Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Wednesday, December 8, 2010

Penyingkapan diri (Self disclosure)

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/12872212/Penyingkapandiri.docx.html

Menurut Cassandra L. Book, self disclosure adalah “One of the most effective ways of eliciting information from others is to disclosure information about oneself. As we have mentioned, the norm of reciprocity implies that if one party to a relationship is willing to reveal information about his beliefs, the other party is likely to respond in kind” . Atau Salah satu jalan yang paling efektif menimbulkan informasi dari lainnya adalah untuk penyingkapan informasi tentang dirinya. Seperti yang sudah kita sebutkan, norma hal timbal balik menyiratkan bahwa jika seseorang [khawatir akan] suatu hubungan akan mengungkapkan informasi tentang kepercayaannya, pihak lain akan menjawab setimpal.

Dan menurut Dedy Mulyana, Penyingkapan diri adalah :

membeberkan informasi tentang diri sendiri. Banyak sekali yang kita ungkapkan tentang diri kita melalui ekspresi wajah, sikap tubuh, pakaian, nada suara dan melalui isyarat – isyarat nonverbal lainnya yang tidak terhitung jumlahnya, meskipun banyak di antara perilaku tersebut tidak disengaja. Namun, “penyikapan diri” yang kita pakai di sini merupakan perilaku yang disengaja .


Penyingkapan diri merupakan suatu usaha untuk membiarkan keotentikan memasuki hubungan sosial kita, dan kini kita mengetahui bahwa hal ini berkaitan dengan kesehatan mental dan dengan pengembangan konsep diri.
Dari definisi diatas, penulis dapat menyimpulkan pengertian penyingkapan diri adalah suatu cara yang paling efektif untuk mengungkapan tentang diri kita kepada orang lain melalui ekspresi wajah, siakp tubuh, pakaian, nada suara dan melalui isyarat – isyarat nonverbal lainnya yang tidak terhitung jumlahnya, dan perilaku ini adalah perilaku yang disengaja.
Lebih jauh, Jalaludin Rakhmat (1994) memberi catatan bahwa terdapat tiga faktor dalam komunikasi antarpribadi yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik, yaitu:

a. Percaya (trust)
Dalam semua faktor yang mempengaruhi komunikasi antarpribadi, faktor inilah yang paling penting. Bila seseorang percaya pada seseorang, dia akan lebih mudah untuk membuka diri atau melakukan penyingkapan diri. Kepercayaan inilah yang menentukan efektifitas komunikasi.
Secara ilmiah, kata ”percaya” didefinisikan sebagai ”mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko” .
Ada tiga faktor yang berhubungan dengan sikap percaya :
1. karakteristik dan maksud orang lain
orang akan lebih menaruh kepercayaan kepada seseorang yang dianggap memiliki kemampuan, keterampilan atau pengalaman dalam bidang tertentu. Kita akan menaruh kepercayaan pada orang – orang seperti itu, hal ini disebabkan pengaruh persepsi kita pada maksud orang lain dalam hubungannya dengan maksud kita. Kita akan lebih percaya pada orang – orang yang mempunyai maksud sama dengan kita.
2. hubungan kekuasaan
kepercayaan akan tumbuh jika orang – orang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain. Seseorang akan percaya pada orang lain yang tunduk pada orang tersebut.

3. sifat dan kualitas komunikasi
bila komunikasi bersifat terbuka, bila maksud dan tujuan sudah jelas, bila ekspektasi sudah dinyatakan, maka akan tumbuh sikap percaya .


b. sikap suportif
sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Orang bersikap defensif bila ia tidak menerima, tidak jujur, dan tidak empatis .
c. sikap terbuka.
Sikap terbuka dalam menumbuhkan komunikasi amat besar pengaruhnya dalam interpersonal yang efektif. Kebalikan dari sikap ini adalah sikap dogmatisme atau karakteristik orang yang tertutup. Contoh karakteristik orang yang bersikap tertutup:
1. Menilaikan pesan berdasarkan motif pribadi
orang yang dogmatis tidak akan memperhatikan logika suatu proposisi, ia lebih banyak melihat sejauh mana proposisi itu sesuai dengan dirinya.
2. Berpikir simplistis
Bagi orang dogmatis, dunia ini hanya hitam dan putih, tidak ada kelabu. Dia tidak mengenal setengah salah atau setengah benar.
3. Berorientasi pada sumber
Orang yang dogmatis selalu mementingkan siapa yang bicara, bukan apa yang dibicarakan. Ia terikat sekali pada otoritas multak.
4. Mencari informasi dari sumber sendiri
Orang – orang dogmatis hanya mempercayai sumber informasi mereka sendiri. Mereka tidak akan meneliti tentang orang lain dari sumber yang lain.
5. secara kaku mempertahankan dan membela sistem kepercayaannya.
Orang dogmatis selalu menerima apa yang dipercayainya secara mutlak.
6. tidak mampu membiarkan inkonsistensi
orang – orang dogmatis tidak tahan hidup dalam suasana inkosisten. Informasi yang tidak konsisten dengan desakan dari dalam dirinya akan ditolak, didistorsi, atau tidak dihiraukan sama sekali.

Pentingnya proses psikologis hendaknya dipahami secara cermat, artinya proses intrapribadi dari partisipan komunikasi bukanlah hal yang sama dengan hubungan antarpribadi. Apa yang terjadi dalam diri individu bukanlah komunikasi antarpribadi melainkan proses psikologis. Meskipun demikian proses psikologis dari tiap individu pasti mempengaruhi komunikasi antarpribadi yang pada gilirannya juga mempengaruhi hubungan antarpribadi.