Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Thursday, December 16, 2010

Kumpulan Abstrak Disertasi, Tesis dan Skripsi

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/12987239/1-kumpulabstrakTEP-S3-1.doc.html

Kumpulan Abstrak Disertasi
Semester Gasal 2008/2009
Teknologi Pembelajaran (TEP)

Pengaruh Penggunaan Model Pendidikan Moral Berbeda dan Perbedaan Jenis Kelamin Terhadap Kematangan Moral Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Aloysius Hardoko
Abstrak
Dalam ruang lingkup materi kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan (KBK,2004;KTSP,2007) menekankan pada muatan moral yang berorientasi pada pembentukan warga negara yang baik, sehingga strategi pembelajaran yang digunakan juga bertumpu pada prinsip penggunaan model pendidikan moral.
Pendidikan moral pada hakekatnya memiliki strategi, metode dan model pendidikan moral yang secara umum dapat dilihat pada kajian teori. Salah satu unsur penting dan memegang peranan dalam pendidikan moral adalah penggunaan model pendidikan moral yang tepat dan bervariasi, sehingga mampu meningkatkan kematangan moral siswa. Dalam praktek pembelajaran pendidikan moral di sekolah melalui Pendidikan Kewarganegaraan, pada umumnya belum dilaksanakan. Banyak guru yang masih belum mengenal model pendidikan moral tersebut dan terjebak dalam metode konvensional berupa penyampaian informasi melalui ceramah dan tanya-jawab. Hal ini bersumber pada ketidaktahuan guru dalam menerapkan model pendidikan moral yang lain, seperti penggunaan model pendidikan moral moral reasoning dan consideration model.
Secara teoritis, model pendidikan moral, baik yang dikembangkan berdasarkan pendekatan kognitif maupun yang dikembangkan berdasarkan pendekatan afektif memiliki potensi untuk meningkatkan kematangan moral siswa dengan pola pembelajaran non-indoktrinatif dan non-relativistik. Model moral reasoning berorientasi kepada pengembangan kemampuan berpikir moral mengenai pemecahan masalah moral dengan membuat alasan moral. Sedangkan, consideration model berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir moral mengenai kesejahteraan orang lain atau kepedulian kepada orang lain.
Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh penggunaan model pendidikan moral dengan harapan mendapatkan model yang lebih sesuai dengan karakteristik dan tujuan pendidikan moral di Indonesia melalui pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan. Variabel bebas yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah model pendidikan moral, diklasifikasikan dalam dua bagian, yaitu model moral reasoning dan consideration model.
Variabel moderator dalam penelitian ini adalah perbedaan jenis kelamin siswa. Temuan penelitian menunjukkan kemampuan menalar dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin. Diklasifikasikan ke dalam kelompok laki-laki dan perempuan. Sedangkan variabel tergantung ditetapkan kematangan moral siswa yaitu kematangam moral keadilan (moral judgement) dan kematangan moral kepedulian (care).
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah 1) terdapat perbedaan kematangan moral keadilan, antara siswa yang belajar menggunakan model moral reasoning dan yang belajar menggunakan consideration model dalam PKn, 2) terdapat perbedaan kematangan moral keadilan antara siswa laki-laki dan perempuan, baik yang belajar dengan moral reasoning maupun consideration model. 3) terdapat interaksi antara penggunaan model pendidikan moral (MR dan CM) dengan perbedaan jenis kelamin terhadap kematangan moral keadilan siswa.
4) terdapat perbedaan kematangan moral kepedulian, antara siswa yang belajar menggunakan model moral reasoning dan yang belajar menggunakan consideration model dalam PKn, 5) terdapat perbedaan kematangan moral kepedulian antara siswa laki-laki dan perempuan, baik yang belajar dengan moral reasoning maupun consideration model. 6) terdapat interaksi antara penggunaan model pendidikan moral (MR dan CM) dengan perbedaan jenis kelamin terhadap kematangan moral kepedulian siswa.
Penelitian ini adalah penelitian quasi- eksperimen menggunakan rancangan factorial 2 x 2. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII SMP Mardiwiyata, SMP Islam Cokro, SMP Cor Yesu, dan SMP Salahuddin yang peringkatnya setara dan distribusi jenis kelamin yang seimbang, dan berada di kota Malang. Pemilihan subyek dan pemberian perlakuan dilakukan secara cluster. Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu 8 x pertemuan, mulai sejak tanggal 2 Pebruari 2007 sampai dengan tanggal 15 Mei 2007. Alat ukur kematangan moral siswa yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan instrumen adaptasi Kohlberg dan Mc.Phail dalam bentuk ceritera dillema situasi sosial-moral. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini dianalisis menggunakan analisis statistik parametrik ANOVA dua jalur.
Temuan penelitian ini adalah 1) kematangan moral keadilan siswa yang belajar menggunakan model moral reasoning berbeda secara signifikan bila dibandingkan dengan siswa yang belajar menggunakan consideration model. 2) kematangan moral keadilan siswa yang ditunjukkan oleh kelompok subyek laki-laki berbeda secara signifikan dengan kelompok subyek perempuan. 3) terdapat interaksi antara penggunaan model pendidikan moral (MR dan CM) dengan perbedaan jenis kelamin terhadap kematangan moral keadilan siswa. 4) kematangan moral kepedulian siswa yang belajar menggunakan model moral reasoning berbeda secara signifikan bila dibandingkan dengan siswa yang belajar menggunakan consideration model. 5) kematangan moral kepedulian siswa yang ditunjukkan oleh kelompok subyek laki-laki berbeda secara signifikan dengan kelompok subyek perempuan. 6) terdapat interaksi antara penggunaan model pendidikan moral (MR dan CM) dengan perbedaan jenis kelamin terhadap kematangan moral kepedulian siswa.
Berdasarkan temuan penelitian tersebut, dikemukakan beberapa saran sebagai berikut: 1) kedua model pendidikan moral, moral reasoning dan consideration model hendaknya digunakan sebagai strategi dalam pembelajaran PKn untuk meningkatkan kematangan moral siswa dalam berpikir, 2) kelebihan dan kekurangan pada masing-masing kelompok subyek hendaknya menjadi perhatian, 3) untuk menjaga konsistensi hasil hendaknya penguasaan scenario atau langkah-langkah pembelajaran dikuasai dengan baik, 4) untuk penelitian lanjutan disarankan menggunakan variabel moderator lain, latar sekolah yang berbeda, model yang lain dan dimensi nilai Pancasila yang lain, seperti kejujuran, kesetiaan, harga diri, kehormatan dalam bentuk penelitian dan pengembangan model pembelajaran PKn.

Kata kunci: model pendidikan moral, perbedaan jenis kelamin, kematangan moral siswa


Pengembangan Program Pembelajaran Berdasarkan Model Accelerated Learning (MAL) Sains Kelas V Sekolah Dasar
Atrup
Abstrak
Usaha perbaikan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru di sekolah, bertujuan untuk mencapai prestasi belajar tinggi sebagai instructional effects dan berbagai bentuk kebiasaan, keterandalan, sikap dan nilai di antaranya motivasi serta kemandirian sebagai nurturant effects. Selama tiga tahun belakangan ini, usaha perbaikan dalam bidang pembelajaran yang paling menyolok adalah diadakan pergantian kurikulum sekolah dan peningkatan profesionalitas jabatan guru. Penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), menghendaki perubahan pola pikir guru yang tidak lagi, menerima ’barang jadi’ yang diteruskan begitu saja ke dalam kegiatan pembelajaran. Akan tetapi, guru diharapkan memiliki kemampuan dan kreativitas dalam mengembangkan pembelajaran agar dapat tercapainya dampak akumulatif pembelajaran di atas.
Pendekatan pembelajaran yang hanya semata-mata menekankan pada penanaman konsep tanpa memberikan makna yang berarti bagi perkembangan belajar siswa sudah seharusnya ditinggalkan. Penerapan model Accelerated Learning (MAL) tidak hanya mampu menyesuaikan dengan perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cepat. Akan tetapi juga dapat mencapai dampak akumulatif, yaitu pencapaian prestasi belajar tinggi yang dicapai dalam waktu yang cepat, peningkatan motivasi belajar dan kemandirian (self-regulation) belajar siswa.
Pengembangan ini bertujuan untuk mengimplementasikan Model Accelerated Learning (MAL) dalam pembelajaran sains kelas 5 sekolah dasar yang dapat mencapai prestasi belajar tinggi dengan waktu pencapaian yang cepat sebagai instructional effects, peningkatan keingintahuan (motivasi) belajar siswa dan kemandirian (self-regulation) belajar siswa sebagai nurturant effects. Prosedur pembelajarannya mengikuti pendapat Rose dan Nicholl (1997) yang dimodifikasi dikenal dengan akronim MASTER (M= Motivating your mind, A= Aquiring the facts/information, S= Searching out the meaning, T= Triggering the memory, E= Exhibiting what you know dan R= Reflecting on how you’ve learned).
Pendekatan pengembangan semacam ini dikategorikan Research and Development (R&D) ala Borg dan Gall (1983) yang disesuaikan, yaitu: (1) menetapkan jenis model pembelajaran yang diimplementasikan ke dalam pembelajaran sains kelas 5 sekolah (dalam hal ini MAL), (2) mengimplementasikan program pembelajaran sains yang dikembangkan berdasarkan MAL dan (3) menghasilkan program pembelajaran yang telah diimplementasikan melalui proses uji coba lapangan.
Dua jenis data yang dianalisis dalam pengembangan ini yaitu data utama dan data pendukung. Data utama diperoleh dari perbandingan antara jumlah jam pelajaran riil yang digunakan untuk mencapai materi pokok (MP) dengan waktu normal yang tersedia dan dampaknya terhadap motivasi belajar siswa dan kemandirian (self-regulation) belajar siswa. Sedangkan data pendukung dimaksudkan untuk memperoleh gambaran pentingnya penerapan pembelajaran MAL di sekolah dasar. Data pengembangan dianalisis untuk membuktikan tingkat efektivitas dan efisiensi program pembelajaran yang dikembangkan. Teknik analisis data yang digunakan menggunakan uji binomial jasa SPSS versi 13,0 dengan menghitung prosentasenya.
Berdasarkan seluruh proses pengembangan dapat disimpulkan bahwa MAL cukup efektif dan efisien untuk mengembangkan program pembelajaran sains kelas 5 sekolah dasar. Hal ini terbukti dapat menghemat jumlah jam pelajaran sebesar 49,45% dari total jumlah jam pelajaran normal yang disediakan untuk mempelajari bidang studi sains kelas 5 sekolah dasar. Demikian halnya prestasi belajar yang dicapai siswa rata-rata adalah 7, 516. Implementasi MAL juga dapat meningkatkan motivasi belajar dan kemandirian (self-regulation) belajar siswa. Hal ini terbukti tingkat pencapaian motivasi belajar siswa adalah 88,01% dan tingkat kemandirian (self-regulation) belajar siswa mencapai 86,6%.
Catatan dan komentar pembimbing disertasi, ahli desain pembelajaran, ahli isi bidang studi sains, praktisi pembelajaran sains digunakan sebagai dasar dalam melakukan revisi produk dan mengkaji ulang tampilan model yang ditawarkan. Catatan dan komentar terutama tentang dipilihnya buku sumber begitu saja (Widodo, dkk. 2004 yang digunakan sebagai lampiran bahan pembelajaran) menuai kritik yang tajam karena yang seharusnya dilakukan pengembang adalah benar-benar memadukan MAL dengan isi bahan pembelajaran. Namun kekurangan tersebut telah diselesaikan dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang mencerminkan implementasi pembelajaran sains kelas 5 sekolah dasar.
Temuan di atas, juga dikuatkan adanya data pendukung yang terdiri dari tanggapan subyek tentang prinsip-prinsip MAL mencapai 89, 93%, dan tanggapan subyek pengembangan tentang teknik-teknik belajar dan pembelajaran yang mencapai 87,91%. Proses pelaksanaan pembelajaran melalui uji coba lapangan sudah berjalan baik. Hal ini dibuktikan dari data tentang pelaksanaan simulasi (sebagai persiapan uji coba lapangan) dan pelaksanaan pembelajaran (real teaching) oleh subyek pengembangan. Skor angket tanggapan subyek tentang pelaksanaan simulasi mengajar mencapai 82,89% dan skor angket tanggapan subyek pengembangan tentang pelaksanaan pembelajaran mencapai 84,69%.
Keunggulan produk pengembangan ini adalah: (1) meletakkan konsepsi dan implementasi model pembelajaran MAL sesuai konsepsi dasar yang dikembangkan sejumlah ahli selama ini yang kenyataannya berbeda dengan konsep kelas akselerasi yang hanya diperuntukkan pada siswa yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang lain dan (2) implementasi MAL yang dilaksanakan dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip dan teknik-teknik belajar dan pembelajaran merupakan bentuk inovasi pembelajaran di sekolah.

Kata kunci: pengembangan, program pembelajaran, model accelerated learning, pembelajaran sains


Pengaruh Penggunaan Scaffolding dan Kecakapan Berbahasa Indonesia terhadap Kualitas Argumen Mahasiswa dalam Perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan
Bambang Suteng Sulasmono
Abstrak
Kecakapan menilai dan membuat argumen yang kokoh -sebagai inti dari kecakapan berpikir kritis- merupakan hasil belajar yang dipandang penting dalam proses pendidikan di berbagai negara. Di Indonesia kecakapan berpikir kritis juga ditetapkan sebagai salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh para pebelajar mulai dari jenjang pendidikan dasar, menengah sampai ke jenjang perguruan tinggi. Pengembangan kecakapan berpikir kritis itu antara lain dilaksanakan melalui Pendidikan Kewarganegaraan.
Walaupun berpikir kritis itu merupakan hasil belajar yang penting, namun sejumlah studi menunjukkan bahwa para pebelajar umumnya kurang mampu membangun argumen yang kokoh. Oleh karena itu kini telah banyak dikembangkan pembelajaran untuk pengembangan kecakapan membangun argumen
Di bidang teknologi pendidikan kini telah dikembangkan pula teknik-teknik yang dimaksudkan untuk memperlancar proses dan meningkatkan kemampuan pebelajar dalam membangun argumen. Salah satu teknologi pembelajaran yang dikembangkan itu adalah pemanfaatan scaffolding (topangan belajar) dalam pembelajaran membangun argumen.
Berdasarkan kebutuhan untuk mengembangkan kecakapan berpikir kritis melalui kecakapan membangun argumen, yang tumbuh dari kurikulum pendidikan kewarganegaraan di atas, serta tersedianya berbagai referensi teknologi pembelajaran yang diperhitungkan dapat menjawab kebutuhan itu maka penelitian tentang pengaruh penggunaan scaffolding (topangan belajar) terhadap kualitas argumen mahasiswa dalam matakuliah pendidikan kewarganegaraan ini dilakukan.
Penelitian ini hendak menguji pengaruh scaffolding/topangan belajar dalam bentuk pertanyaan penuntun dan peta argumen terhadap kualitas argumen mahasiswa dengan kecakapan berbahasa Indonesia tinggi, sedang dan rendah dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan.
Penelitian eksperimen ini dilaksanakan dalam disain Pretest-Posttest Non Equivalent Control Group Design, dengan fokus untuk menjawab tiga pertanyaan penelitian: a) apakah ada perbedaan nyata antara kualitas argumen mahasiswa yang belajar dengan pertanyaan penuntun dengan kualitas argumen mahasiswa yang belajar dengan peta argumen dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan; b) apakah ada perbedaan nyata antara kualitas argumen mahasiswa yang berkecakapan berbahasa Indonesia yang tinggi, sedang dan rendah dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan dan c) apakah ada interaksi antara topangan belajar dengan keragaman kecakapan berbahasa Indonesia dalam menentukan kualitas argumen mahasiswa peserta perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan.
Tiga hipotesa yang diuji melalui penelitian ini adalah : a) ada perbedaan nyata antara kualitas argumen mahasiswa yang belajar dengan pertanyaan penuntun dengan kualitas argumen mahasiswa yang belajar dengan peta argumen dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan; b) ada perbedaan nyata antara kualitas argumen mahasiswa yang berkecakapan berbahasa Indonesia tinggi, sedang dan rendah dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan, dan c) ada interaksi antara topangan belajar dengan keragaman kecakapan berbahasa Indonesia mahasiswa dalam menentukan kualitas argumen mahasiswa peserta perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan.
Data dikumpulkan melalui pelaksanaan pretes dan postes dengan menggunakan tes argumentatif. Hasil tes kemudian diberi skor dengan Rubrik Penilaian Kualitas Argumen yang merupakan adopsi serta modifikasi dari Rubric of Argument Quality yang dikembangkan oleh Cho and Jonassen (2002). Skor kualitas argumen mahasiswa kemudian dianalisis dengan analisa statistik parametrik, analysis of varian (anova).
Hasil studi menunjukkan bahwa a) tidak ada perbedaan signifikan antara kualitas argumen mahasiswa yang mengikuti pembelajaran dengan topangan pertanyaan penuntun dengan yang mengikuti pembelajaran dengan topangan peta argumen dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan, b) terdapat perbedaan signifikan antara kualitas argumen mahasiswa yang berkecakapan berbahasa Indonesia tinggi, sedang dan rendah dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan, dan c) tidak terdapat interaksi antara topangan belajar dengan kecakapan berbahasa Indonesia dalam menentukan kualitas argumen peserta perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan.
Studi ini menunjukkan bahwa walaupun tidak terdapat perbedaan siginifikan antar kualitas argumen berdasar jenis topangan belajarnya, namun kedua jenis topangan itu meningkatkan kualitas argumen mahasiswa. Kecakapan berbahasa mahasiswa berpengaruh kepada kualitas argumen mahasiswa, dan pengaruh itu berlaku sama baik pada kelas yang bertopangan pertanyaan penuntun maupun yang bertopangan peta argumen.
Penelitian sejenis, dengan menambah variabel moderator, gaya belajar, atau dengan menggunakan kelas kontrol, yang melibatkan subyek penelitian sesuai dengan rancangan faktorial dan analisa statistik parametrik anova, disarankan guna memperbaiki atau memfalsifikasi hasil penelitian ini.

Kata kunci: scaffolding, kecakapan berbahasa, kualitas argumen


Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Pola Belajar Kolaborasi dalam Mata Kuliah Masalah Sosial
Mustaji
Abstrak
Berdasarkan hasil observasi proses dan hasil pembelajaran mata kuliah Masalah Sosial belum dilakukan secara optimal. Sebab belum optimalnya proses pembelajaran itu karena (1) pembelajar kurang mampu menyelenggarakan proses pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan perkembangan di bidang teknologi pembelajaran, (2) pembelajar keliru dalam memandang proses pembelajaran, (3) proses pembelajaran bersifat informatif, belum diarahkan ke proses aktif pebelajar untuk membangun sendiri pengetahuannya, dan (4) proses pembelajaran berpusat pada pembelajar, belum diarahkan ke pembelajaran yang berpusat pada pebelajar.
Sedangkan indikasi belum optimalnya hasil belajar itu, tampak pada hal-hal berikut (1) pebelajar kurang mampu memecahkan masalah berdasarkan konsep ilmiah, (2) pebelajar kurang memiliki keterampilan berkolaborasi (teamwork) dan mengolah informasi secara aktif untuk pemecahan masalah, (3) pebelajar kurang mempelajari bagaimana belajar yang efektif untuk memecahkan masalah, (4) pebelajar kurang memiliki kinerja terus-menerus dengan tidak dibatasi pada target tertentu, (5) pebelajar kurang memiliki pengetahuan terintegrasi antar disiplin ilmu untuk pemecahan masalah, (6) pebelajar kurang menggunakan teknologi sebagai bagian integral dan proses kerja untuk pemecahan masalah, dan (7) pebelajar kurang memiliki sikap positif pembelajaran
Untuk mengoptimalkan proses dan hasil pembelajaran, perlu dilakukan pengembangan model pembelajaran. Proses pengembangan itu terdiri dari 5 tahap. Pertama, tahap identifikasi yang terdiri dari (1) pengkajian teoritis melalui studi pustaka, (2) pengkajian empiris melalui observasi di kelas, dan (3) penulisan kondisi nyata. Kedua, tahap desain yang terdiri dari (1) pengidentifikasian kemampuan awal pebelajar, (2) perumusan tujuan pembelajaran, dan (3) pelaksanaan studi kelayakan. Ketiga, tahap pengembangan produk berupa (1) model Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Pola Kolaborasi (Model PBMPK), dan (2) perangkat PBMPK yang terdiri dari silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, bahan pembelajaran, lembar tugas, dan lembar penilaian pembelajaran. Keempat, tahap uji coba yang terdiri dari uji ahli, kelompok, dan lapangan. Kelima, tahap diseminasi yang mencakup (1) penulisan laporan dan penyajian di seminar, dan (2) penulisan artikel di jurnal. Pengembangan ini berhenti pada tahap lima poin satu, yakni penulisan laporan.
Berdasarkan hasil ujicoba atas Model dan Perangkat PBMPK kepada ahli bidang studi, ahli pembelajaran, pembelajar, dan pebelajar menunjukkan hasil yang layak. Hal ini bisa dilihat dari rata-rata pemenuhan 75% dari indikator-indikator kelayakan penggunnaan Model dan Perangkat PBMPK.
Hasil ujicoba lapangan atas Model dan Perangkat PBMPK menunjukkan hasil nilai yang positif. Hal ini bisa dilihat dari hasil tes subyektif yang termasuk kategori baik mencapai 82.3%, hasil kinerja yang termasuk kategori sangat baik mencapai 57.65%, hasil portofolio yang termasuk kategori baik mencapai 95,29%, hasil kerja proyek yang termasuk kategori baik mencapai 58.82%, hasil sikap atas pembelajaran yang termasuk kategori positif mencapai 77,65%, dan hasil kerja kolaborasi yang termasuk kategori baik mencapai 84,71%. Sementara itu, hasil belajar dengan kategori cukup, kurang baik, sangat positif, ragu-ragu, negatif, dan sangat negatif maksimal mencapai hanya mencapai 22,65%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Model dan Perangkat PBMPK lebih dari 55% termasuk ke dalam kategori baik, sangat baik, dan positif. Ini berarti Model dan Perangkat PBMPK yang dikembangkan layak digunakan.
Hasil-hasil ujicoba seperti disebutkan di atas berdampak positif pada penciptaan lingkungan pembelajaran. Penggunaan Model dan Perangkat PBMPK terbukti dapat menciptakan (1) proses pembelajaran bersifat interaktif dan berorientasi pada pebelajar, (2) pebelajar bekerja/belajar secara kolaboratif dan mengolah informasi secara aktif, (3) pebelajar mempelajari bagaimana belajar yang efektif, (4) pebelajar memiliki kinerja terus-menerus dan setiap target yang tercapai terus-menerus ditingkatkan, (5) pebelajar memiliki pengetahuan terintegrasi antar disiplin ilmu untuk pemecahan masalah yang kompleks, (6) pebelajar menggunakan teknologi sebagai bagian integral dari proses kerja/belajar, dan (7) pebelajar melakukan kegiatan curah pendapat, berdebat dan memberikan penjelasan kepada teman.

Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran kolaborasi


Pengaruh Model Pembelajaran Pencapaian Konsep Ala Bruner dan Seting Pembelajaran terhadap Perolehan Belajar Geografi Siswa Kelas II SMP Negeri Malang
Sambanaung Makapedua
Abstrak
Pengemasan pembelajaran dewasa ini sering didasarkan pada asumsi-asumsi yang tidak sejalan dengan hakekat belajar dan pembelajaran. Dunia belajar didekati dengan paradigma yang tidak mampu menggambarkan hakikat belajar dan pembelajaran secara komprehensif. Kemasan pembel-ajaran yang sering ditemukan menitikberatkan pada tuntutan kemampuan hafalan, memecahkan masalah lama, penanaman pola perilaku yang kon-frontatif dan seragam dengan pola pengajaran bernuansa kompetitif dan per-saingan.
Pembelajaran geografi di sekolah-sekolah sampai sekaramg masih mempraktekan paradigma penerusan informamsi yang hanya melibatkan kemampuan berpikir tingkat rendah (low cognitive skill) yaitu menghafal, bahkan tidak jarang lebih merosot lagi menjadi tidak lebih dari pemberitaan isi buku teks. Kerangka pikir ini masih bertahan sampai sekarang karena terus dipelihara melalui ujian-ujian yang cenderung hanya menagih hafalan.
Model alternatif pembelajaran geografi yang diajukan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran pencapaian konsep dengan seting pembel-ajaran kooperatif dan individual. Model tersebut merupakan fasilitas untuk pemerolehan konsep. Ada sembilan tahapan pembelajaran pencapaian kon-sep dengan seting kooperatif dalam pembelajaran geografi pada penelitian ini, yakni: (1) mengorganisasikan siswa dalam seting kooperatif (kelompok) 4 – 5 orang perkelompok, (2) membagikan bahan bacaan kepada siswa, (3) me-nyajikan contoh dan bukan contoh sesuai indikator pembelajaran, (4) secara kelompok siswa diminta untuk membandingkan ciri-ciri dari contoh-contoh dan bukan contoh dari setiap indikator, (5) secara kelompok siswa diminta membuat definisi tentang konsep atas dasar ciri-ciri utama dari contoh-contoh di atas, (6) secara kelompok siswa mengidentifikasi contoh-contoh tambahan tidak berlabel dengan menyatakan ya atau bukan, (7) guru menegaskan kembali nama konsep, dan menyatakan kembali definisi konsep sesuai dengan ciri-cirinya, (8) secara kelompok siswa mengungkapkan pemikirannya dalam memperoleh konsep, sehingga diperoleh strategi mana yang efektif, (9) guru memberikan penghargaan: (a) menentukan poin kelompok, (b) menetapkan tim baik, hebat, dan tim super. Penetapan ini diumumkan pada pertemuan berikutnya sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembel-ajaran (pencapaian konsep versus ekspositori) dan seting pembelajaran kooperatif dan individual terhadap perolehan belajar geografi. Tujuan umum tersebut, yang merupakan upaya memvalidasi penggunaan prinsip-prinsip pembelajaran, sejalan dengan maksud ruang lingkup penelitian ini yang berada pada kawasan model pembelajaran. Secara lebih operasional penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan model pembelajaran: pencapaian konsep seting kooperatif dan individual dan ekspositori seting kooperatif dan individual dalam meningkatkan peluang siswa untuk mencapai perolehan belajar geografi yang lebih baik.
Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, dilakukan penelitian kuasi eksperimen pada siswa kelas II semester ganjil SMP Negeri Kota Malang pada tahun pelajaran 2006/2007. Eksperimen menggunakan pengukuran dua faktor de-ngan versi faktorial nonequivalent control group design. Berdasarkan teknik cluster random sampling, maka telah terpilih dua sekolah sampel yang terlibat dalam penelitian ini, yakni SMP Negeri 8 dan 21 Malang. Pada masing-masing sekolah sampel dipilih secara random dua kelas sampel sehingga terdapat empat kelas sampel yang terlibat dalam penelitian ini. Salah satu kelas dari SMP Negeri 8 ditetapkan secara random sebagai kelompok belajar menggunakan model pembelajaran pencapaian konsep dengan seting koope-ratif dan kelas yang lain dengan seting individual. Demikian halnya di SMP Negeri 21 Malang, salah satu kelas ditetapkan secara random sebagai kelom-pok belajar dengan model pembelajaran ekspositori dengan seting kooperatif dan kelas yang lain sebagai kelompok belajar dengan seting individual. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah skor pra tes dan pasca tes per-olehan belajar. Data dikumpulkan menggunakan tes perolehan belajar. Tes perolehan belajar berbentuk pilihan ganda terdiri dari 40 item soal dengan indek validitas butir r = 0,30 dan indeks reliabilitas alpha Cronbach = 0,763. Data dianalisis secara deskriptif dan ANOVA faktorial 2 x 2. Analisis dilakukan dengan bantuan program SPSS 13 for Windows. Semua pengujian hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi 0,05.
Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan hasil-hasil penelitian seba-gai berikut: Pertama, terdapat perbedaan signifikan perolehan belajar antara kelompok model pembelajaran pencapaian konsep (MPPK) dengan model pembelajaran ekspositori (MPE) (F = 10,324; p<0,05). Nilai rata-rata perolehan belajar kelompok MPPK lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok MPE. Kedua, terdapat perbedaan signifikan perolehan belajar antara kelompok seting pembelajaran kooperatif (SPK) dengan seting pembelajaran individual (SPI) (F = 61,007; p<0,05). Nilai rata-rata perolehan belajar kelompok SPK lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok SPI. Ada interaksi antara model pembelajaran (MPPK dan MPE) dengan seting pembelajaran terhadap perolehan belajar siswa (F = 5,405; p<0,05).

Kata kunci: pencapaian konsep, ekpositori, kooperatif, individual, perolehan belajar geografi


Strategi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kajian Sejarah dengan Pendekatan Dialog: Studi Kasus di Sekolah Dasar Negeri Sawojajar 1 Malang dan Sekolah Dasar Negeri Kotalama 1 Malang. Disertasi
Susanto
Abstrak
Tujuan mempelajari IPS kajian sejarah, ialah (1) untuk membangkitkan dan memelihara semangat kebangsaan, (2) membangkitkan hasrat mewujudkan cita-cita kebangsaan, (3) membangkitkan hasrat mempelajari sejarah kebangsaan yang merupakan bagian sejarah dunia, (4) menyadarkan anak tentang cita-cita nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pendekatan pembelajaran yang dialogis. Pendekat¬an pembelajaran yang dialogis membawa kesadaran untuk saling adanya keterbukaan yang satu dengan yang lain, menemukan kebaikan, komunikasi yang rasional dan kritis, serta memahami bahwa orang lain berbeda dengan dirinya. Pendekatan ini bermaksud memperbaiki kualitas pembelajaran.
Salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, diawali dengan penetapan variabel metode. Variabel metode diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu: (1) strategi pengorganisasian (organizati-onal strategy), (2) strategi penyampaian (delivery strategy), dan (3) strategi pengelolaan (management strategy). Strategi pengorganisasian pembelajaran mengacu kepada suatu tindakan seperti pemilihan urutan isi, pembuatan sintesis, dan pembuatan rangkuman. Strategi penyampaian pembelajaran mengacu kepada cara-cara yang dipakai untuk menyampaikan pembelajaran kepada siswa, dan strategi pengelolaan pembelajaran mengacu kepada upaya menata penjadualan penggunaan strategi, catatan kemajuan belajar siswa, motivasional, dan kontrol belajar.
Masalah umum penelitian ini adalah bagaimana strategi pembelajaran IPS kajian sejarah dengan pendekatan dialog di kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang. Secara khusus, masalah penelitian ini difokuskan pada empat hal, yakni, (1) Bagaimana strategi pengorganisasian materi pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog dikonsepsikan dan dilaksanakan di kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang? (2) Bagaimana strategi penyampaian materi pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog dikonsepsikan dan dilaksanakan di kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang? (3) Bagaimana strategi pengelolaan pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog dikonsepsikan dan dilaksanakan di kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang? (4) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi strategi pengorganisasian, penyampaian, dan pengelolaan pembelajaran kajian sejarah dengan pendekatan dialog kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang, dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang?
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan rancangan studi kasus ganda. Studi kasus ganda merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan “mengapa” atau “bagaimana”, dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada konteks kehidupan nyata.
Data penelitian ini terdiri atas data verbal dan non verbal yang diperoleh dari latar alamiah pada saat guru mengajar IPS kajian sejarah dengan pendekatan dialog. Untuk menjaring data penelitian ini digunakan teknik observasi nonpartisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik observasi digunakan untuk memperoleh gambaran sesungguhnya tentang perilaku guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Wawancara mendalam digunakan untuk memperoleh pemaknaan penelitian, sedangkan dokumentasi untuk mendukung data yang diperoleh dari observasi dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis interaktif yang komponennya melibatkan kegiatan pengumpulan data, sajian data, reduksi data, dan verfikasi/penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian tentang strategi pengoganisasian pembelajaran pada kelas Vb SDN Sawojajar 1 dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang menunjukkan bahwa materi menjelang proklamasi kemerdekaan disusun dalam bentuk diktat dan materi yang lain menggunakan buku ajar. Pendekatan dialog yang melibatkan pemanfaatan media, interaksi siswa dengan media, dan bentuk pembelajaran merupakan determinan utama strategi penyampaian pembelajaran. Hasil penelitian pada kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang menunjukkan bahwa pendekatan dialog dilaksanakan dengan menggunakan metode ceramah yang divariasikan dengan dialog, melalui tanya jawab, pemberian tugas, bermain peran. Pelaksanaan metode bermain peran dapat membantu siswa untuk memperoleh makna dari peristiwa sejarah secara optimal.
Penjadualan pembelajaran oleh guru lebih dipandang sebagai upaya memberi kesempatan kepada siswa untuk berdialog agar memperoleh penghayatan terhadap tokoh pejuang kemerdekaan berupa nilai juang 1945, yaitu musyawarah, patriotik, dan rela berkorban. Pengelolaan motivasional direpresentasi guru dalam bentuk ungkapan verbal dan nonverbal serta kontrol belajar yang direpresentasi memberi kesempatan pilihan belajar yang menyenangkan, tampak terbukti pada ke dua sekolah terteliti.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pengorgani-sasian, penyampaian, dan pengelolaan pembelajaran pada kelas Vb SDN Sawojajar 1 Malang dan kelas Vc SDN Kotalama 1 Malang, yakni kegemaran dan kecintaan mengajar kajian sejarah menjadikan suasana pembelajaran yang menyenangkan, menarik siswa, kreatif, dan inovatif. Pandangan dan sikap orang tua/wali murid, guru bidang studi non IPS dan pimpinan sekolah ikut mempengaruhi strategi pembelajaran.
Pendekatan dialog merupakan temuan penelitian yang sangat berharga dalam pembelajaran kajian sejarah. Oleh karena itu pendekatan dialog menjadi rekomendasi peneliti sebagai model pembelajaran kajian sejarah yang utama.

Kata kunci: strategi pembelajaran, ilmu pengetahuan sosial kajian sejarah, dialog