Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Saturday, January 8, 2011

Contoh Proposal Skripsi

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/13303619/ProposalSrkipsi.doc.html

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
Pembangunan kehidupan anak dan remaja pada dasarnya diarahkan pada peningkatan kualitas anak dan remaja, pembinaan bakat dan minatnya, serta mempunyai kesadaran akan perilaku hidup sehat, sehingga sumber daya manusia yang baik dan berkualitas. Untuk mencapai hal itu, banyak ragam cara yang ditempuh dan salah satu diantaranya adalah melalui pembinaan olahraga (Soebroto, t.th: 2).
Salah satu cabang olahraga yang sangat populer dan semakin digemari oleh segenap lapisan masyarakat adalah sepak bola, semenjak permainan sepak bola diadakan pada tahun 1863 (Hick, 1977: 404). Kini permainan sepak bola tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, tetapi juga dilakukan oleh wanita. Pemantauan bakat, pembibitan, pendidikan untuk menyiapkan pemain yang unggul dibidang sepak bola ini ditandai dengan munculnya berbagai club sepak bola yunior usia 16-17 tahun, serta adanya kompetisi-kompetisi sepak bola untuk usia itu seperti kompetisi Indonesia Super Legue atau yang biasa disingkat dengan ISL diselenggarakan secara rutin (Soekarman, 1987: 5).
Sebagaimana disampaikan oleh Djawat (1981: 1), bahwa faktor penting dan berpengaruh terhadap kemampuan pemain sepak bola adalah teknik dasar. Karena itu, teknik dasar ini harus dikuasai oleh pemain sepak bola sejak dini. Menurut Wahadi (2002: 49), teknik dasar yang dimaksud adalah: menendang bola, menggiring bola, mengontrol bola, menyundul bola, merebut bola, lemparan kedalam, lemparan keluar, gerak tipu dan teknik khusus penjaga gawang.
Jelaslah bahwa menendang bola merupakan salah satu teknik dasar yang harus dikuasai oleh pemain sepakbola semenjak dini untuk menjadi pemain yang baik dan berkualitas di kemudian hari. Kemampuan menendang bola itu harus dilatih. Hal ini disampaikan pula oleh Rizak dalam Sajoto (1997: 2,3), bahwa dari komponen 10 kondisi fisik, yakni komponen kesegaran jasmani yang terdiri dari komponen kardiovaskuler, keseimbangan lemak dalam tubuh, dan kelentukan. Disamping itu , ada komponen kesegaran motorik yang menurut Hafen dalam Sajoto (1997: 3) terdiri atas koordinasi, keseimbangan, kecepatan, kelincahan, dan daya ledak otot atau power. Jadi jelaslah, bahwa dari uraian di atas, sebagai dasar untuk mempersiapkan kemampuan menedang bola dapat dilakukan dengan melatih power otot tungkai, kelentukan, dan panjang kaki. Yang dimiliki seorang pemain sepak bola dimungkinkan ia dapat menendang bola sejauh mungkin dan mempunyai kekuatan tembak yang besar. Dengan kata lain, power otot tungkai, kelentukan, dan panjang kaki dapat menentukan jauh dekatnya tendangan pemain sepak bola.
Tendangan adalah salah satu teknik khusus yang disebut shooting ball yang diarahkan ke gawang lawan di dalam permainan sepak bola. Tendangan atau shooting adalah gerak kerja yang terpenting dan merupakan gerak terakhir dari gerak kerja serangan melalui tendangan tadi. Kegagalan shooting kearah gawang lawan akan memberi peluang kepada pihak lawan untuk melakukan serangan balik atau bola keluar meninggalkan lapangan permainan. Sebaliknya keberhasilan shooting kearah gawang lawan jelas akan menambah poin untuk tim kesebelasan yang bersangkutan. Singkatnya, teknik shooting harus dikuasai dengan baik dan benar oleh seorang pemain sepakbola.

Dalam permainan sepakbola ada dua macam teknik shooting, yakni shooting yang dilakukan dengan menggunakan kaki bagian luar atau punggung kaki (disebut pula shooting kura-kura ) dan shooting yang dilakukan dengan menggunakan kai bagian dalam. Apapun bentuk teknik dari shooting tersebut, untuk dapat melakukan shooting dengan baik seorang pemain harus melatih power otot tungkai dan kelentukan semenjak dini.
Power otot tungkai sangat diperlukan dalam menendang bola agar hasilnya maksimal, dalam permainan sepakbola disamping diperlukan pula dalam permainan olahraga yang lain seperti bulu tangkis, softball, tennis lapangan dan lain-lain (Sajoto, 1997: 3).
Kelentukan juga diperlukan dalam kegiatan olahraga. Kelentukan ini membantu dalam gerakan dasar dan menghindarkan dari cidera. Di samping itu, kelentukan juga berperan terhadap penyesuaian diri terhadap segala aktivitas tubuh (Sajoto, 1988: 3). Dan kelentukan disini adalah kelentukan kaki.
Di samping power otot tungkai dan kelentukan, masih ada faktor lain yang ikut berperan dalam menendang bola, yakni panjang tungkai. Menurut WJS. Poerwadarminto “tungkai sama dengan kaki (seluruh kaki dan pangkal paha kebawah)” jadi tungkai merupakan anggota gerak bagian bawah yaitu: seluruh tungkai ditambah dengan panggul.
Berbagai penelitian yang berkenaan dengan komponen kekuatan otot tungkai, kelentukan dan koordinasi di atas yang dilakukan oleh peneliti terdahulu, misalnya peneliyian yang dilakukan oleh Tri Tunggal Setiawan terhadap 36 mahasiswa FIK UNNES pada tahun 1999, bahwa kekuatan otot tungkai berkorelasi dengan prestasi renang. Penelitian yang dilakukan oleh Said Abdillah terhadap 40 siswa SSB Barakat berusia 13-15 tahun pada tahun 2004, bahwa latihan beban berkorelasi dengan kemampuan menendang bola pada sepakbola. Penelitian yang dilakukan oleh Harry Pramono dan Janu Ismanto terhadap 26 mahasiswa FIK UNNES pada tahun 1999, bahwa kelentukan berkorelasi dan berpengaruh terhadap prestasi lari cepat. Meskipun belum ditemukan penelitian tentang korelasi antara koordinasi dengan prestasi olahraga lainnya, namun sebagaimana telah disampaikan diatas, bahwa menurut Hafen dalam Sajoto (1997: 3) ada komponen fisik yang berpengaruh pula terhadap prestasi olahraga terdiri atas koordinasi, keseimbangan, kecepatan, kelincahan, dan daya ledak otot atau power.
Bagaimanakah sumbangan power otot tungkai, kelentukan, dan panjang kaki dengan jauh dekatnya tendangan bola pada permainan sepakbola tersebut akan diteliti melalui judul “Sumbangan Power Otot Tungkai, Kelentukan dan Panjang kaki dengan Jauhnya Tendangan Bola Siswa Ekstrakulikuler Sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalh penelitian ini dapat dirumuskan:
1.2.1 Apakah ada sumbangan Power otot tungkai dengan jauhnya tendangan bola pada siswa ekstrakulikuler Sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan?
1.2.2 Apakah ada sumbangan kelentukan dengan jauhnya tendangan bola pada siswa ekstrakulikuler Sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan?
1.2.3 Apakah ada sumbangan koordinasi dengan jauhnya tendangan bola pada siswa ekstrakulikuler Sepakbola SMU Negeri 1Sragi Kabupaten Pekalongan?
1.2.4 Apakah ada sumbangan power otot tungkai, kelentukan, dan koordinasi dengan jauhnya tendangan bola pada siswa ekstrakulikuler Sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan?



1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk:
1.3.1 Mengetahui sumbangan Power otot tungkai dengan jauhnya tendangan bola pada siswa ekstrakulikuler Sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan.
1.3.2 Mengetahui sumbangan kelentukan dengan jauhnya tendangan bola pada siswa ekstrakulikuler Sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan.
1.3.3 Mengetahui sumbangan koordinasi dengan jauhnya tendangan bola pada siswa ekstrakulikuler Sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan.
1.3.4 Mengetahui sumbangan Power otot tungkai, kelentukan, dan koordinasi secara bersama-sama dengan jauhnya tendangan bola pada siswa ekstrakulikuler Sepakbola SMU Negeri 1 sragi Kabupaten Pekalongan.
1.4 Penegasan Istilah
Untuk mencegah adanya interprestasi yang kurang tepat terhadap istilah-istilah yang kurang terdapat dalam judul penelitian ini, maka istilah-istilah pokok dalam judul tersebut perlu ditegaskan. Istilah-istilah yang dimaksud adalah: (1) Sumbangan, (2) Power otot tungkai, (3) Kelentukan, (4) Panjang kaki, (5) Tendangan, dan Siswa Ekstrakulikuler.
1.4.1 Sumbangan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 1972) Sumbangan adalah pemberian atau sokongan. Dalam penelitian ini sumbangan adalah bantuan atau sokongan yang diberikan kekuatan otot tungkai, kelentukan dan koordinasi dengan jauhnya tendangan siswa ekstrakulikuler Sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan.

1.4.2 Power otot tungkai
Power adalah kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sependek-pendeknya (M. Sajoto, 1995: 8-9). Otot menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:895) adalah jaringan kenyal didalam tubuh manusia atau hewan yang berfungsi menggerakkan tubuh atau urat yang keras. Tungkai adalah anggota gerak bagian baah yang terdiri dari paha, betis dan kaki (Depdiknas, 2002: 1226) . Dalam penelitian ini yang dimaksud Power otot tungkai adalah kemampuan maksimal otot yang terdapat dari paha, betis sampai kaki yang dapat menghasilkan tendangan yang jauh dan maksimal pada siswa ekstrakulikuler Sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan.
1.4.3 Kelentukan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 517) disebutkan bahwa lentuk atau kelentukan (asal kata lentuk) mempunyai makna tidak kaku (luwes). Dalam penelitian ini, yang dimaksud kelentukan adalah kelentukan atau keluwesan dalam memainkan kaki untuk menendang bola pada siswa ekstrakulikuler Sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan.
1.4.4 Koordinasi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 517) disebutkan bahwa koordinasi mempunyai makna perihal mengatur sesuatu agar tidak bertentangan satu dengan yang lain (bersesuaian). Dalam penelitian ini, yang dimaksud koordinasi adalah pengaturan terhadap kekuatan otot dan kelentukan agar menghasilkan tendangan yang jauh dan maksimal pada siswa ekstrakulikuler Sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan.


1.4.5 Tendangan
Yang dimaksud tendangan atau disebut shooting dalam penelitian ini adalah tendangan dalam permainan sepakbola yang langsung diarahkan ke gawang tanpa dihalang-halangi oleh pemain lainnya.
1.4.6 Siswa Ekstrakuler
Yang dimaksud Siswa Ekstrakulikuler dalam penelitian ini adalah siswa yang aktif berlatih dan mengikuti kegiatan rutin ekstrakulikuler Sepakbola di SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan.
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat:
1.5.1 Sebagai masukan bagi guru olahraga dalam meningkatkan pengembangan latihan Power otot tungkai, kelentukan, dan panjang tungkai berkenaan dengan jauhnya tendangan bola.
1.5.2 Sebagai masukan bagi club-club sepakbola dalam upaya peningkatan prestasi olahraga sepakbola di club-nya khususnya mengenai pengembangan latihan Power otot tungkai, kelentukan, dan panjang tungkai untuk meningkatkan jauhnya tendangan bola.
1.5.3 Sebagai rujukan bagi mahasiswa yang berminat mengembangkan penelitian ini untuk dikaitkan dengan variabel lainnya.





BAB II
LANDASAN TEORI

Dalam permainan sepakbola, pemain selalu tidak akan lepas dari komponen yang disebut “biomotor”. Komponen biomotor yang diperlukan dalam sepakbola adalah kekuatan, daya ledak otot tungkai, dan ketahanan. Sebagaimana dinyatakan oleh Stone dan Kroll (1989: 146), bahwa komponen biomotor yang diperlukan pemain sepakbola adalah aerobic power, kelincahan, kelentukan, dan kekuatan. Dari pernyataan itu, jelas bahwa kekuatan otot tumgkai, kelentukan, dan koordinasi menjadi titik bahasan dalam penelitian ini merupakan dari biomotor yang sangat diperlukan oleh pemain sepakbola.
Sehubungan dengan hal tersebut, berikut disampaikan pengertian dari: (1) Power otot tungkai; (2) Latihan kelentukan; (3) Latihan koordinasi; (4) Tendangan; (5) Hubungan antara kekuatan otot tungkai, kelentukan, dan koordinasi dengan tendangan; serta (6) Hipotesis.
2.1 Power Otot Tungkai

Gambar 1.Otot Tungkai


Otot tungkai merupakan suatu unsur diantara unsur-unsur komponen kondisi fisik yaitu kemampuan biomotorik manusia yang dapat ditingkatkan sampai batas-batas tertentu dengan melakukan latihan-latihan tertentu yang sesuai.
Apabila seorang pemain sepakbola memiliki otot panjang tidak menutup kemungkinan lebih besar kekuatan otot yang dimiliki. Panjang otot tungkai sama pentingnya dengan panjang tulang, semakin panjang tulang uang dimiliki seseorang, semakin panjang ototnya dan besar pula kekuatannya. Faktor-faktor yang harus benar-benar diperhatikan secara seksama melalui pembinaan secra dini, serta juga memperhatikan postur tubuh yang meliputi: (a) ukuran tinggi badan dan panjang tubuh,(b) ukuran besar, lebar dan berat tubuh, (c) samato type (bentuk tubuh:endomophy, mesomorphy, dan sctomorphy) (Sajoto, 1988: 11-13).
Besar kecilnya otot benar-benar berpengaruh terhadap kekuatan otot adalah suatu kenyataan. Pemain yang memilik tulang panjang tetapi tidak didukung otot yang panjang tidak memiliki kekuatan yang besar. Semakin besar serabut otot seseorang semakin kuat pula otot tersebut. Dan makin panjang ukuran otot, mkn kuat pula seorang pemain. Faktor ukuran ini baik besanya maupun panjangnya sangat dipengaruhi oleh pembaaan atau keturunan. Walaupun ada bukti baha pembesaran otot itu disebabkan oleh bertambah luasnya serabut otot akibat suatu latihan. Makin panjang tungkai yang dimiliki semakin panjang pula serabut ototnya (Sajoto, 1999: 111).
2.2 Kelentukan
Kelentukan adalah kemampuan untuk bergerak dalam ruang gerak sendi (Harsono, 1988:5). Dalam hal ini kelentukan dipengaruhi oleh tulang, otot dan sendi. Tulang sendi berfungsi untuk alat gerak pasif, bagian dari kerangka dihubungkan satu dengan lainnya melalui perantara berupa pelekatan-pelekatan disebut persendian, dan otot merupakan alat gerak aktif. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelentukan menurut Suharmo HP (1986:53) sebagai berikut : a) Elastisitas dari otot, b) Tonus otot, c) Derajat panas dari luar, d) Unsur kejiwaan, e) Bentuk tulang-tulang yang menentukan persendian, f) Umur dan jenis kelamin.
2.2.1 Latihan Kelentukan
Dalam kaitanya dengan kelentukan, latihan pada hakikatnya merupakan kegiatan fisik yang sistematis untuk merubah fisik otot tungkai agar mempunyai kelentukan sebagai pemain sepakbola. Kelentukan (flexibility) adalh efektivitas seseoarang dalam menyesuaikan diri untuk segala aktivitas dengan penguluran tubuh pada bidang sendi yang sendi yang luas. Kelentukan ini dipengaruhi oleh elastisitas sendi dan elastisitas otot-otot serta dinyatakan dalam derajat (Wahadi, 2004: 19). Menurut William (1990: 87), kelentukan berguna sekali dalam tindakan preventif mengatasi cidera dan perbaikan postur yang buruk. Sedangkan Harsono (1988: 163) menyampaikan kegunaan kelentukan ini lebih rinci lagi, bahwa perbaikan dalam kelentukan akan dapat: (1) mengurangi kemungkinan terjadi cidera-cidera; (2) membantu dalam mengembangkan kecepatan, koordinasi, dan kelincahan (Agility); (3) membantu mengembangkan prestasi; (4) menghemat pengeluaran tenaga pada waktu melakukan gerakan-gerakan; dan (5) membantu memperbaiki sikap tubuh.
Berdasarkan hal tersebut, dapat disampaikan bahwa kelentukan merupakan unsur yang sangat menentukan kelincahan, yakni kemampuan tubuh untuk mengubah arah gerakan secara cepat dan lincah. Power otot tungkai dalam realisasinya harus didukung oleh komponen kelentukan, karena kentukan ini mengatur kekuatan otot tungkai sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, kelentukan merupakan komponen yang tak terpisahkan dari Power otot tungkai untuk dapat menggunakan kekuatan itu sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, bagi pemain sepakbola, agar ia mapu menendang bola secara maksimal kelentukan ini pun harus dilatih.
Adapun teknik untuk melatih kelentukan ini terdiri atas peregangan otot dan jaringan lain yang melewati persendian. Penentu pertama kelentukan adalah elastisitas otot. Pengalaman menunjukkan bahwa elastisitas otot berkurang sesudah masa tak aktif yang panjang. Sebaliknya, peregangan otot yang teratur dapat dapat meningkatkan elastisitas otot. Jadi, tujuan latihan kelentukan otot adalah untuk memaksimalkan elastisitas otot, misalnya kemampuan meluruskan. Latihan kelentukan akan berhasil dengan meregangkan jaringan ikat otot. Pate (1993: 330-332) menunjukkan prinsip dari latihan ini terdiri atas: (1) peregangan balistik (gerak peluru); (2) peregangan statis; (3) peregangan pasif; dan (4) peregangan kontraksi-relaksasi.
Dalam peregangan balistik (gerak peluru), pada prinsipnya adalah penerapan suatu otot sehingga otot tersebut diregangkan dengan cepat dan untuk waktu yang singkat. Peregangan balistik melibatkan gerakan melompat dan gerak yang menyentak. Gerakan senam yang menyentuh ujung jari kaki da memutar pinggang adalh termasuk le\atihan peregangan balistik. Peregangan balistik ini harus dilakukan secara hati-hati.
Dalam peregangan statis, peserta mengambil posisi yang menggunakan peregangan yang sedang pada sekelompok otot. Peregangan tersebut dilakukan secara perlahan-lahan dan dipertahankan selama 10 detik atau lebih. Peregangan ini tidak dapat dilakukan secara mutlak dan menumbulkan rasa sakit. Peregangan ini menghindari beberapa masalah yang berhubungan dengan peregangan balistik. Setelah penundaan secara singkat menyebabkan otot yang diregang menjadi mengendur dan menyesuaikan diri pada saat meregang. Pengendoran ini akan memungkinkan penggunaan tenaga yang lebih efektif pada jaringan penghubung otot. Peregangan statis ini dapat menolong untuk mencegah kerusakan otot yang mungkin terjadi setelah latihan keras. Peregangan statis ini dapat diperjelas dengan gambar berikut:

Gambar 3. Pergangan statis. A=berdiri menyentuh jari kaki; B=duduk menyentuh jari kaki; C=meregang betis; Dmenyentuh jari kaki melalui kepala (pate, 1993:331)
Peregangan pasif, peserta harus dengan sadar mengendorkan sekelompok otot, sementara pasangannya melakukan peregangan secara perlahan-lahan pada otot yang dimaksud. Peregangan statis dapat menambah pengendoran pada otot yang diregang. Hal ini memungkinkan penggunaan tenaga luar khususnya pada kelompok otot yang elastis. Peregangan pasif ini dapat diperjelas dengan gambar berikut:
Gambar 3. Peregangan pasif
Dalam peregangan kontraksi-relaksasi, pelaksanaannya berupa kegiatan otot aktif dengan kontraksi otot isometric yang kuat diikuti oleh peregangan pasif yang dilakukan pasangan otot yang sama. Prosedur ini dapat membantu relaksasi otot secara penuh selama masa peregangan dengan merangsang secara keras organ badan selama masa kontraksi. Kontraksi otot sebelumnya menyebabkan peningkatan yang tajam pada kelentukan sendi selama peregangan pasif. Peregangan kontraksi-relaksasi ini juga dikenal sebagai propioceptive neuromuscular facilitation (PNF).Peregangan kontraksi-relaksasi ini dapat diperjelas dengan gambar berikut:


Gambar 4.Peregangan kontraksi-relaksasi. A=peserta melakukan kontraksi isometric yang kuat pada sekelompok otot hamstring melawan tahanan yang diberikan pasangannya B=peserta mengendorkan keompok otot hamstring sementara pasangannya meregangkan kelompok otot tersebut.
2.3 Latihan Koordinasi
Faktor lain ikut berperan dalam menedang bola, yakni koordinasi antara kekuatan otot tungkai dan kelentukan. Tanpa koordinasi, maka kekuatan otot dan kelentukan akan berfungsi secara terpisah. Dengan kata lain, kekuatan otot tungksi harus dikoordinir sehingga menghasilkan tendangan yang baik dan tepat. Jadi, koordinasi dalam permainan sepakbola berperan sebagai penghubung antara kekuatan otot tungkai dan kelentukan agar bersesuaian dengan kebutuhan sehingga dapat menghasilkan tendangan yang baik,tepat, dan maksimal dalam permainan sepakbola.
Berbeda dengan latihan kekuatan otot dan kelentukan yang dilakukan melalui gerakan senam, latihan koordinasi ini dapat dilakukan dengan cara menggiring bola kemudian menendangnya kearah gawang. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang sehinggan menghasilkan suatu tendangan yang baik, tepat dan maksimal.

Sangat penting untuk diperhatikan dalam melatih koordinasi ini, yaitu perubahan kecepatan dan arah yang mendadak, gerakan tubuh dan kaki yang luwes, dan control bola yang rapat. Latihan koordinasi ini biasanya dilakukan dengan system dribble, atau disebut dribbling seperti gambar berikut:

Gambar 5. Latihan koordinasi dengan cara Dribbling
Prosedur latihan koordinasi dengan dribbling ini adalh sebagai berikut: Pemain paling depan melakukan dribbling melewati rintangan-rintangan sampai kedepan barisan ke dua, kemudian orang yang pertama di barisan ke dua dribbling melewati rintangan sampai kedepannya, begitu seterusnya. Orang yang telah dribbling menuju belakang ke barisan yang lain.
Di samping melatih power otot tungkai, kelentukan, dan koordinasi sebagaimana disampaikan diatas, seorang pemain sepakbola juga harus memperhatikan komponen pendukung yang lain, yakni energi yang berasal dari makanan. Menurut Soekarman (1987: 12), energi adalah kemampuan untuk melakukan suatu usaha atau menghasilkan suatu perubahan. Semua energi yang digunakan untuk proses kehidupan berasal dari matahari. Melalui proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan hijau, energi matahari diubah menjadi energi kimia. Energi yang dihasilkan oleh tumbuhan terutama berbentuk glukosa, protein dan lemak. Untuk mendapatkan energi tersebut, manusia makan tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Energi yang daisampaikan oleh Soekarman tersebut memang sangat diperlukan oleh pemain sepakbola yang memerlukan energi yang tinggi. Seorang pemain sepakbola memerlukan semua jenis makanan yang bergizi. Paling tidak, ia harus mengkonsumsi makanan pokok yang mudah dijumpai sehari-hari.
Sebenarnya, masing-masing jenis makanan di atas mengandung zat yang juga dikandung oleh jenis makanan yang lain. Misalnya, protein yang terdapat pada sayu-sayuran, juga terdapat pada susu, daging dan juga telur. Vitamin yang dikandung oleh buah-buahan, juga terdapat di dalam sayur-sayuran, daging, telur dan lain-lain. Tetapi kadar kandungannya berbeda-beda. Mirkin (1984: 54) menyebutkan bahwa kesehatan tubuh dapat dijaga dengan makan makana yang baik, yakni susu, telur, daging, unggas, ikan, buah-buahan dan sayur-sayuran. Mirkin (1984: 55) menambahkan bahwa tubuh memerlukan lebih dari empat puluh macam bahan gizi, yang ditemukan dalam enam komponen makanan, yakni air, karbohidrat, lemak, protein, mineral dan vitamin. Mirkin adalah mantan atlet pelari dan telah bertahun-tahun mengadakan percobaan mengenai makanan yang diperlukan oleh seorang olahragawan.
Berkenaan dengan kebutuhan energi bagi kekuatan otot, dapat diperjelas bahwa energi yang dihasilkan dari proses oksidasi bahan makanan tidak dapat digunakan secara langsung untuk kontraksi otot, tetapi energi ini terlebih dulu membentuk senyawa kimia berenergi yang tinggi, yakni Adenosin Triphosphate (ATP), selanjutnya ATP tersebut diangkut oleh darah ke seluruh bagian sel tubuh yang memerlukan energi (Fox, 1993: 97).
Otot merupakan salah satu alat tubuh yang menggunakan ATP sebagai sumber energi dalam melakukan kontraksi sehingga dapat menimbulkan gerakan-gerakan sebagai aktivitas fisik. Sebagaimana telah diperjelas bahwa miofibril (serabut otot yang dapat memendek) membuat otot dapat berfungsi sebagai system penggerak tubuh. Miofibril masih terdiri atas elemen yang disebut miofilamen. Ada dua macam miofilamen, yakni myosin yang disebut juga filament tebal, dan aktin yang disebut filament tipis. Keduanya terdiri atas altimiosin. Filamen inilah yang memungkinkan otot berkerut dan berkembang, dengan energi dari ATP (Enslikopedi Nasional Indonesia, 1997, Vol 11: 329).
2.4 Tendangan
Tendangan adalah salah satu teknik khusus yang disebut shooting yang diarahkan ke gawang lawan di dalam permainan sepakbola. Tendangan atau shooting adalah gerak kerja yang terpenting dan merupakan gerakanan terakhir dari gerak kerja serangan melalui tendangan tadi. Kegagalan shooting kearah gawang lawan akan memberi peluang kepada pihak lawan untuk melakukan serangan balik atau bola keluar meninggalkan lapangan permainan. Sebaliknya keberhasilan shooting kearah gawang lawan jelas akan menambah poin untuk tim kesebelasan yang bersangkutan. Singkatnya, teknik shooting harus dikuasai dengan baik dan benar oleh seorang pemain sepakbola.
Dalam permainan sepakbola ada dua macam teknik shooting, yakni shooting yang dilakukan dengan mengunakan kaki bagian luar atau punggung kaki (disebut pula shooting kura-kura) dan shooting yang dilakukan dengan menggunakan kaki bagian dalam. Pada umumnya menedang dengan punggung kaki bagian dalam digunakan intuk menendang jarak jauh atau jauhnya tendangan. Menendang dengan punngung kaki bagian dalam dapat diperjelas dengan gambar berikut:

Gambar 6. Latihan tendangan dengan kaki bagian dalam
Apapun bentuk teknik dari shooting tersebut, untuk dapat melakukan shooting dengan baik seorang pemain sepakbola harus melatih kekuatan otot tungkai, kelentukan dan koordinasi semenjak dini.
2.6 Tinjauan Power Otot Tungkai, Kelentukan dan Koordinasi dengan Tendangan
Dalam tinjauan teoritis ini terdapat tiga variable yaitu power (force), Kelentukan (flexibility) dan Koordinasi. Dimana power (daya) adalah laju kerja yang dilakukan atau laju energy yang dipindahkan. Dalam satuan Si, daya diukur dalam watt (joule per detik). Force aalah sesuatu yang cenderung mengubah momentum suatu benda masif. Gaya didefinisikan berbanding lurus dengan massa (m) yang bergerak dengan kecepatan V1 momentumnya yaitu mv. Tungkai adalah kaki (seluruh kaki dari pangkal paha ke bawah);yang panjang (poerwadatminta, 1976:1107).

Pada ketiga vaiable diatas memiliki hubungan yang signifikan dalam melakukan tendangan khususnya tendangan jarak jauh. Dimana pada gerakan menedang bola power yang dikeluarkan oleh tungkai yang menghasilkan gerak putar yang bertumpu pada sendi panggul besarnya berbanding lurus dengan gaya yang dihasilkan pada gerakan tersebut. Dengan kata lain semakin besar power yang dikeluakan semakin besar pula gaya yang dihasilkan, dan pada saat terjadi tumbukan dengan bola momentum yang dihasilkanun akan berbanding lurus dengan gaya yang dihasilkan pada saat gerakan.
Power otot adalah gaya yang dihasilkan oleh kontraksi maksimal suatu otot atau sekelompok otot dalam mengatasi suatu tahanan tertentu. Power otot tungkai memungkinkan otot tersebut mempunyai daya ledak (explosive). Melatih power otot tungkai bertujuan agar ia mempunyai daya ledak yang besar sehingga kaki mampu melakukan tendangan yang kuat dan jauh sesuai dengan kebutuhan. Daya ledak (explosive) merupakan hal yang sangat penting dan sangat diperlukan untuk pencapaian prestasi olahraga seperti prestasi dalam bidang sepakbola.
Tungkai atau alat gerak tubuh bagian bawah terdiri atas: bagian paha, betis dan kaki. Tungkai antara lain memiliki tiga sendi yang penting, yakni: sendi panggul, sendi lutut, dan sendi pergelangan kaki. Gerak persendian ini menghasilkan kegiatan-kegiatan yang bersifat khusus seperti melompat, menendang, mengayun dan lain-lain. Karena itu kegiatan tungkai sangat penting dalam berbagai kinerja gerak.
Di sisi lain, kelentukan merupakan unsure yang sangat menentukan kelincahan, yakni kemampuan tubuh untuk mengubah arah gerakan secara cepat dan lincah. Kekuatan otot tungkai yang memiliki daya ledak yang besar dalam realisasinya harus didukung oleh komponen kelentukan, Karena kelentukan ini mengatur kekuatan otot tungkai sesuai dengan kebutuhan. Kelentukan (flexibility) adalah efektivitas seseorang dalam menyesuaikan diri untuk segala aktivitas dengan segala penguluran tubuh pada bidang sendi yang luas. Kelentukan ini dipengaruhi oleh elastisitas sendi dan elastisitas otot-otot serta dinyatakan dalam derajat. Kelenutkan juga berguna sekali dalam tindakan preventif mengatasi cidera dan perbaikan postur yang buruk. Perbaikan dalam kelentukan antara lain akan dapat menghemat pengeluaran tenaga pada waktu melakukan gerakan-gerakan, dan membantu memperbaiki sikap tubuh.
Bedasarkan hal tersebut, dapat disampaikan bahwa kelentukan merupakan unsur yang sangat menentukan kelincahan, yakni kemampuan tubuh untuk mengubah arah gerakan secara cepat dan lincah. Dengan demikian, kelentukan merupakan komponen yang tak terpisahkan dari kekuatan otot tungkai untuk dapat menggunakan kekuatan itu sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, bagi pemain sepakbola, agar ia mampu menendang bola secara maksimal sesuai kebutuhan, kelentukan ini pun harus dilatih.
Namun perlu diketahui bahwa kekuatan otot tungkai dan kelentukan akan berfungsi secara terpisah atau sendiri-sendiri sehingga agar kedua faktor tersebut bersesuaian sesuai dengan kebutuhan harus ada koordinasi antara keduanya. Dalam permainan sepakbola, koordinasi berperan sebagai penghubung antara kekuatan otot tungkai dan kelentukan. Maksudnya, koordinasi merupakan kemampuan untuk mengatur kekuatan otot tungakai dengan kelentukan agar bersesuaian dengan kebutuhan sehingga dapat menghasilkan tendangan yang baik, tepat, dan maksimal dalam permainan sepakbola.
Dari uraian tersebut jelas bahwa antara power otot tungkai, kelentukan dan koordinasi merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, artinya antara ketiga faktor tersebut ada hubungan yang signifikan sehingga ketiga faktor tersebut harus dilatih dalam kaitannya dengan kemampuan menedang bola.
2.8 Hipotesis
Berdasarkan landasan teori di atas, Hipotesis penelitian ini adalah:
2.7.1 Ada sumbangan besar dari power otot tungkai dengan jauhnya tendangan bola pada siswa ekstrakulikuler sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan.
2.7.2 Ada sumbangan besar dari kelentukan dengan jauhnya tendangan bola pada siswa ekstrakulikuler sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan.
2.7.3 Ada sumbangan besar dari koordinasi dengan jauhnya tendangan bola pada siswa ekstrakulikuler sepakbola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan.
2.7.4 Ada sumbangan besar dari power otot tungkai, kelentukan dan koordinasi dengan jauhnya tendangan bola pada siswa ekstrakulikuler sepak bola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan.

































BAB III
METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian survei tes. Sebagaimana telah disampaikan oleh Chaplin (1981) yang dikutip oleh Kartono (1996: 6), bahwa survei merupakan: (1) suatu studi ekstensif dan luas yang dipolakan untuk memperoleh informasi-informasi khusus; (2) satu inspeksi atau pengujian. Dalam penelitian ini, survei tersebut menggunakan alat tes untuk mengetahui kekuatan otot tungkai, kelentukan dan koordinasi kaitannya dengan jauhnya tendangan bola. Karena itu, survei dalam penelitian ini digunakan dengan istilah “survei tes”. Sehubungan dengan hal itu, penelitian ini didesain dengan pola M-S (Matching-Subject desain). Dalam pola M-S, matching dilakukan terhadap subyek demi subyek. Subyek matching sekaligus merupakan kelompok matching karena hakikat subyek matching diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan pasangan-pasangan subyek (pair of subjects) dari masing-masing kelompok eksperimen dan kelompok kontrol secara otomatis akan seimbang. Adapun pairing of subjects yang setingkat atau seimbang dijalankan bawah dasar pengukuran pre-eksperimental atau bawah dasar penyelidikan-penyelidikan pendahulu lainnya (Sutrisno Hadi, 1995: 484). Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa matching pada pola M-S dilakukan terhadap subyek demi subyek dan pair of subjects dilakukan sebelum perlakuan diberikan.
Berikut disampaikan hal-hal yang berkenaan dengan metodologi penelitian ini, yakni: populasi dan sample, Variabel penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, dan teknik analisis data.

3.1 Popolasi dan Sampel
Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 108), populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa putra SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan tahun 2010 yang mengikuti ekstrakulikuler sepakbola.
Sampel merupakan sebagian atau wakil dari populasi (Suharsimi Arikunto, 2002: 109). Pengambilan sampel digunakan teknik total sampling, yakni semua subyek dalam populasi penelitian diberi hak yang sama sebagai sampel penelitian.
3.2 Variabel Penelitian
Variabel diartikan sebagai obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Suharsimi Arikunto, 2002: 96). Penelitian ini mengandung 2 (dua) variabel, yakni: (1) Variabel bebas dan (2) Variabel terikat. Sebagai variabel bebas dalam penelitian ini adalah: hasil latihan kekuatan otot tungkai, kelentukan, dan koordinasi. Sedangkan variabel terikatnya adalah jauhnya tendangan bola.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes. Tes ini dilakukan satu kali. Tes merupakan serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Suharsimi Arikunto, 2002: 127).
Sampel penelitian dikelompokkan menjadi dua kelompok yang sama, kelompok pertama sebagai kelompok yang tidak melakukan latihan kekuatan otot tungkai, kelentukan dan koordinasi sedangkan kelompok kedua sebagai kelompok yang melakukan latihan tersebut.

Tes dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan akhir dari subyek masing-masing kelompok, yang hasilnya akan dianalisis secara statistik untuk membuktikan kebenaran hipotesis dan sebagai dasar untuk menyimpulkan hasil penelitian.
3.4 Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini , instrumen penelitian adalah semua alat atau perlengkapan yang digunakan untuk pengambilan data termasuk alat tes yang digunakan sebagai alat atau perlengkapan untuk mengukur jauhnya tendangan bola siswa ekstrakulikuler sepak bola SMU Negeri 1 Sragi Kabupaten Pekalongan. Adapun prosedur tesnya adalah sebagai berikut:
Tujuan : Mengetahui jauhnya tendangan bebas secara langsung.
Sarana dan Alat : Lapangan, peluit dan pita pengukur jarak jauhnya bola (meteran panjang/roll meter), blangko penilaian, alat-alat tulis dan bola kaki.
Petugas : Satu orang pemberi aba-aba, dua orang pengukur dan satu orang sebagai pencatat hasil tendangan.
Pelaksanaan : subyek siap menembakkan bola kaki di lapangan setelah ada tanda (bunyi peluit) dari petugas, kemudian petugas lainnya mengukur jauhnya tendangan tersebut berdasarkan titik jatuhnya bola.
Skor : Subyek melakukan 2 kali percobaan, nilai untuk setiap percobaan adalah jumlah jauhnya tendangan. Skor akhir adalah rerata dari percobaan tersebut.

3.4.1 Tes Power Otot Tungkai
1) Tujuan
Untuk mengukur komponen power otot tungkai.
2) Alat dan Fasilitas
Papan skala, kapur
3) Pelaksanaan
Prosedur tes power otot tungkai adalah sebagai berikut: Subyek(testee) menghadap dinding dengan salah satu lengan diluruskan keatas. Lalu dicatat tinngi jangkauan tersebut. Kemudian testee berdiri dengan bagian disamping kearah tembok, dan salah satu lengan yang terdekat dengan tembok lurus keatas, kemudian dia mengambil sikap jongkok sehingga lututnya membentuk 45 .stelah itu testee coba berusaha melompat setingg mungkin. Pada saat titik tertinggi dari lompatan itu a segera menyentuh ujung jari dari salah satu tangannya pada papan ukuran kemudian mendarat dengan dua kaki.
4) Kriteria tes

Kriteria Putra
BAIK SEKALI
BAIK
SEDANG
KURANG
KURANG SEKALI >70
62-69
53-61
46-52
38-45


3.4.2 Tes Kelentukan
1) Alat dan Fasilitas
a) Dinding dan lantai yang rata.
b) Formulir pencatat hasil tes dan alat tulis
2) Pelaksanaan
Prosedur tes kelentukan ini adalah sebagai berikut: Masing-masing subyek berdiri tegak dekat dinding, membungkukkan badannya dengan tangannya berusaha menggapai ke bawah serendah-rendahnya atau semaksimal mungkin. Kelentukan ini diukur dengan satuan cm.
3.4.3 Tes Koordinasi
1) Alat dan Fasilitas :
a) Lapangan
b) 10 count
c) Peluit
d) Beberapa bola
e) Stopwacth
f) Alat tulis dan formulir pencatat hasil
2) Pelaksanaan
Prosedur tes ini adalah sebagai berikut: Masing-masing subyek berdiri di tempat yang telah ditentukan, setelah mendengar aba-aba ia melakukan zigzak menggiring bola melewati 10 count yang dijajar lurus berjarak 0,5 m. Setelah sampai ujung berbalik lagi menuju tempat semula. Koordinasi ini diukur dengan cara menghitung yang diperlukan dalam melakukan kegiatan tersebut.
3.4.4 Tes Akhir
Tes akhir dimaksudkan untuk mengetahui seberapa pengaruh hasil latihan power otot dan kelentukan terhadap jauhnya tendangan bebas secara langsung dalam permainan sepakbola. Masing-masing subyek melakukan tendangan bebas secara langsung dan Tim kemudian mengukur dan mencatat jauhnya tendangan bola dari masing-masing subyek dengan menggunakan alat ukur (roll metre), yang hasilnya digunakan sebagai data untuk dianalisis.
3.5 Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul melalui postes dianalisis dengan menggunakan t-tes rumus pendek sebagai berikut:

No comments:

Post a Comment