Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Monday, December 20, 2010

TEORI-TEORI SASTRA

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/13054011/teorisastra.doc.html

TEORI-TEORI SASTRA
BAGI GURU BAHASA DAN SASTRA INDONESIA *
OLEH ERWAN JUHARA *
Ihwal

Karya sastra bersifat multiinterpretable. Oleh karena itu, penafsiran makna sebuah karya sastra oleh para pembacanya melibatkan berbagai strategi dan pendekatan yang multiinterpretable pula sesuai latar belakang pembaca atas suatu pesan dalam suatu karya sastra yang memiliki konvensi kebahasaan dan kesastraan tersendiri bagi sebuah ilmu.

Masalah penafsiran dalam menggeluti karya sastra adalah masalah dasar dalam khasanah teori dan kritik sastra. Kehadiran berbagai pendekatan untuk pemahaman karya sastra seperti Semiotik; Strukturalisme; Sosiologi Sastra; Estetika Resepsi; Fenomenologi; Hermeunetik, dan sebagainya dapat membantu juru tafsir untuk menelaah dan menafsirkan arti/makna karya sastra.
Penafsiran merupakan bekal utama untuk apresiasi, kririk, dan pengajaran karya-karya sastra sehingga pembaca mampu menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Jadi, di satu sisi dituntut pemahaman tentang cara penafsiran yang cukup komprehensif, di sisi lainnya dituntut pembacaan karya sastra sebanyak dan semendalam mungkin. Tumbuh dan berkembangnya wawasan sastra hanya bisa dicapai dengan menumbuhkembangkan strategi penafsiran dan pembacaan karya sastra secara terus menerus.Berbagai teori dan pendekatan dalam upaya penafsiran sebuah karya sastra agar menjadi lebih jelas maknanya bagi pembaca dalam menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah karya sastra pernah dikembangkan oleh antara lain: T.S. Kuhn; Roman Jakobson; Gerald Prince; Edmund Huserl dan Roman Ingarden; Wolfgang Iser, Hans Robert Jauss, Stanley Fish, Riffaterre, Jonathan Culler, dll.
Soal pembaca bagi sebuah Teori Ahli filsafat, T.S. Kuhn memperkuat keraguan kepada teori Relativitas Einstein yang mengungkapkan bahwa pengetahuan objektif secara sederhana adalah sebuah penumpukan fakta yang keras dan progresif. Kuhn berpendapat bahwa apa yang muncul sebagai fakta dalam ilmu pengetahuan tergantung pada rangka referensi yang dibawa pengamat ilmu pengetahuan terhadap objek pemahaman. Memakai analog Psikologi Gestalt dan model komunikasi Teka-teki Bebek-Kelinci dan Komunikasi Linguistik Roman Jakobson, ia yakin bahwa pengamat adalah berperan aktif dalam rangka pemahaman suatu karya sastra. Artinya, hanya pengamatlah yang mampu memutuskan dan mengambil simpulan paling tepat atas suatu teks maupun berbagai kode yang ada dalam suatu karya sastra. Ahli sastra lain, Gerald Prince, bahkan lebih rumit lagi membedakan posisi pembaca dengan naratee. Ia menginginkan sang naratee(si diceritai) berdiri secara khusus berdasarkan jenis kelamin, kelas, situasi, ras bahkan umur. Akibatnya, efek teori Prince adalah menyoroti dimensi penceritaan yang telah dimengerti secara intuitif oleh para pembaca, tetapi masih tetap kabur dan tidak pasti. Ia menekankan pada cara yang ditempuh pencerita(sang naratif) untuk menghasilkan pembaca atau pendengarnya sendiri, yang mungkin atau tidak mungkin bersamaan dengan pembaca nyata.
A Teeuw dalam buku Sastra dan Ilmu Sastra (1984:43) menelaaah berbagai pendekatan dalam apresiasi sastra uintuk memahami karya sastra," Sastra sebagai model semiotik tidak dapat diteliti dan dipahami secara ilmiah tanpa mengikutsertakan aspek kemasyarakatannya, yakni sebagai tindak komunikasi." Ia menyebut berbagai model pendekatan dalam mengapresiasi karya sastra sehingga turut memperkuat fakta bahwa karya sastra merupakan sesuatu yang kaya akan makna, sehingga tidak mudah didekati hanya dengan satu pendekatan saja.
Beberapa pendekatan yang dibutuhkan dalam apresiasi sastra seperti yang
dijelaskan Teeuw untuk para pembaca di antaranya yang sudah dikembangkan Umar Junus dalam pendekatan Pragmatik adalah pendekatan Resepsi sastra dari teori Iser (pembaca implisit) dan Hans Robert Jauss (horison harapan).Jauss menitikberatkan perhatiannya kepada bagaimana karya sastra diterima pada suatu masa tertentu berdasarkan horison penerimaan tertentu atau berdasarkan horison yang diharapkan. Karya sastra dapat hidup jika pembaca berpartisipasi dan dengan partisipasi pembaca itu, konteks sejarah terciptanya karya sastra bukan merupakan sesuatu yang faktual, tetapi hanya merupakan rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri yang ujudnya terpisah dari embaca. Karya yang telah dipahami pembaca menjadi modal bagi resepsi. Proses resepsi menjadi perluasan semiotik yang timbul dalam
pengembangan dan perbaikan suatu sistem. Horison penerimaan mungkin
berubah (bahkan berkali-kali).
Selanjutnya Jauss menyatakan bahwa pendekatannya bersifat parsial, tidak menyeluruh karena hanya melakukan hubungan hari ini dengan "virtue" sejarah. Resepsi hanya berklaitan dengan saat karya itu dibaca sehingga terdapat konvergensi antara teks dan resepsi yang berupa dialog antara subjek hari ini dengan subjek masa lampau. Tradisi berperan penting dalam hal ini. Tradisi yang dimaksud adalah wawasan yang mendasari resepsi yang dilakukan pada saat tertentu.Jika resepsi Jauss mementingkan sejarah pada suatu saat tertentu, maka Resepsi Iser bertitik tolak pada kesan(sebenarnya pada tahap akhir teori Jauss juga disebut-sebut tentang kesan). Iser mempermasalahkan konkretisasi karya sastra, yakni reaksi pembaca terhadap teks yang diresepsi. Dalam resepsi Iser, terdapat dinamika pembaca. Ia akan memilih satu di antara berbagai kemungkinan realisasi, sehingga tugas kritikus dalam pandangan Iser bukan menerangkan teks sebagai objek, tetapi menerapkan efeknya kepada pembaca. Kodrat teks itulah yang mengizinkan beraneka ragam kemungkinan pembacaan, sehingga lahir pembaca implisit(pembaca yang diciptakan sendiri oleh teks dirinya dan menjadi jaringan kerja struktur yang mengundang jawaban, yang mempengaruhi kita untuk membaca dalam cara tertentu) dan pembaca nyata (yang menerima citra mental tertentu dalam proses pembacaan yang diwarnai oleh persediaan pengalaman yang ada). Dalam resepsi Iser, ada hubungan teks dan pembaca. Hubungan itu melalui tiga langkah, yakni 1. sketsa tentang suatu teks yang membedakan dengan teks-teks sebelumnya; 2. pengenalan dan analisis terhadap kesan dasar teks; dan 3. mencari kemungkinan yang ada tentang makna karya satra. Karya sastra selanjutnya memberi kesan kepada pembaca, sehingga teori Resepsi sastra Jauss dan Iser tampaknya mendapat pengaruh Hermeunetika dari Schleiermacher dan Gadamer.
Jika Jauss dan Iser berperan dalam resepsi sastra yang memberi kesan kepada pembaca, Edmund Husserl, seorang ahli filsafat modern terkenal dengan teori Fenomenologi-nya dalam kaitan antara karya sastra dengan pembacanya. Teori fenomenologi menuntut untuk menunjukkan kepada kita alam yang mengarisbawahi, baik kesadaran manusia maupun kesadaran fenomena.Teori ini adalah usaha untuk menghidupkan ide(setelah zaman Romantik) bahwa pikiran manusia individual adalah pusat dan asal semua arti. Teori ini tidak mendorong keterlibatan subjektif secara murni untuk struktur mental kritikus karena menggunakan berbagai lapis norma karya, tetapi tipe kritik sastra yang mencoba masuk ke dalam dunia karya seorang penulis dan sampai pada suatu pengertian tentang alam dasar atau intisari tulisan sebagaimanatampak dalam kesadaran kritikus.
Ahli satra lain, kritikus Amerika yang bernama Stanley Fish menyodorkan
teori Stilistika Efektif yang memusatkan penyesuaian harapan yang dibuat pembaca ketika membaca teks, tetapi ia lebih menekankan pada rangkaian kalimatnya. Fish berpendapat bahwa pembaca adalah seseorang yang memiliki kompetensi linguistik yang telah memasukan pengetahuan sintaktik dan semantik yang diperlukan untuk membaca selain penguasaan kompetensi sastra secara khusus(konvensi bahasa dan konvensi sastra). Namun,Jonathan Culler, salah seorang murid Fish justru selain mendukung juga memberikan kritik atas pendapat Fish karena ia dianggap gagal meneorikan konvensi-jkonvensi pembacaan, yaitu ia gagal mengajukan pertanyaan,"konvensi-konvensi apa yang diikuti pembaca?" Selain itu, ia dianggap gagal pada tuntutannya atas pembaca kalimat perkataan demi perkataan dalam suatu pengurutan waktu itu menyesatkan( tidak ada alasan mempercayai bahwa para pembaca secara nyata membaca kalimat dan memecahkannya serta melakukannya sedikit demi sedikit secara bertahap).
Selanjutnya Culler membuat teori pembacaan yang harus mengungkap operasi penafsiran yang dipergunakan pembaca karena pembaca yang berbeda akan menghasilkan tafsiran yang berbeda pula. Jadi, menurutnya bermacam-macam penafsiran inilah yang harus diterangkan sebuah teori meskipun hasil pembacaan akan berbeda artinya, walaupun mengikuti perangkat konvensi penafsiran yang sama. Dampaknya, Culler memberikan pendekatan yang mengizinkan suatu prospek sejati kemajuan teoritis. Sedangkan Fish memberikan metode yang berguna, tetapi menutup persoalan teori yang mendasar atau pendekatan Rifartere yang menghasilkan sebuah baju pengikat yang teoritis. Rifartere memberikan baju pengikat yang teoritis terutama pada bukunya Semiotics of Poetry(1978), yang di dalamnya ia mengatakan bahwa pembaca yang berkompeten melampaui arti permukaan. Ia penganut Formalis Rusia dalam memandang puisi sebagai sebuah penggunaan bahasa yang khusus. Menurutnya, diperlukan kompetensi linguistik biasa untuk memahami arti sebuah puisi, tetapi pembaca juga memerlukan kompetensi sastra untuk menghadapi ketidakgramatikalan yang sering dijumpai di dalam pembacaan sebuah sajak. Sehingga ia mengajukan matrik strutural/hipogram sebagai salah satu upaya pengujian sebuah sajak sebagai satu kesatuan.
Sayangnya teori Rifarterre ini memiliki banyak kesukaran bagi para
pembacanya, misalnya teori ini tidak mengizinkan beberapa jenis pembacaan yang kita pikirkan sepenuhnya secara "lurus saja.
Sedangkan ahli lain dari dunia psikologi, yakni Norman Holland dan David Bleich, yang telah menderevasi pendekatan teori pembacaan dari sisi psikologi, memandang bahwa pembacaan sebagai suatu proses yang memuaskan atau paling sedikit tergantung kepeda keperluan psikologis pembaca. Buku Kritik Sastra Subjektif(1978) karya David Bleich adalah satu bukti pendukung bahwa dalam pembacaan telah terjadi pergeseran dari paradigma objektif ke paradigma subjektif. Hal yang juga menjadi legitimasi atas teori khusus Norman Holland bahwa setiap anak menerima kesan"identitas pertama" dan orang dewasa menerima "identitas tema".Artinya, ketika kita membaca suatu teks kita memprosesnya sesuai dengan tema identitas secara stabil. Jadi, kita mempergunakan karya sastra untuk melambangkan dan akhirnya meniru kita sendiri. Kita menyusun kembali karya itu untuk menemukan ciri strategi kita untuk menguasai ketakutan yang dalam dan keingintahuan yang membentuk kehidupan psikis kita.
Ending
Teori yang berorientasi kepada pembaca, tidak mempunyai titik tolak filosofis yang tunggal atau utama. Para penulis teori di atas berasal dari tradisi pemikiran yang bermacam-macam. Jauss dan Iser serta Edmund Huserl tertarik pada Resepsi, Fenomenologi dan Hermeunetik dalam usahanya untuk menerangkan proses pembacaan dan hubungannya dengan kesadaran pembaca.
Rifartere mensyaratkan pembaca yang memiliki kompetensi sastra yangkhusus. Stanley Fish percaya bahwa para pembaca memberi respon pada pergurutan perkataan dalam kalimat, apakah kalimat itu bersifat sastra atau tidak. Jonathan Culler mencoba menetapkan penafsiran menurut teori Strukturalis yang berusaha menyingkap kebiasaan-kebiasaan dalam strategi pembaca dan diakui strategi yang sama dapat pula menghasilkan tafsiran yang berbeda. Norman Holland dan David Bleich memandang pembacaan sebagai suatu proses yang memuaskan atau paling sedikit tergantung kepada kepercayaan psikologis pembaca. Umumnya teori-teori sastra yang berorientasi kepada pembaca menentang keunggulan teori Kritik Sastra Baru dan Formalisme Rusia yang berorientasi kepada teks karena tidak bisa berbicara tentang arti sebuah teks tanpa memandang sumbangan pembaca kepadanya.Usaha pemahaman dan penafsiran karya sastra adalah usaha konkretisasi karya sastra oleh pembaca. Wawasan sastra yang dimiliki akan memungkinkanpemilihan metode yang tepat untuk karya tertentu yang bersifat khas. Ada karya yang dapat ditelaah dengan pendekatan tertentu dan ada juga yang melalui pendekatan lainnya. Teori, metode, dan pendekatan itu dapat dipergunakan secara komprehensif karena proses dari konkretisasi apresiasi karya sastra berlangsung secara kemoprehensif pula, sehingga pembaca diusahakan agar selalu meningkatkan wawasan sastra, baik dalam konsep-konsep teoritis maupun dalam penghayatan langsung dengan karya sastra.