lembut, dan lemah gemulai. Tarian ini diciptakan oleh seorang penari keraton bernama Nyi Raisa. Generasi tera khir yang mampu menguasai tarian ini adalah Nyi Suratmi, dan tarian ini jarang dipentaskan setelah adanya pergantian sistem pemerintahan, peralihan dari sistem raja ke bupati. Sejak saat itu tarian ini jarang dipentaskan.
Karena tingkat kesulitannya yang sangat tinggi, sehingga banyak penari segan untuk mempelajarinya, maka tidak mengherankan apabila tarian duplang kini tidak dikenal dan diingat lagi oleh seniman-seniman tari generasi berikutnya. Dengan demikian tarian ini benar-benar punah.
Ketiga, upacara ritual yaitu sandhur pantel. Masyarakat petani atau masyarakat nelayan tradi sional Madura menggunakan upacara ritual seba gai sarana berhubungan dengan mahluk gaib atau media komunikasi dengan Dzat tunggal, pencipta alam semesta. Setiap melakukan upacara ritual media kesenian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari seluruh proses kegiatan. Masyarakat Madura menyebutnya sandhur atau dhamong ghardham, yaitu ritus yang ditarikan, dengan ber bagai tujuan antara lain, untuk memohon hujan, menjamin sumur penuh air, untuk menghormati makam keramat, membuang bahaya penyakit atau mencegah musibah, adapun bentuknya berupa ta rian dan nyanyian yang diiringi musik.
Daerah-daerah yang mempunyai kesenian ini menyebar di wilayah Madura bagian timur. Batuputih terdapat ritus rokat dangdang, rokat somor, rokat bhuju, rokat thekos jagung. Di Pasongsongan terdapat sandhur lorho’. Di Guluk-guluk terdapat sandhuran duruding, yang dilaksanakan ketika panen jagung dan tembakau, berupa nyanyian laki-laki atau perempuan atau keduanya sekaligus tanpa iringan musik.
Musik langsung dimainkan oleh peserta de ngan cara menirukan bunyi dari berbagai alat musik. Di lingkungan masyarakat tradisional yang masih mempercayai ritual sandhur panthel yang diguna kan sebagai media penghubung dengan sang pencipta. Namun ritual ini sebenarnya bertenta ngan dengan agama Islam dan tidak pula diajarkan dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul, jadi ini merupa kan suatu bid’ah dan haram hukumnya jika dilaksanakan.
Berbagai bentuk kesenian adalah aset keka yaan budaya lokal yang akan mampu melindungi anak bangsa dari berbagai hantaman budaya global. Pengaruh budaya global memang saat ini demikian gencamya, mengalir dari berbagai pintu media massa, sehingga menyebabkan generasi muda kehilangan jati dirinya. Kekayaan seni budaya yang dimiliki oleh suku bangsa di Indonesia lambat laun akan punah, hal itu disebabkan oleh ketidakacuhan dari berbagai unsur, baik pihak pe merintah daerah, instansi pemerintah, tokoh formal maupun informal, masyarakat ataupun kaum generasi muda. Namun yang sangat penting untuk diperhatikan dalam hal ini, apakah budaya itu pantas atau sesuai dengan ajaran agama Islam…!?? Jika tidak sesuai, maka budaya itu tidaklah wajib dilestarikan.
Keempat, seni pertunjukan berupa kerapan sapi dan topeng dalang. Perlombaan memacu sapi pertama kali diperkenalkan pada abad ke 15 (1561 M) pada masa pemerintahan Pangeran Katandur di keratin Sumenep. Permainan dan perlombaan ini tidak jauh dari kaitannya dengan kegiatan seha ri-hari para petani, dalam arti permainan ini mem berikan motivasi kepada kewajiban petani terha dap sawah ladangnya dan disamping itu agar peta ni meningkatkan produksi temak sapinya.
Namun, perlombaan kerapan sapi kini tidak seperti dulu lagi dan telah disalahgunakan sehingga lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Ma salahnya banyak di antara para pemain dan penon ton yang melupakan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT, yakni mereka tidak lagi mendirikan sha lat (Lupa Tuhan, ingat sapi). Kerapan sapi memang telah menjadi identitas, trade mark dan simbol keperkasaan dan kekayaan aset kebudayaan Madura.
Di sektor pariwisata, kerapan sapi mempakan pemasok utama Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD), karena dari sektor ini para wisata wan mancanegara maupun domestik datang ke Madura untuk menyaksikan kerapan sapi. Namun sangat disayangkan karena yang terjadi saat ini, para wisatawan mancanegara maupun domestik sudah tidak lagi mau datang untuk menonton per lombaan kerapan sapi, hal ini disebabkan karena mereka melihat adanya penyiksaan terhadap bina tang dengan memberikan sesuatu benda tajam dan lainnya kepada sapi, agar sapinya berlari lebih kencang dan menjadi pemenang. Selain itu, tidak sedikit dari penonton yang menjadikan perlombaan kerapan sapi sebagai arena pertaruhan judi. Maka pantaskah budaya ini terus dilestarikan lagi, jika begini jadinya..??
Seni pertunjukan selanjutnya adalah topeng dalang, konon topeng dikatakan sebagai kesenian yang paling tua. Adapun bentuk topeng yang di kembangkan di Madura berbeda dengan topeng yang ada di Jawa, Sunda dan Bali. Topeng Madura pada umumnya lebih kecil bentuknya dan hampir semua topeng diukir pada bagian atas kepala de ngan berbagai ragam hias. Ragam bias yang paling populer adalah hiasan bunga melati.
Adapun penggambaran karakter pada topeng dalang selain tampak pada bentuk muka juga dalam pemilihan wama, untuk tokoh yang berjiwa bersih digunakan wama putih, wama merah untuk tokoh tenang dan penuh kasih sayang, wama hitam untuk tokoh yang arif dan bijaksana bersih dari nafsu duniawi, kuning emas untuk tokoh yang anggun dan berwibawa, warna kuning untuk tokoh yang pemarah, licik dan sombong.
Setiap pementasan topeng dalang seluruh pemainnya didominasi laki-laki, penari sebanyak kira-kira 15-25 orang dalam lakon yang dipentaskan semalam suntuk, adapun aksesoris nya adalah taropong, sapiturung, ghungseng, ka long, rambut dan badung. Sedangkan untuk peme ran wanita aksesoris tambahannya adalah berupa sampur, kalung ular, gelang dan jamang. Teater topeng dalang Madura adalah satu-satunya teater tradisional yang mampu menaikkan pamor seni tradisi. Di era tahun 80-an sampai dengan tahun 90-an topeng dalang Sumenep melanglang buana sampai ke benua Amerika, Asia dan Eropa, kota-kota besar yang disinggahi adalah London, Amsterdam, Belgia, Perancis, Jepang dan New York.
Penampilan seni tradisional ini mampu memikat, memukau dan menghipnotis serta menimbulkan decak kagum para penonton, begitu hangat sam butan masyarakat intemasional terhadap kesenian topeng dalang. Namun sangatlah disayangkan, kekaguman yang pemah dibangun oleh para dalang di masa lalu, saat ini mulai pudar karena ti dak adanya peminat, kesenian ini mulai berkurang terutama di masyarakat perkotaan, karena diang gap ketinggalan zaman. Saat ini pementasannya hanya dilakukan di daerah pinggiran yang masih peduli dan mencintai kesenian ini.
Seni teater tra disional yang dimiliki suku bangsa Madura menun jukkan betapa tinggi nilai budaya yang dimiliki oleh suku bangsa ini. Nilai-nilai adiluhur yang berlandas kan nilai keagamaan, seharusnya diperkenalkan kembali kepada generasi penerus sebagai pemilik sah atau pewaris budaya. Apalagi regenerasi ser ta pelestarian dikemas dalam bentuk yang luwes dan fleksibel sesuai dengan perkembangan yang ada. Sebagaimana wali songo menjadikan media ke senian sebagai sarana dakwah tanpa kehilangan nilai-nilai filosofi serta jati diri.
Maka dengan demikian, pihak Pemerintah Daerah, masyarakat, dan khususnya generasi muda pelajar saat ini hams menjadi tonggak sebagai pe lestari budaya daerah Madura, agar budaya yang telah ada tidak hilang atau punah dan akan terus menjadi kebanggaan bangsa. Namun budaya itu juga hams sesuai dan tidak lepas dari norma atau aturan agama Islam, sehingga tidak termasuk budaya yang tidak diperbolehkan dan haram menurut agama. Sekian dan Terima kasih. []
Kebudayaan Madura dan Globalisasi

oleh: MH SAID ABDULLAH

Kegelisahaan utama berbagai kelompok masyarakat di belahan dunia mana pun adalah bagaimana mempertahankan identitas jati dirinya. Bagaiaamana suatu suku bangsa memelihara dan menjaga kelestarian nilai-nilai adiluhung yang diwariskan sehingga identitas tetap eksis di antara suku bangsa lain.

Persoalan-persoalan seperti itulah yang menantang saya ketika merenungkan kebudayaan Madura. Masyarakat Madura ada di mana-mana di negara ini. Bahkan di manca negara dengan tampilan dan gaya yang khas. Tapi satu hal yang mencemaskan adalah label kekerasan yang melekat dalam diri orang Madura.

Kegelisahan tersebut mendorong penyelenggaraan Kongres Kebudayaan Madura (KKM) yang digelar di kota Sumenep, 09-11 Maret 2007 lalu. Ini merupakan diskusi yang secara spesifik menyoroti kebudayaan Madura. Selain menggelar berbagai kesenian khas Madura, kongres juga para budayawan dan pengamat Madura dalam dan luar negeri. Selama berlangsungnya kongres, problem yang menjadi sorotan utama adalah bagaimana merevitalisasi nilai-nilai adiluhung kebudayaan Madura, supaya menghapus citra negatif masyarakat Madura yang terbangun selama ini.

Tantangan kultural tersebut semakin krusial seiring dengan menguatkan arus globalisasi. Globalisasi merupakan suatu proses mempersatukan manusia sejagat. Kini dunia menjadi semacam global village, desa dunia. Jarak antara satu tempat dengan tempat lain diperpendek dengan teknologi informasi. Dunia terasa semaakin sempit. Hampir tidak ada lagi bagian dunia yang hidup terpencil.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat dunia seakan tanpa batas. Pesatnya penggunaan internet memungkinkan kita berkomunikasi dengan siapa saja tanpa batasan tempat dan waktu. Infrastruktur komunikasi yang semakin modern memungkinkan kita berhalo-halo secara leluasa. Aneka kegiatan manusia di berbagai pelosok dunia sudah bisa diketahui terang benderang hanya dengan duduk manis dengan duduk di depan TV, membuka internet, mendengar radio, dan berhalo-halo lewat telepon.

Arus globalisasi mebuat pintu rumah dan jendela hati kita terbuka lebar-lebar bagi orang lain, terlepas dari Anda menghendakinya atau tidak. Proses saling mempengaruhi antar budaya tidak terelakkan lagi. Dalam kondisi ini tidak relevan lagi klain eksklusivitas kultural. Semua kebudayaan dunia menjadi milik bersama. Terjadi proses seleksi alamiah terhadap unsur-unsur kebudayaan yang ada.

Barometer kebudayaan adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi serta kemakmuran sosial dan ekonomi. Yang tidak sepadan dengan tren kebudayaan global akan ditinggalkan masyarakat pendukungnya. Konsekuensinya, banyak nilai tradisional yang te rgusur.

Dampak yang paling mengkhawatirkan dari arus globalisasi adalah terhadap agama dan tatanan nilai lainnya dalam masyarakat Madura. Kehidupan agama pada zaman ini mau tidak mau memang akan terus ditantang. Dunia di luar dia adalah dunia persaingan. Karena itu, orang mencari perlindungan pada agama dan kedamaian pada agama.

Tetapi ironisnya, orang sering menjauhkan diri dari upacara-upacara yang dirasakan membosankan dan terlalu lama. Dalam sikap beragama orang ingin cenderung serba cepat, efisien, dan efektif, tetapi menyentuh pribadi.

Di tengah kencangnya arus globalisasi terdapat juga upaya untuk membentuk kelompok kecil dengan basis identitas primordial. Orang merasa lebih dekat pada rasa kesukuan, keagamaan, atau kebudayaan tertentu. Orang mengelompokkan diri berdasarkan kesamaan darah (kesukuan) dan sejarah. Semangat membesar-besarkan kebudayaan sendiri menguat dalam kelompok ini. Mereka merasa kebudayaannya superior, lebih baik dan lebih unggul, sementara kebudayaan bangsa lain diabaikan dan diremehkan. Tidak ada lagi penghargaan terhadap kelompok lain. Tidak ada solidaritas antar kelompok yang berbeda. Semangat tersebut, gilirannya, menyulut orang-orang melakukan kekerasan, berperang atas nama suku maupun agama.

Beragam Kultur

Negera Kesatuan Republik Indonesia dibangun di ata keserbaragaman kultural. Sebagai suatu negara bangsa, kita sepakat membangun suatu identitas sosial bersama, yang ditetapkan oleh para pendiri bangsa yaitu Pancasila. Namun, Pancasila tidak menegasi eksistensi kebudayaan-kebudayaan lokal. Mereka justru menjadi pilar-pilar utama yang menopang Pancasila. Sebab, Pancasila menjadi tidak lengkap tanpa kebudayaan suku Madura, Jawa, Sunda, Dayak, Irian, Flores, Ambon, dan sebagainya. Sebaliknya, tanpa Pancasila keberadaan kebudayaan-kebudayaan lokal tidak mempunyai arti apa-apa. Jadi, keduanya saling mendukung dan menyempurnakan.

Semangat yang dibangun lewat Kongres Kebudayaan Madura ini adalah Madura untuk Indonesia. Sebab, tidak mungkin ada Madura tanpa Indonesia. Tanpa kebudayaan Madura kebudayaan Indonesia tidak lengkap.

Saya selalu menyebut Madura sebagai taman sarinya Indonesia. Kalau banyak daerah di Indonesia terkoyak-koyak oleh konflik berbau suku, agama, ras, maupun antar golongan, di tanah Madura kehidupan warganya aman-aman saja. Padahal, masyarakat yang tinggal di Madura berasal dari berbagai suku, agama, dan ras. Anehnya, masyarakat Madura yang sangat mencekam, yakni kekerasan. Mungkin hanya karena keterlibatan segelintir warga keturunan Madura di perantauan. Tantangan kultural yang mengemuka dalam Kongres Kebudayaan Madura kali ini adalah merevitalisasikan nilai-nilai kebudayaan Madura yang adiluhung dengan memperbaiki masyarakat Madura.

Di bawah tekanan kekuatan kebudayaan global yang sudah menjalar ke dalam kehidupan sosial sebagian besar masyarakat Indonesia, kita perlu membangun idealisme baru. Tata kehidupan masyarakat yang terlalu dikuasai oleh ekonomi, yang lebih pragmatis dan mementingkan keuntungan, perlu diimbangi dengan upaya membangun semangat dan rasa solider antar warga masyarakat sebangsa dan setanah air maupun sedunia.

Dalam rasa solider itu, perbedaan kultural itu tetap dipertahankan. Namun kita tidak boleh terikat rasa kesukuan, keagamaan atau kebudayaan tertentu. Marilah kita menyerap kebudayaan global tanpa meninggalkan nilai-nilai adiluhung yang diwariskan leluhur kita. Tugas kita adalah memberikan perspektif baru pada nilai-nilai tradisional agar tetap relevan dengan dinamika hidup manusia masa depan..


Sumenep-Nilai-nilai kabudayaan Madura dipandang perlu selalu dipelihara. Namun begitu, masyarakat Madura tidak serta merta harus menutup diri dari dunia luar atau mengucilkan diri. Latif Wiyata, salah satu pemerhati kebudayaan Madura mengatakan, kebudayaan Madura harus dinamis dan bahkan harus memberikan inspirasi bagi masyarakat di luar Madura.Dalam dialog budaya dengan tema seset maloko’ yang diadakan sejumlah budayawan di depan labeng mesem keraton Sumenep, Latif Wiyata mengatakan, kebudayaan Madura sarat dengan nilai-nilai yang perlu dipelihara.
Apalagi saat ini teknologi informasi yang semakin canggih membuat arus kebudayaan begitu dahsyat mengalir menembus ruang dan waktu.Sementara itu Januar Herwanto, koordinator kegiatan ini mengatakan, dialog budaya ini sengaja digelar oleh beberapa komunitas pecinta kebudayaan untuk menghayati kembali nilai-nilai yang ada di tengah-tengah masyarakat Madura.Menurutnya, kegiatan ini terinspirasi dari lagu Madura seset maloko’ yang dinyanyikan dengan logat yang tidak tepat oleh orang luar Madura.Selain diikuti oleh lembaga ngadek sodek parjuge (NSP), kegiatan ini juga diikuti oleh komonitas ghei’ bintang, dan sanggar lentera. Mahasiswa Fakultas Bahasa Indonesia, juga tampak berjubel di sekitar area labeng mesem untuk mengikuti acara dialog budaya ini.
JIKA mau jujur masyarakat Madura secara demografis merupakan salah satu etnis ketiga terbesar setelah Jawa dan Bali. Konsekuensi antroplologisnya kebudayaan Madura seyogianya tidak dipandang sebelah mata. Namun ironis sekali, kenyataannya dalam wacana akademik masyarakat dan kebudayaan Madura masih terabaikan dibandingkan dengan kedua etnis tersebut.
Lebih daripada itu, pandangan mereka terhadap masyarakat dan kebudayaan Madura selalu cenderung negatif. Kesan ini sangat tampak antara lain pada homur-humor tentang orang Madura. Hampir semua humor tersebut kenyataannya bukan kreasi orang Madura melainkan justru diproduksi dan terus direproduksi oleh orang luar Madura yang pada umumnya kurang memahami kebudayaan Madura secara proporsional dan kontekstual. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa selama ini telah terjadi proses marginalisasi masyarakat dan kebudayaan Madura.

Kenyataan ini tampaknya memang sulit dielakkan karena dua faktor yaitu geografis dan politis. Pertama, secara geografis pulau Madura sebagai tempat orang Madura mengalami proses sosialisasi sejak awal lingkaran kehidupannya, letaknya sangat dekat dan berhadapan langsung dengan Pulau Jawa-tempat orang Jawa mengalami proses yang sama. Setiap bentuk interaksi sosial orang Madura dengan orang luar mau tidak mau pertama-tama akan terjalin dengan orang Jawa sebagai pendukung kebudayaan Jawa. Oleh karena dalam interaksi sosial pasti akan terjadi sentuhan budaya sedangkan kebudayaan Jawa sudah telanjur diakui sebagai kebudayaan dominan (dominant culture) maka dalam ajang persentuhan budaya tersebut masyarakat dan kebudayaan Madura menjadi tersubordinasi sekaligus termarginalkan.

Kedua, fakta sejarah telah menunjukkan bahwa posisi Madura secara politik hampir tidak pernah lepas dari kekuasaan (kerajaan-kerajaan) Jawa. Fakta ini kian mempertegas posisi subordinasi dan marginalitas masyarakat dan kebudayaan Madura. Oleh karenanya, mudah dipahami apabila setiap kali orang Madura akan mengekspresikan dan mengimplementasikan nilai-nilai budaya Madura dalam realitas kehidupan sosial mereka akan selalu cenderung "tenggelam" oleh pesona nilai-nilai adhi luhung budaya Jawa.


***
MENGHADAPI realitas sosial budaya ini maka tiada lain yang dapat dan harus dilakukan oleh orang Madura adalah segera melakukan revitalisasi nilai-nilai budaya Madura. Untuk melakukan upaya ini tentu tidak terlalu sulit oleh karena para seniman, budayawan, pakar budaya serta orang-orang yang concern terhadap budaya Madura secara bersama-sama dapat berperan dan berfungsi sebagai penggali dan penyusun kembali secara sistematis dan komprehensif nilai-nilai budaya Madura yang tidak kalah adhi luhung-nya dengan nilai-nilai budaya Jawa. Sebab, tidak mustahil banyak nilai-nilai budaya tersebut selama ini masih "terpendam" atau sangat mungkin sudah mulai "terlupakan". Bahkan, dalam konteks yang sama, untuk menjaga, dan mempertahankan eksistensi sekaligus pengembangan nilai-nilai luhur budaya Madura sudah merupakan tanggung jawab kultural setiap individu yang mengaku sebagai orang Madura di mana pun mereka berada.

Jika semuanya ini benar-benar dilakukan maka nilai-nilai luhur budaya Madura akan tetap eksis dan mengemuka sebagai referensi utama bagi setiap orang Madura dalam hal berpikir, bersikap, dan berperilaku. Lebih-lebih ketika mereka harus membangun dan menjalin interaksi sosial dengan orang-orang di luar kebudayaan Madura.

Dengan demikian stigma yang selama ini melekat lambat laun akan terhapus, sehingga masyarakat dan kebudayaan Madura tidak akan lagi termarginalkan. Bahkan, ke depan tidak tertutup kemungkinan pada suatu saat masyarakat dan kebudayaan Madura justru akan muncul sebagai salah satu alternatif referensi bagi masyarakat dan kebudayaan lain. Mengapa tidak? Budaya Madura bukan kepanjangan Budaya Jawa
Edhi Setiawan, budayawan asal Sumenep, dalam makalahnya berjudul ‘Menegakkan Kembali Citra Budaya Madura’ menyebutkan, kurangnya publikasi yang serius sejak masa lalu mengenai kebudayaan Madura, menyebabkan banyak orang beranggapan kebudayaan Madura merupakan kepanjangan budaya Jawa. Padahal, Madura mempunyai ciri-ciri kebudayaan sendiri.

Kebudayaan Madura yang bersumber dari kraton, sedikit banyak terpengaruh oleh kebudayaan kraton Jawa. Baik dalam bidang seni, tari, macopat, bahasa, ataupun gending-gending gamelan. Hal ini tidak berarti Madura tidak mempunyai akar budaya sendiri.

Ini bisa kita lihat perbedaan yang mencolok, seperti dalam kesehariannya, sifat-sifat orang Madura lebih egaliter dan terbuka, berbeda dengan kebanyakan sifat orang Jawa yang mempunyai sifat ewuh pakewuh. Dalam mencari rezeki, orang-orang Madura sejak masa lalu berani merantau ke luar pulau. Semangat “mangan ora mangan asal ngompul” yang dilakukan orang Jawa, tidak dilaksanakan orang Madura.

Pada kosakata bahasa Madura halus (kromo), pengaruh bahasa Jawa memang agak kental. Namun, bahasa Madura rakyat jelata (ngoko) perbedaannya amat tajam. Contohnya, kepala dalam bahasa Madura halus disebut “sera” yang hampir sama dengan bahasa Jawa halus “sira”. Sedang dalam bahasa Madura rakyat/kasar disebut “cethak”.

Perut dalam bahasa rakyat Madura disebut “tabu’”. Dalam hitung-hitungan satu dalam bahasa Madura disebut “settong”, sedang bahasa jawa disebut “siji”.

Kerapan sapi merupakan budaya otentik Madura. Alat-alat musik yang dipakai di kalangan rakyat jelata Madura, seperti saronen dan gelundhang kurang dikenal/ditemukan di Pulau Jawa.

Berbeda dengan anggapan seakan-akan orang Madura tidak pernah menggeluti atau melahirkan kesenian-kesenian yang bernilai, padahal realitanya peninggalan-peninggalan lama membuktikan orang Madura mampu menghasilkan kesenian yang orisinil, dan bersifat adiluhung (seni ukir, tari, musik, arsitektur, pembuatan perahu, dll). (*)