Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Monday, December 13, 2010

Perkembangan Olahraga

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/12943198/aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.doc.html

Olahraga prestasi sejatinya bisa dijadikan sebagai media dan ruang yang tepat untuk membangun karakter bangsa. Olahraga bisa menjadi ikon peradaban untuk mengangkat marwah dan martabat bangsa ke aras yang lebih terhormat dan berbudaya. Di dalam setiap event olahraga terpancar nilai-nilai semangat kebangsaan, nasionalisme, atau patriotisme yang menyatu ke dalam sikap dan karakter pemain. Sikap pantang menyerah, fairplay, bermental baja, kreatif, cerdas, berintegritas kuat, dan unsur-unsur karakter positif lainnya harus menjadi sebuah keniscayaan yang dimiliki oleh setiap pemain.
Dalam konteks demikian, idealnya pendidikan karakter tak hanya sekadar “dibumikan” melalui ranah pendidikan, melainkan juga secara simultan perlu “dikawinkan” dengan ranah olahraga. Perpaduan antara kemampuan berolahraga dan karakter yang kuat diharapkan mampu membentuk dan melahirkan insan-insan olahraga masa depan yang berkarakter dan berkepribadian kuat, sehingga sanggup berprestasi maksimal untuk mengharumkan nama bangsa dan negara. Nah, salam olahraga dan salam peduli anak bangsa!
PERKEMBANGAN olahraga nasional tidak hanya menjadi tanggung jawab KONI atau Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Tapi, juga tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Tiga badan tersebut bersinergi untuk membina dan mengembangkan olahraga di Indonesia.

Di Jatim, hal tersebut menjadi tanggung jawab KONI Jatim, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jatim, dan Dinas Pendidikan (Dispendik) Jatim. Bedanya, di disependik, pelaksanaan dipegang oleh dispendik di kota atau kabupaten di bidang pendidikan luar sekolah (BPLS) olahraga dan seni.

Dalam skema besar penanggung jawab olahraga, KONI menjadi badan tertinggi. Sebab, selain memiliki kewajiban membina, mereka mengembangkan olahraga. Mereka juga bertanggung jawab mengirim atlet ke kejurnas, PON, maupun even-even di luar negeri.

Sedangkan tanggung jawab dispora dan dispendik selama ini terkesan tumpang tindih dalam pembinaan olahraga. Pihak dispora menyatakan bertanggung jawab pada even-even yang melibatkan pelajar seperti Pekan olahraga Pelajar Nasional (Popnas), Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda), serta Pekan Olahraga dan Seni Sekolah Dasar (Porseni SD).

Dispendik sendiri mengklaim juga mengemban tanggung jawab itu. Edi Santoso, kepala BPLS OR dan Seni Kota Surabaya, menyatakan bahwa Porseni SD dan Popda menjadi tanggung jawab dispendik. Dia mengungkapkan, kalaupun dispora dan dispendik memiliki wewenang sama, semestinya ada koordinasi yang matang. ''Seharusnya, kalau sudah Popnas (Pekan Olahraga Pelajar Nasional) baru menjadi tanggung jawab Dispora Jatim,'' paparnya saat ditemui di ruang dinasnya.

Menurut dia, sebelum era otonomi daerah (otoda) diberlakukan, pembinaan olahraga pelajar menjadi tanggung jawab dispendik. Saat ini, berkaitan dengan pembinaan olahraga yang melibatkan siswa, wewenang dua lembaga negara itu menjadi kacau. Abstrak
Prestasi olahraga Indonesia sedang berada di titik yang tidak diharapkan. Ironisnya, hal tersebut justru diperparah dengan aksi saling tuding dan lempar tanggungjawab antara pihak-pihak terkait. Yang diperlukan saat ini ahíla solusi, bukan hujat-menghujat sebagai efek dari kegagalan. Secara garis besar, untuk mencapai prestasi olahraga yang diinginkan, dibutuhkan tujuh faktor yang harus dipenuhi. Faktor-faktor tersebut digolongkan menjadi 2 yaitu faktor anternal dan faktor eksternal. Yang tergolong dalam faktor internal antara lain sistem pembinaan dan sarana-prasarana olahraga. Sedangkan yang termasuk kedalam faktor eksternal ialah faktor psikologis, rutinitas latihan, pelatih, keadaan fisik, serta teknik dan skill yang dimiliki atlet. Bila semua faktor tersebu telah dapat dipenuhi, maka pastilah prestasi olahraga Indonesia akan menjadi lebih baik.





Diakui atau tidak dewasa ini prestasi indonesia semakin terpuruk. Bahkan kini Indonesia hanya berada di kisaran perigkat empat atau lima pada level asia tenggara. Hal ini sangat ironis mengingat Indonesia adalah Negara dengan penduduk terbanyak di wilayah asia tenggara. Sebagai insane yang perduli terhadap perkembangan olahraga nasional, maka sudah seharusnya kita bersama-sama mencari solusi dan pemecahan atas masalah ini, bukan dengan cara saling menghujat dan menyalahkan satu sama lain.
Sebelum kita membahas tentang prestasi olahraga, sebaiknya kita ketahu terlebih dahulu pengertian prestasi olahraga.
Kata prestasi dapat diartikan sebagai pencapaian akhir yang memuaskan oleh seseorang atau tim, berdasarkan target awal yang dibebankan. Jadi prestasi tidak selalu identik dengan juara. Walaupun tidak menjadi juara atau meraih kemenangan, tetapi bila itu sudah dapat memenuhi atau bahkan melampaui target awal, maka itu sudah dapat dikatakan berprestasi.
Sementara kata olahraga mengandung makna segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan social dan biasanya berorientasi terhadap pencapaian prestasi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa prestasi olahraga adalah suatu pencapaian akhir yang memuaskan berdasarkan target awal tim atau atlet, dalam lingkup dunia olahraga.
Selanjutnya mari kita telaah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi olahraga seorang atlet. Secara garis besar, ada 7 faktor yang harus ada untuk meningkatkan Prestasi/menciptakan Prestasi di Olahraga. Faktor-faktor tersebut antara lain:






Diagram faktor penentu prestasi olahraga
Selanjutnya mari kita kaji lebih dalam faktor-faktor Prestasi diatas
Faktor Prestasi dalam kotak adalah faktor Prestasi External artinya faktor Prestasi diluar diri atlet.
Faktor Eksternal yang menyangkut Sarana dan Peralatan Olahraga
Sebagai contoh yang paling riel adalah jumlah stadion dengan lintasan lari sintetik di Indonesia dibandingkan dengan stadion dengan kwalitas yang sama di Malaysia. Kita (Indonesia) hanya punya Stadion seperti itu dalam jumlah yang sangat sedikit :
- di Jakarta hanya ada 2 (dua) di Ragunan dan Stadion Madya Senayan
- di Puwokerto ada 1 (satu)
- di Solo ada 1 (satu)
- di Surabaya ada 1 (satu) di Sidoarjo
- di Indonesia Timur belum ada, satu juga ngga ada
- di Sumatera di Palembang ada 1 (satu)
- di Medan ada 1 (satu)
- di Kalimantan baru ada 1 (satu) yaitu di Stadion Madya Sempaja (Samarinda)
Total diseluruh Indonesia kita baru punya 8 buah Stadion dengan lintasan lari Sintetik. Kota Kuala Lumpur punya lebih dari 8 buah Stadion dengan lintasan lari Sintetik yang lebih mengenaskan lagi Malaysia punya lebih dari 40 Stadion seperti itu. Kalau mau sehat saja kita boleh puas dengan Ring Road Stadion Utama Senayan, atau Jalan yang dipadati manusia di sekitar Gedung Sate Bandung atau Monas di jantung Jakarta, mau Prestasi ya di Stadion.
Peralatan olahraga, sepatu olahraga yang enak dipakai dan punya kwalitas baik adalah barang mewah, kalau latihan itu bisa berlangsung menyenangkan perlengkapan standarnya juga harus baik dan memberikan ”Comfort” bagi pemakainya. Korea bisa jadi negara kuat di Panahan, demikian pula Jepang. Mengapa? Mereka adalah negara produsen busur panah dan anak panah dengan standard kwalitas Dunia. Semua peralatan olahraga adalah barang mewah, jadi harus mahal, kalau keadaaan seperti ini berlanjut terus kapan kita dapat atlet yang biasa dengan peralatan pertandingan Internasional. Mau beli lembing, tunggu sebulan, karena kalau toko olahraga beli lembing itu modal yang mati karena pembelinya hanya 2 sampai 5 instansi dalam 4 tahun. (menjelang PON). Jadi rimbangan untuk berprestasi di Indonesia diluar diri atlet adalah terbatasnya atau sangat kurang tersedianya sarana olahraga dan peralatan olahraga. Siapa atau Instansi mana yang bertanggung jawab untuk menembus kekuatan ini ?
Faktor Eksternal yang kedua adalah sistem pembinaan. Salah satu wujud pembinaan yan dilakukan adalah dengan cara menggelar kompetisi intern secara reguler. Jangan diartikan secara sempit pengertian keadaan kompetisi cabor di Indonesia. Sepak bola punya kompetisi yang diatur oleh PSSI, Bola Volley ada liga Bola Volley, Bola Basket juga punya IBL. Bukan hanya kompetisi seperti Sepak Bola, Bola Volley atau Bola Basket yang sudah dilakukan PSSI, atau Liga Bola Volley dan IBL. Yang dimaksud dengan keadaan kompetisi cabang olahraga adalah system pembinaan yang terus menerus, berjenjang dan berkesinambungan harus terjadi disemua cabang olahraga. Massa olahragawan harus diperbanyak sebagai langkah pertama. Dari kompetisi antar klub atau kejuaraan kelompok umur yang terbatas (untuk daerah domisili) sampai yang terbuka harus ada kalendernya. Mengapa Tenis Wimbledon selalu dinantikan semua Petenis terbaik Dunia? Karena tradisi dan tanggal penyelenggaraan yang sudah pasti dari tahun ke tahun. Demikian pula dengan kejuaraan-kejuaraan akbar lainnya, di Indonesia kejuaraan-kejuaraan yang akbar untuk atlet Nasional dari berbagai kategori harus direncanakan dan dilaksanakan secara tetap sehingga kita bisa mencari bakat/potensi-potensi besar yang belum terjaring untuk dibina lebih lanjut. Kejuaraan-kejuaraan dengan sponsor selama 5 tahun harus dicari. Kalau perlu diperpanjang lagi untuk 5 tahun berikutnya. Siapa yang melakukan fungsi ini di Indonesia KONIkah, PBkah, MENEGPORA atau kita serahkan pada swasta yang bergerak di penyelenggaraan event-event besar/terkenal?
Uraian diatas tidak lengkap untuk bisa menjelaskan peranan faktor prestasi external dari seorang atlet, masih banyak uraian dan contoh yang bisa dijadikan indikator kedua faktor external dalam usaha membina peningkatan Prestasi seorang atlet. Katakanlah Faktor lingkungan yang selalu tidak dapat dipisahkan dari usaha seorang atlet atau sebuah tim dalam usahanya meraih prestasi. Faktor lingkungan ini dapat berbentuk berbagai macam hal, seperti perhatian pemerintah, dukungan masyarakat, sarana dan prasarana latihan, serta management olahraga yang baik.
Untuk faktor internal, faktor yang paling penting dan sering dilupakan adalah faktor psikologis dan rutinitas latihan. Faktor psikologis sangat berperan karena dalam menghadapi suatu pertandingan atau bahkan ketika sedang berlatih, seorang atlet membutuhkan rasa aman, percaya diri, disiplin, serta motivasi, sementara faktor latihan rutin sangat penting, mengingat latihan yang rutin merupakan menunjang persiapan menghadapi pertandingan atau juga dapat berfungsi sebagai media mengasah kekompakan dan strategi untuk sebuah tim.
Faktor internal berikutnya ialah pelatih. Faktor pelatih merupakan tokoh sentral dalam kesuksesan seorang atlet. Pelatih mempunyai peran pula dalam mengembangkan faktor internal prestasi olahraga berikutnya, yaitu keterampilan teknik dan skill serta fisik atlet.
Jika kesemua faktor tersebut sudah dapat dipenuhi oleh Indonesia dalam melakukan pembinaan terhadap atlet-atletnya, maka niscaya kita akan berada ditingkatan yang lebih terhormat dari pada saat ini. Majulah olahraga, majulah Indonesiaku.