Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Thursday, December 2, 2010

PENGERTIAN FILSAFAT

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/12785145/nanapsikop.doc.html

Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Ciri-ciri berfikir filosfi :
1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.
2. Berfikir secara sistematis.
3. Menyusun suatu skema konsepsi, dan
4. Menyeluruh.
Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :
1. Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika
2. Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.
3. Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.
Beberapa ajaran filsafat yang telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu adalah:
1. Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis.
2. Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif.
3. Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi.
4. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.
Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :
1. Sebagai dasar dalam bertindak.
2. Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
3. Untuk mengurangi salah paham dan konflik.
4. Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.
2. FILSAFAT PENDIDIKAN

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
Beberapa aliran filsafat pendidikan;
1. Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
2. Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan
3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.
Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
3. ESENSIALISME DAN PERENIALISME

Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada.
Esensialisme juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat hahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual. Realisme berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung pada apa dan bagaimana keadaannya, apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada subjek tersebut.
Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut. Menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai- nilai yang telah teruji keteguhan-ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang masa.
Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.
Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:
1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)
2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)
3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)
Adapun norma fundamental pendidikan menurut J. Maritain adalah cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi serta cinta kerjasama.
4. PENDIDIKAN NASIONAL

Pendidikan nasional adalah suatu sistem yang memuat teori praktek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat bangsa yang bersangkutan guna diabdikan kepada bangsa itu untuk merealisasikan cita-cita nasionalnya.
Pendidikan nasional Indonesrn adalah suatu sistem yang mengatur dan menentukan teori dan pratek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh flisafat bangsa Indonesia yang diabdikan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia guna memperlanar mencapai cita-cita nasional Indonesia.
Filsafat pendidikan nasional Indonesia adalah suatu sistem yang mengatur dan menentukan teori dan praktek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat hidup bangsa "Pancasila" yang diabdikan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia dalam usaha merealisasikan cita-cita bangsa dan negara Indonesia.

Karena luasnya lingkungan pembahasan ilmu filsafat, maka tidak mustahil kalau banyak di antara para filsafat memberikan definisinya secara berbeda-beda. Coba perhatikan definisi-definisi ilmu filsafat dari filsuf Barat dan Timur di bawah ini:
a. Plato (427SM - 347SM) seorang filsuf Yunani yang termasyhur murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
b. Aristoteles (384 SM - 322SM) mengatakan : Filsafat adalah ilmua pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
c. Marcus Tullius Cicero (106 SM - 43SM) politikus dan ahli pidato Romawi, merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
d. Al-Farabi (meninggal 950M), filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan : Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
e. Immanuel Kant (1724 -1804), yang sering disebut raksasa pikir Barat, mengatakan : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
- apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)
- apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)
- sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi)
f. Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI, menyimpulkan: Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.
g. Drs H. Hasbullah Bakry merumuskan: ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
Kesimpulan
Setelah mempelajari rumusan-rumusan tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa:
a. Filsafat adalah ‘ilmu istimewa’ yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa kerana masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
b. Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis
hakikat sarwa yang ada, yaitu:
- hakikat Tuhan,
- hakikat alam semesta, dan
- hakikat manusia,
serta sikap manusia sebagai konsekuensi dari paham tersebut. Perlu ditambah bahwa definisi-definisi itu sebenarnya tidak bertentangan, hanya penekanannya saja yang berbeda.
Ada orang yang menamakannya ilmu, ada yang menamainya ilmu pengetahuan, dan pula ada yang menyebutnya sains. Keberagaman istilah tersebut adalah suatu usaha untuk melahirkan padanan (meng-Indonesiakan) kata science yang asalnya dari bahasa Inggris. Pengertian yang terkandung dibalik kata-kata yang berbeda tersebut ternyata juga tidak kalah serba ragamnya. Keserbaragamannya bahkan kadang-kadang seolah-olah mengingkari citra ilmu pengetahuan itu sendiri yang pada dasarnya bertujuan untuk merumuskan sesuatu dengan tepat, tunggal dan tidak bias.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 2001, ilmu artinya adalah pengetahuan atau kepandaian. Dari penjelasan dan beberapa contohnya, maka yang dimaksud pengetahuan atau kepandaian tersebut tidak saja berkenaan dengan masalah keadaan alam, tapi juga termasuk “kebatinan” dan persoalan-persoalan lainnya. Sebagaimana yang sudah kita kenal mengenai beberapa macam nama ilmu, maka tampak dengan jelas bahwa cakupan ilmu sangatlah luas, misalnya ilmu ukur, ilmu bumi, ilmu dagang, ilmu hitung, ilmu silat, ilmu tauhid, ilmu mantek, ilmu batin (kebatinan), ilmu hitam, dan sebagainya.
Kata ilmu sudah digunakan masyarakat sejak ratusan tahun yang lalu. Di Indonesia, bahkan sebelum ada kata ilmu sudah dikenal kata-kata lain yang maksudnya sama, misalnya kepandaian, kecakapan, pengetahuan, ajaran, kawruh, pangrawuh, kawikihan, jnana, widya, parujnana, dan lain-lain. Sejak lebih dari seribu tahun yang lampau nenek moyang bangsa kita telah menghasilkan banyak macam ilmu, contohnya kalpasastra (ilmu farmasi), supakasastra (ilmu tataboga), jyotisa (ilmu perbintangan), wedastra (ilmu olah senjata), yudanegara atau niti (ilmu politik), wagmika (ilmu pidato), sandisutra (sexiology), dharmawidi (ilmu keadilan), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ada yang mencoba membedakan antara pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science). Pengetahuan diartikan hanyalah sekadar “tahu”, yaitu hasil tahu dari usaha manusia untuk menjawab pertanyaan “what”, misalnya apa batu, apa gunung, apa air, dan sebagainya. Sedangkan ilmu bukan hanya sekadar dapat menjawab “apa” tetapi akan dapat menjawab “mengapa” dan “bagaimana” (why dan how)., misalnya mengapa batu banyak macamnya, mengapa gunung dapat meletus, mengapa es mengapung dalam air.

Pengetahuan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi ilmu apabila memenuhi tiga kriteria, yaitu obyek kajian, metoda pendekatan dan bersifat universal. Tidak selamanya fenomena yang ada di alam ini dapat dijawab dengan ilmu, atau setidaknya banyak pada awalnya ilmu tidak dapat menjawabnya. Hal tersebut disebabkan ilmu yang dimaksud dalam terminologi di sini mensyaratkan adanya fakta-fakta.

Filsafat adalah suatu ilmu yang kajiannya tidak hanya terbatas pada fakta-fakta saja melainkan sampai jauh diluar fakta hingga batas kemampuan logika manusia. Batas kajian ilmu adalah fakta sedangkan batas kajian filsafat adalah logika atau daya pikir manusia. Ilmu menjawab pertanyaan “why” dan “how” sedangkan filsafat menjawab pertanyaan “why, why, dan why” dan seterusnya sampai jawaban paling akhir yang dapat diberikan oleh pikiran atau budi manusia (munkin juga pertanyaan-pertanyaannya terus dilakukan sampai never ending)..
Sementara ada yang berpendapat bahwa filsafat pada dasarnya bukanlah ilmu, tetapi suatu usaha manusia untuk memuaskan dirinya selagi suatu fenomena tidak / belum dapat dijelaskan secara keilmuan. Sebagai contoh dulu orang percaya bahwa orang yang sakit lantaran diganggu dedemit, meletusnya gunungapi adalah akibat dewa penguasa gunung tersebut murka, gempabumi terjadi karena Atlas dewa yang menyangga bumi “gagaro lantaran ateul bujur”, dan masih banyak lagi.


4
BAB II
FILSAFAT
I. PENGERTIAN FILSAFAT
Orang yang berfilsafat dapat diumpamakan sebagai seseorang yang berpijak di
bumi sedang tengadah ke bintang-bintang , ia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kemestaan alam, Karakteristiknya berfikit filsafat yang pertama adalah menyeluruh, yang kedua mendasar.7
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi
segala sesuatu berdasarkan pikiran/ rasio belaka.
a. Menurut Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalam- dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan
b. Menurut Plato( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada
c.Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat
menyelidiki sebab dan asas segala benda.
d.Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah
pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya.
e.Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya.
f.Immanuel kant (1724 – 1804) menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup didalamnya 4 persoalan : yaitu (1) apakah yang dapat kita ketahui (dijawab dengan Metafisika) ,(2) Apakah yang boleh kita kerjakan (dijawab dengan etika), (3) Sampai dimanakah pengharapan kita (dijawab dengan agama) (4) Apakah yang dinamakan manusia (dijawab dengan antropologi)
g.Harold H.Titus mengemukakan 4 pengertian filsafat. adalah :
(1) satu sikap tentang hidup dan tentang alam semesta(Philosophy is an
attitude toward life and the universe)
(2) Filsafat adalah satu metode pemikiran reflektif dan penyelidikan Akliah(Philosophy is a method of reflective thinking and reasoned inquired)
(3) Filsafat adalah satu perangkat masalah ( philosophy is a group pf problems)
(4) Fissafat ialah satu perangkat teori atau isi pikiran (philosophy is a group of
system of thouhg. .8
h.Prof. Dr. Fuad Hassan guru besar psikologi universitas indonesia menyimpulkan
bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal dalam arti mulai dari
radix suatu gejala dari akar suatu hal yang hendak dimasalahkan, dan dengan
jalan penjajagan yang radikal filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-
kesimpulan yang universal



PENALARAN DEDUKTIF
Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.

PENALARAN INDUKTIF
Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala.

GENERALISASI
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Contoh: Grace Natalie adalah presenter berita, dan ia berparas cantik.
Fessy Alwi adalah presenter berita, dan ia berparas cantik.
Generalisasi: Semua presenter berita berparas cantik.


Pernyataan "semua presenter berita berparas cantik" hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Macam-macam generalisasi
Generalisasi sempurna adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus penduduk
Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.

ANALOGI
Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada.
Contohnya pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan karyawan-karyawati.



HIPOTESA
hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan terarah. Dalam berfikir sehari-hari, orang menyebutnya anggapan, perkiraan, dugaan, dan sebagainya. Hipotesa juga berarti sebuah pernyataan atau proposisi yang mengatakan bahwa diantara sejumlah fakta ada hubungan tertentu.
Tahap-tahap Pembentukan Hipotesa secara umum
1. Penentuan masalah
2. Hipotesa Pendahuluan atau hipotesa preliminer
3. Pengumpulan
4. Formulasi hipotesa
5. Pengujian hipotesa, artinya mencocokkan hipotesa dengan keadaan yang dapat diobservasi
6. Aplikasi/penerapan

Hipotesis-Teori
Secara simplisitik suatu teori berkembang dari suatu hipotesa yang merupakan gagasan yang sebagai akibatnya akan memprediksi suatu gejala untuk dibuktikan dengan pengamatan-pengamatan. Jika pengamatan-pengamatan itu terus menerus dapat menginyakan prediksi tersebut maka hipotesa itu berkembang menjadi suatu teori.
HUBUNGAN KAUSALITAS
Kausalitas menyatakan hubungan yang niscaya (necessary) antara satu kejadian (cause) dengan kejadian lainnya (effect) yang adalah konsekuensi langsung dari yang pertama.
Dalam penyebab efisien (causa efficiens), sumber kejadian menjadi faktor yang menjalankan atau menggerakkan kejadian. Dalam penyebab final (causa finalis), tujuanlah yang menjadi sasaran sebuah kejadian. Dalam penyebab material (causa materialis), bahan dari mana benda tertentu dibuat menjadi penyebab kejadian. Sementara dalam penyebab formal (causa formalis), bentuk tertentu ditambahkan pada sesuatu sehingga sesuatu itu memiliki bentuk tertentu.

Salah nalar
gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat disebut salah nalar. Salah nalar disebabkan oleh ketidaktepatan orang mengikuti tata cara pikirannya.
Contoh : Presenter TvOne Cantik-cantik.

Pengertian & Contoh
1. Pengertian Kemampuan PenalaranInduktif
Menurut Tim Balai Pustaka (dalam Shofiah, 2007 : 14) istilah penalaran mengandung tiga pengertian, diantaranya :

1. Cara (hal) menggunakan nalar, pemikiran atau cara berpikir logis.
2. Hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman.
3. Proses mental dalam mengembangkan atau mengendalikan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip.

Selanjutnya Shurter dan Pierce (dalam Shofiah, 2007 : 14) menjelaskan bahwa secara garis besar terdapat dua jenis penalaran yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif. Penalaran deduktif adalah cara menarik kesimpulan khusus dari hal-hal yang bersifat umum. Sedangkan penalaran induktif adalah cara menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat khusus.

Menurut Suriasumantri (dalam Shofiah, 2007 :15) penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang berupa penarikan kesimpulan yang umum atau dasar pengetahuan tentang hal-hal yang khusus. Artinya,dari fakta-fakta yang ada dapat ditarik suatu kesimpulan.
Kesimpulan umum yang diperoleh melalui suatu penalaran induktif ini bukan merupakan bukti. Hal tersebut dikarenakan aturan umum yang diperoleh dari pemeriksaan beberapa contoh khusus yang benar, belum tentu berlaku untuk semua kasus.

Aspek dari penalaran induktif adalah analogi dan generalisasi. Menurut Jacob (dalam Shofiah, 2007 :15), hal ini berdasarkan bahwa penalaran induktif terbagi menjadi dua macam, yaitu generalisasi dan analogi.

• Analogi adalah proses penyimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Analogi dapat juga dikatakan sebagai proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya, kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan.

• Ganaralisasi adalah penarikan kesimpulan umum dari data atau fakta-fakta yang diberikan atau yang ada.
Hipotesa berasal dari bahasa Yunani: hypo= di bawah;thesis = pendirian, pendapat yang ditegakkan, kepastian. Artinya, hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan terarah.Dalam berfikir sehari-hari, orang menyebutnya anggapan, perkiraan, dugaan, dan sebagainya. Hipotesa juga berarti sebuah pernyataan atau proposisi yang mengatakan bahwa diantara sejumlah fakta ada hubungan tertentu.

Proses pembentukan hipotesa adalah proses penalaran, yang melalui tahap-tahap tertentu. Hal demikian juga terjadi dalam pembuatan hipotesa ilmiah, yang dilakukan dengan sadar, teliti, dan terarah.
Teori
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan yang berbeda pula tergantung pada metodologi dan konteks diskusi. Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta .[1] Selain itu, berbeda dengan teorema, pernyataan teori umumnya hanya diterima secara "sementara" dan bukan merupakan pernyataan akhir yang konklusif. Hal ini mengindikasikan bahwa teori berasal dari penarikan kesimpulan yang memiliki potensi kesalahan, berbeda dengan penarikan kesimpulan pada pembuktian matematika.

Dalam ilmu pengetahuan, teori dalam ilmu pengetahuan berarti model atau kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alami atau fenomena sosial tertentu. Teori dirumuskan, dikembangkan, dan dievaluasi menurut metode ilmiah. Teori juga merupakan suatu hipotesis yang telah terbukti kebenarannya.

Manusia membangun teori untuk menjelaskan, meramalkan, dan menguasai fenomena tertentu (misalnya, benda-benda mati, kejadian-kejadian di alam, atau tingkah laku hewan). Sering kali, teori dipandang sebagai suatu model atas kenyataan (misalnya : apabila kucing mengeong berarti minta makan). Sebuah teori membentuk generalisasi atas banyak observasi dan terdiri atas kumpulan ide yang koheren dan saling berkaitan.

Istilah teoritis dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang diramalkan oleh suatu teori namun belum pernah terobservasi. Sebagai contoh, sampai dengan akhir-akhir ini, lubang hitam dikategorikan sebagai teoritis karena diramalkan menurut teori relativitas umum tetapi belum pernah teramati di alam.

Terdapat miskonsepsi yang menyatakan apabila sebuah teori ilmiah telah mendapatkan cukup bukti dan telah teruji oleh para peneliti lain tingkatannya akan menjadi hukum ilmiah. Hal ini tidaklah benar karena definisi hukum ilmiah dan teori ilmiah itu berbeda. Teori akan tetap menjadi teori, dan hukum akan tetap menjadi hukum.
Kausalitas
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kausalitas merupakan perinsip sebab-akibat yang dharuri dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Alternatif dari penalaran deduktif adalah penalaran induktif. Perbedaan dasar di antara keduanya dapat disimpulkan dari dinamika deduktif tengan progresi secara logis dari bukti-bukti umum kepada kebenaran atau kesimpulan yang khusus; sementara dengan induksi, dinamika logisnya justru sebaliknya. Penalaran induktif dimulai dengan pengamatan khusus yang diyakini sebagai model yang menunjukkan suatu kebenaran atau prinsip yang dianggap dapat berlaku secara umum.
SALAH NALAR : Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat.
Premis mayor artinya pernyataan umum, sementara premis minor artinya pernyataan khusus. Proses itu dikenal dengan istilah silogisme. Misalnya, "Semua orang akhirnya akan mati" (premis mayor). Hasan adalah orang (premis minor). Oleh karena itu, "Hasan akhirnya juga akan mati" (kesimpulan). Jadi, berfikir deduktif adalah berpikir dari yang umum ke yang khusus. Dari yang abstrak ke yang konkrit. Dari teori ke fakta-fakta. Sebaliknya adalah berfikir induktif. Berfikir induktif adalah berfikir dari yang khusus ke yang umum. Berfikir induktif adalah berfikir berdasarkan pada pengajuan fakta-fakta dahulu.
Sumber :
ArtNet
Jawaban Lainnya

TS Newbie
andreanugrah
440 hari yang lalu
0 0

Premis mayor adalah dasar pemikiran yang pada umum, dan pd umumnya dapat diterima semua kalangan, premis minor muncul dari sebagian orang saja yang mungkin masih akan memunculkan pemikiran2 yang baru lagi...
Premis mayor artinya pernyataan umum, sementara premis minor artinya pernyataan khusus. Proses itu dikenal dengan istilah silogisme. Misalnya, "Semua orang akhirnya akan mati" (premis mayor). Hasan adalah orang (premis minor). Oleh karena itu, "Hasan akhirnya juga akan mati" (kesimpulan). Jadi, berfikir deduktif adalah berpikir dari yang umum ke yang khusus. Dari yang abstrak ke yang konkrit. Dari teori ke fakta-fakta. Sebaliknya adalah berfikir induktif. Berfikir induktif adalah berfikir dari yang khusus ke yang umum. Berfikir induktif adalah berfikir berdasarkan pada pengajuan fakta-fakta dahulu.
Sumber :
ArtNet
A. Pengertian Konklusi
Penarikan konklusi atau inferensi ialah proses mendapatkan suatu proposisi yang ditarik dari satu atau lebih proposisi, sedangkan proposisi yang diperoleh harus dibenarkan oleh proposisi (proposisi) tempat menariknya. Proposisi yang diperoleh itu disebut konklusi. Penarikan suatu konklusi dilakukan atas lebih dari satu proposisi dan jika dinyatakan dalam bahasa disebut argumen. Proposisi yang digunakan untuk menarik proposisi baru disebut premis sedangkan proposisi yang ditarik dari premis disebut konklusi atau inferensi.
Penarikan konklusi ini dilakukan denga dua cara yaitu induktif dan deduktif. Pada induktif, konklusi harus lebih umum dari premis (premisnya), sedangkan pada deduktif, konklusi tidak mungkin lebih umum sifatnya dari premis (premisnya). Atau dengan pengertian yang popular, penarikan konklusi yang induktif merupakan hasil berfikir dari soal-soal yang khusus membawanya kepada kesimpulan-kesimpulan yang umum. Sebaliknya, penarikan konklusi yang deduktif yaitu hasil proses berfikir dari soal-soal yang umum kepada kesimpulan-kesimpulan yang khusus.
Penarikan suatu konklusi deduktif dapat dilakukan denga dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Penarikan konklusi secara langsung dilakukan jika premisnya hanya satu buah. Konklusi langsung ini sifatnya menerangkan arti proposisi itu. Karena sifatnya deduktif, konklusi yang dihasilkannya tidak dapat lebih umum sifatnya dari premisnya. Penarikan konklusi secara tidak langsung terjadi jika proposisi atau premisnya lebih dari satu. Jika konklusi itu ditarik dari dua proposisi yang diletakan sekaligus, maka bentuknya disebut silogisme (silogisme ini akan dibahas pada bab khusus).
Karena silogisme akan dibahas pada bab khusus, maka pada bab ini akan dipaparkan penarikan konklusi secara langsung.
Ilmu pengetahuan mendorong teknologi, teknologi mendorong penelitian, penelitian menghasilkan ilmu pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan baru mendorong teknologi baru.


Ilmu-ilmu sosial selama bertahun-tahun telah menjadi arena sejumlah kritik. Ilmu sosial secara garis besar dianggap sebagai ‘ilmu yang tidak mungkin’. Argumentasi yang ada melihat bahwa gejala sosial adalah terlalu rumit untuk diselidiki. Ilmu sosial, yang membahas mengenai seluruh seluk beluk kehidupan manusia, dianggap tak mampu menangkap ke-kompleksitas-annya. Manusia memiliki gejala dan perilaku yang selalu berubah-ubah, inilah yang mendasari munculnya argumentasi tersebut. Namun, pandangan ini muncul disebabkan oleh kesalahan pada pemahaman tentang hakekat ilmu.

Kesalahan tentang Hakekat Ilmu
Apa yang dimaksudkan dengan lmu dan apa yang dikerjakannya menjadi dasar kesalahan memandang ilmu itu sendiri. Ilmu diharuskan untuk mereproduksikan kenyataan, dan ilmu yang tak mampu melakukannya dianggap gagal. Kekacauan lain adalah tentang sifat dan fungsi ilmu. Dalam hal ini, fungsi ilmu tidak hanya untuk memproduksikan alam secara harfiah, namun juga bahwa pernyataan keilmuan harus membawakan sensasi, rekasi, atau tanggap terhadap rangsang yang betul-betul, atau hampir sama, atau memberikan pengalaman yang sama.
Ilmu dianggap sebagai hal yang harus menjadikan segala sesuatunya sama. Tuduhan bahwa ‘kenyataan terlalu sulit untuk ditangkap’ terletak pada kekacauan memandang hakekat dan fungsi keilmuan.

Tuduhan Terhadap Ilmu-Ilmu Sosial
Ilmu Sosial dianggap gagal memberikan gambaran psikologis yang ekivalen. Mis : Keunikan dari interaksi sosial dari sebuah rapat dewan direktur.
Metode keilmuan bersifat generalisasi sehingga tidak mampu menangkap keunikan gejala sosial. Padahal penelaah-penelaah sosial tertarik pada Keunikan tiap-tiap kejadian sosial. Sehingga harus diterapkan metode lain dalam ilmu sosial.

Cara Menentukan sejauh mana argumentasi mampu meyakinkan kita:
Tanyakan dulu pada diri sendiri apa yang diartikan dengan UNIK dan istilah-istilah yang serupa dalam lingkup ini. Kiranya jelas bahwa suatu bentuk UNIK secara hakiki (sebuah bentuk berbeda dengan semua bentuk lainnya).
Contoh : Dari setiap 2 benda yang berbeda A dan B, akan terdapat paling tidak 1 sifat yang dipunyai yang satu namun tidak dipunyai oleh yang lainnya.
Semua Gejala ilmu-ilmu sosial adalah UNIK. Jika anggapan mengenai keunikan ini adalah benar, maka bukan hanya ilmu-ilmu sosial namun semua ilmu adalah TIDAK MUNGKIN.

Pemunculan (Emergentisme)
Kaum emergentis melihat bahwa terdapat beberapa gejala sosial, namun tidak seluruhnya, yang tidak dapat diteliti secara keilmuan, sejauh menyangkut hukum sebab akibat. Keraguan ini didasarkan pada thesis pemunculan mutlak. Dalam thesis ini, beberapa peristiwa terjadi dan tidak bisa diramalkan (tidak logis).
Sedangkan dalam thesis pemunculan relatif, dikemukakan bahwa neberapa persitiwa terjadi dan disebabkan keadaan-keadaan tertentu. Thesis pemunculan relatif menyatakan bahwa sudah tidak diragukan lagi, tapi tidak menutup kemungkinan, jika gejala sosial diselidiki dengan metode keilmuan, karena berdasar thesis pemunculan mutlak, dan metode keilmuan sama sekali tidak bisa diterapkan jika tidak ada bukti yang mendukung.
Untuk menyusun thesis pemunculan mutlak, bukan saja harus membuktikan tidak ada hipotesis yang serupa yang sudah dirumuskan, atau tidak akan ada hipotesis yang akan dirumuskan di masa depan, tetapi juga harus dibuktikan secara logis. Dalam hal ini, pendukung-pendukungnya belum dapat memberikan bukti-bukti tersebut dan sukar membayangkan bagaimana bukti-bukti tersebut dapat diberikan.

Verstehen
Verstehen berari “pengertian” berbeda dengan Wissen yang artinya “mengetahui”. Verstehen adalah MENGERTI bukan saja MENGETAHUI kejadian sosial. Untuk mengerti kejadian sosial, kita harus menempatkan diri pada tempat obyek yang diteliti. Misalnya, untuk mengetahui kehidupan martir, kita harus menempatkan diri sebagai martir. Dengan introspeksi berdasarkan pengalaman intuitisi yang langsung, maka kita akan mendapatkan pengertian tersebut.
Melihat Verstehen, metodologi ini tidak melihat apakah dengan tercapainya suatu pengertian yang mendalam tentang beberapa pokok persoalan adalah berguna, atau apakah Verstehen merupakan teknik dalam menemukan dan hipotesis. Juga tidak melihat apakah teknik-teknik penemuan seperti itu adalah khusus bagi ilmu-ilmu sosial.
Masalah yang sebenarnya adalah apakah Verstehen merupakan metode yang dapat diandalkan dalam proses pengesyahan hipotesis gejala sosial. Apakah Verstehen, jika memang ada, dan dalam pengertian apa adalah metode pengesyahan. Kedua, apakah memang Verstehen merupakan metodologi yang penting hanya bagi ilmu-ilmu sosial itu sendiri.
Pertanyaan tersebut dijawab dengan argumentasi berikut:
Dalam metodologi ilmu-ilmu sosial, bertujuan mendapatkan pengertian mendalam, di mana hal ini dapat dicapai dan disyahkan baik dengan Verstehen dengan mencoba merasakan kejadian sosial tersebut. Pendapat ini di didukung pula oleh Max Weber.
Jika kita menyingkirkan kesulitan dalam mendefinisikan pengertian seperti “penuh arti” dan “pengertian” maka kita bisa menerima Verstehen sebagai suatu metode pengesyahan. Verstehen bukanlah metode satu-satunya dalam ilmu-ilmu sosial.
Posted by Johan at 8:47 PM



Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

alisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknis ini menitik beratkan pada rasio finansial dan kejadian - kejadian yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Sebagian pakar berpendapat teknik analisis fundamental lebih cocok untuk membuat keputusan dalam memilih saham perusahaan mana yang dibeli untuk jangka panjang. analisis fundamental dibagi dalam tiga tahapan analisa yaitu analisis ekonomi, analisis industri, dan analisis perusahaan

Rasa Adalah Kesadaran Manusia?
Januari 6, 2009
Ajaran kejawen sering menyebut kata “rasa”. Tapi, seringkali disamakan dengan rasa pada makanan atau sensasi ragawi. Setahu saya kalau di wilayah raga biasa disebut hawa, walau terminologi rasa sering dipakai juga. Jadi, apa yang sebenarnya yang dimaksud dengan rasa? Menurut Ki Ageng Suryomentaram itulah potensi yang relatif sama dalam diri tiap manusia. Beliau menganggap kesadaran manusia pun adalah rasanya. Kebetulan saya mendapati dalam ajaran ilmu jiwa versi jawa ada empat tingkatan kesadaran.
Pada prinsipnya saya hanya akan memaparkan pemahaman pribadi saja. Kemungkinan pandangan ini bisa berbeda dengan orang lain yang juga mendalami ajaran-ajaran ‘kawruh jiwa’. Seperti biasa bakal disertai bumbu-bumbu sinkretis supaya lebih kuat nuansa kejawennya.
Potensi manusia banyak macamnya dan tiap individu unik, punya ciri khas antara satu dengan yang lainnya. Ki Mentaram juga mengakui hal ini dalam sejumlah wejangannya. Menurut saya pandangan beliau juga relatif sama dengan pandangan kejawen pada umumnya, di mana dimensi utama keberadaan manusia ada tiga.
Di level terendah Ki Mentaram menyebut kesadaran manusia yang menganggap dirinya sebagai tukang catat. Kesadaran dimensi pertama ini diibaratkan seperti tumbuh-tumbuhan, pasif terhadap pengaruh dari luar. Kalau boleh saya istilahkan sendiri sebagai kesadaran inderawi atau nabati. Di level ini manusia hanya menangkap atau mencatat segala sesuatu melalui inderanya. Berhubung cuma bisa mencatat, belum ada penilaian apa-apa mengenai apa yang telah dicatat.
Kesadaran di level ini tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Ada yang dari sananya “sempurna” dan ada yang sejak lahir terdapat “kekurangan”. Kalaupun semua indera berfungsi, daya tangkapnya juga berbeda-beda. Alhasil, hasil yang ditangkap pastilah tidak sama.
Kesadaran dimensi kedua menurut Ki Mentaram mirip binatang. Saya sebut kesadaran hawa atau hewani saja lah. Di sini manusia menganggap catatan-catatan tersebut (kumpulan informasi) sebagai dirinya. Tiap catatan sudah ada nilainya, meski masih “primitif” katakanlah. Dengan demikian bisa dibilang bahwa kesadaran hewani ini menjadi tuan dari kesadaran nabati. Seperti halnya seekor hewan, kesadaran ini bersifat reaktif dan belum ada pertimbangan nalar. Kalau diberi makan atau dipupuk bakal semakin kuat, sedangkan bila dibiarkan / tidak diikuti bisa mati. Hewan hanya bertindak alami, berkelahi atau lari kalau merasa diri atau catatan-catatannya diganggu.
Sepertinya kesadaran level ini sudah relatif sama bagi tiap manusia. Masalahnya, ini adalah kesadaran hewani, sedangkan manusia konon derajatnya lebih tinggi dari hewan. Meski begitu, kesadaran hewani sudah bisa bereaksi terhadap sensasi yang didapat dari inderanya. Biasanya disebut hawa nafsu. Kalau dari blog Sufi Muda saya mendapati bahwa hawa dan nafsu ternyata dua hal yang berbeda. Hawa artinya kesenangan, sedangkan nafsu atau nafs artinya ego. Mungkin ini yang dimaksud pandangan kejawen (yang tidak populer) soal hawa dan ‘kula’ (aku sing ala / aku yang buruk).
Selanjutnya ada kesadaran dimensi ketiga, yang menganggap Kramadangsa (identitas diri) sebagai dirinya. Identitas tersebut bisa nama, etnis, ataupun pendikan yang pernah ditanamkan orang lain, termasuk orang tua. Maksudnya tak lain adalah pikiran kita. Di dalamnya terdapat catatan-catatan (data) maupun perangkat untuk memrosesnya (analisis).
Menurut ajaran kejawen mazhab saya sih, pikiran manusia hanyalah sebuah perangkat. Dia memang punya kemampuan menyimpan data sekaligus memrosesnya, tetapi tidak bakal bekerja tanpa adanya sebuah kehendak sebagai motor penggerak. Kalau disebut sebuah kesadaran, pikiran adalah sebuah kesadaran yang mendua, tergantung kehendak mana yang diikutinya. Standarnya tiap manusia [katanya] berada dalam kondisi seperti ini. Selalu berada dalam konflik “abadi” antara dua kepentingan yang berbeda pandangan. Dalam kesadaran ini manusia sudah memiliki rasa, tetapi umumnya masih bercampur antara rasa dari alam jiwa dengan hawa (rasa ragawi). Lalu, menurut guru saya, idealnya manusia menjadikan pikiran sebagai tuan bagi raganya.
Bila ada permohonan dari sang hamba (raga), merasa lapar misalnya, pikiranlah yang sebaiknya mengatur tentang kapan, seberapa, dari mana, dan apa yang bakal dimakan. Namun, hal itu belum tentu terjadi dengan sendirinya lantaran pikiran bisa saja berbalik menghamba kepada kehendak raga. Pikiran sepertinya cenderung ambigu dan berat sebelah. Dia bisa terjebak mengikuti hawa dan menggunakan kemampuan analisisnya untuk mewujudkan kehendak raga tersebut menjadi nyata.
Manusia kemudian menjadi sangat reaktif bila merasa terganggu atau isilahnya impulsif barangkali. Belum lagi ada kemungkinan data yang disimpan sudah terdistorsi, rusak, tidak akurat, kurang lengkap, dsb. Akibatnya, dalam menganalisis data sesuai permintaan hawa, pikiran lalu “dipaksa” menyumpal kekurangan data yang ada. Lha, akhirnya data yang digunakan adalah asumsi, yang bisa diberi arti “asal sumpal supaya terisi”. Kesimpulan yang dihasilkan sepertinya bisa membahayakan akibat kualitas sumpalan mungkin cenderung asal-asalan dan bisa pula dijejali unsur ketakutan, kemarahan, kebencian, dll.
Solusinya menurut kejawen, pikiran hendaknya juga menghamba, tetapi kepada kehendak lebih tinggi yang disebut rasa tadi. Salah satu metode yang umum dipakai adalah dengan menyingkirkan pengaruh hawa untuk sementara waktu. Menurut abang saya, dalam cerita pewayangan ada fragmen di mana Arjuna menjadi pertapa lantaran stres memikirkan perilaku Kurawa. Di situ dia berganti nama menjadi Begawan Ciptaning. Kata ‘ciptaning’ artinya ‘cipta ingkang hening’ (cipta / pikiran yang hening). Katanya, dalam keheningan itulah terjadi dialong antara Arjuna dengan Sri Kresna tentang ilmu kesempurnaan hidup. Jadi, menurut ajaran kejawen mengheningkan (bukan kosong) cipta adalah cara untuk memasuki realitas sesungguhnya alam jiwa, mendekati kesadaran rasa.
Katanya pula, di alam jiwa ada sebuah ruang yang biasanya disebut [lentera] hati (simbol) atau kalbu. Kata “kalbu” sendiri dalam bahasa kejawen sering diartikan “kalam sing wis mlebu” (kalam yang sudah masuk). Isinya [kayaknya sih] adalah pantulan cahaya yang berpendar, tidak seperti cahaya aslinya dari dimensi yang lebih tinggi. Jadi, rasa di sini ada beberapa atau bercabang. Mungkin dari situ muncul istilah ‘pangrahsa’, yang berasal dari kata ‘pang’ (ranting / cabang) dan ‘rahsa’. Nah, di sinilah letaknya kehendak yang dianggap lebih kompeten memimpin atau menjadi tuan bagi pikiran manusia. Melalui eksplorasi atau olah rasa ini seseorang bisa mendapat berbagai jawaban yang disebut ‘panemu’ (apa yang sudah ketemu). ‘Panemu’ itu bisa dimasukkan pula ke dalam pikiran untuk menambah kekayaan data. Bedanya dengan data dari alam raga, [mungkin] apa yang diperoleh di sini sifatnya lebih murni atau bebas distorsi. Namun, target sesungguhnya dari olah rasa sebenarnya supaya manusia tidak lagi menganggap rasa sebagai sekadar pengetahuan, tetapi kalau bisa menjelma menjadi rasa tersebut.
Meski begitu, rasa di alam jiwa tadi bukanlah kesadaran manusia sesungguhnya atau biasa disebut diri sejati. Di level keempat ini, menurut Ki Mentaram, manusia menyadari bahwa diri yang sesungguhnya bukan Kramadangsa, tetapi seorang Pengawas atau biasa disebut diri atau rasa sejati. Secara teori, setelah menyadari bahwa dirinya bukanlah kumpulan catatan-catatan dan pikiran, maka manusia menjadi sadar bahwa dia sejatinya adalah kesadaran sukma, rohani, atau saya sebut saja kesadaran ilahi. Di sini manusia katanya bisa mencapai derajat universal. Diri sejati menurut beliau adalah rasa bahagia, tapi sebagian mungkin menyebutnya rasa damai, sejahtera, suka cita, cinta, dsb. Sepertinya semua istilah tersebut mengacu pada hal yang sama, yaitu rasa / diri sejati. Manusia yang telah mencapai tahap ini, lalu mengeksporasinya, [mungkin] layak disebut sebagai rohaniawan.
Mengenai apa dan bagaimana rasa sejati itu, menurut saya kayaknya memang wilayah para rohaniawan, sedangkan saya hanyalah seorang