Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Tuesday, December 14, 2010

MAKALAH TEORI PEMBELAJARAN

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/12961187/TEORIBELAJAR.docx.html

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 3
BAB I PENDAHULUAN 3
A.LATAR BELAKANG 4
B.RUMUSAN MASALAH 5
C.TUJUAN 5
BAB II ISI 5
A. TEORI BELAJAR BEHAVIORISME 5
a) Deskripsi Singkat 5
b) Kritik 6
c) Contoh Aplikasi Dalam Kegiatan Instruksional 6
B. TEORI BELAJAR KOGNITIVISME 7
a) Deskripsi Singkat 7
b) Kritik 8
c) Contoh Aplikasi Dalam Kegiatan Instruksional 8
C. TEORI BELAJAR HUMANISTIK 10
a) Deskripsi Singkat 10
b) Kritik 11
c) Contoh Aplikasi Dalam Kegiatan Instruksional 11
D. TEORI BELAJAR SIBERNETIK 12
a) Deskripsi Singkat 12
b) Kritik 13
c) Contoh Aplikasi Dalam Kegiatan Pembelajaran 13
BAB III PENUTUP 13
A. SIMPULAN 13
B. SARAN 14





KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME atas rahmat dan karunia-Nya kepada penulis,sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Teori Pembelajaran” ini dengan lancar. Penukisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Teori Pembelajaran.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis peroleh dari buku Teori Pembelajaran dan Motivasi.
Penulis berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai Teori Pembelajaran, khususnya bagi penulis. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.


Semarang, 24 Oktober 2010

Penulis










BAB I PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Model Pembelajaran dengan pendekatan Kooperatif model pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosialUsaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Menurut Eggen dan Kauchak dalam Wardhani(2005), model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa selama belajar. Dengan pemilihan metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran, diharapkan adanya perubahan dari mengingat (memorizing) atau menghapal (rote learning) ke arah berpikir (thinking) dan pemahaman (understanding), dari model ceramah ke pendekatan discovery learning atau inquiry learning, dari belajar individual ke kooperatif, serta dari subject centered ke clearer centered atau terkonstruksinya pengetahuan siswa (Setiawan, 2005). Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang sama sekali baru bagi guru. Apakah model pembelajaran kooperatif itu? Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Nur (2000), semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan serta struktur penghargaan model pembelajaran yang lain.






B.RUMUSAN MASALAH

Dengan memperhatikan latar belakang tersebut,agar dalam penulisan ini penulis memperoleh hasil yang diinginkan, maka penulis mengemukakan beberapa masalah. Rumusan masalah itu adalah:
Apa deskripsi singkat pada teori-teori belajar?
Apa kritik pada teori-teori belajar?
Apa contoh aplikasi dalam kegiatan instruksional pada teori-teori belajar?


C.TUJUAN

Tujuan dari penysunan makalah-makalah ini antara lain:
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Pembelajaran.
Untuk menambah wawasan tentang Teori pembelajaran.









BAB II ISI

A. TEORI BELAJAR BEHAVIORISME
a) Deskripsi Singkat

• Menurut teori ini, belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu bila mampu menunjukan perubahan tingkah laku.
• Menurut teori ini,yang terpenting adalah masukan/input yang berupa stimulus dan keluaran/output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons di anggap tak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati. Yang bisa diamati hanyalah stimulus dan respons.
• Faktor lain yang juga penting adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (disebut positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Begitu pun bila penguatan dikurangi (disebut negative reinforcement), respons pun akan tetap dikuatkan.
• Pelopor terpenting teori ini antara lain adalah Pavlov, Watson, Skinner, Hull, dan Guthrie.

b) Kritik

• Teori ini sering sekali dikritik sebagai teori yang tidak mampu menjelaskan proses belajar yang kompleks.

• Asumsi pokoknya, bahwa semua hasil belajar yang barupa perubahan tingkah laku yang dapat diamati, juga dianggap terlalu menyederhanakan masalah belajar yang sesungguhnya. Tidak semua hasil belajar dapat diamati dan diukur, paling tidak dalam tempo seketika.



c) Contoh Aplikasi Dalam Kegiatan Instruksional

• Seperti teori-teori belajar lain, teori behaviorisme pun dalam aplikasinya tergantung pada beberapa hal seperti sifat materi pelajaran, karakteristik mahasiswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedi.

• Namun secara umum, aplikasi teori behaviorisme biasanya meliputi beberapa langkah yang berikut ini:

 Menentukan tujuan-tujuan instruksional.
 Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi “entry behavior” mahasiswa (pengetahuan awal mahasiswa).
 Menentukan materi pelajaran (pokok bahasan,, topik dan sebagainya).
 Memecah materi pelajaran menjadi bagian kecil-kecil (sub pokok bahasan, sub topik, dan sebagainya).
 Menyajikan materi pelajaran.
 Memberikan stimulus yang mungkin berupa:Pertanyaan (lisan atau tertulis);Tes;Latihan;Tugas-tugas.
• Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan.
• Memberi penguatan /reinforcement (mungkin penguatan positive atau pun penguatan negative).
• Memberikan stimulus baru.
• Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan (mengevaluasi hasil belajar).
• Memberikan penguatan.
• (dan seterusnya).

B. TEORI BELAJAR KOGNITIVISME

a) Deskripsi Singkat

• Menurut teori ini, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang dapat diamati (bandingkan dengan Teori Behaviorisme).

• Asumsi dasar teori ini adalah, bahwa setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan didalam dirinya. Pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Menurut teori ini,proses belajar akan berjalan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi (bersinambung) secara “klop” dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki oleh mahasiswa.

• Dalam perkembangannya, setidak-tidaknya ada tiga teori belajar yang bertitik tolak dari teori kognitivisme ini, yakni teori perkembangan Piaget, teori kognitif Bruner, dan teori bermakna Ausubel.

b) Kritik

• Teori kognitif sering dikritik sebagai lebih dekat kepada psikologi dari pada teori belajar, sehingga aplikasinya dalam proses pembelajaran adalah tidaklah mudah.


• Teori juga dianggap sukar dipraktekan secara murni sebab seringkali kita tidak mungkin memahami “struktur kognitif” yang ada dalam benak setiap mahasiswa, apalagi memilah-milah struktur kognitif tersebut menjadi bagian-bagian yang diskrit (jelas batas-batasnya). Pada tahap lanjut (advanced), seringkali tidak mudah memahami dan mengidentifikasi pengetahuan yang sudah ada dalam benak mahasiswa. Seringkali pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki mahasisa itu sudah terlalu kompleks untuk diidentifikasi secara tuntas,apalagi hanya menggunakan satu-dua test.

c) Contoh Aplikasi Dalam Kegiatan Instruksional

i. Teori Perkembangan Piaget
• Seperti teori Burner dan Ausubel, teori Piaget ini pun dalam aplikasi praktisnya sangat mementingkan keterlibatan mahasiswa secara aktif dalam proses belajar. Menurut teori Piaget, hanya dengan mengaktifkan mahasiswa, maka proses asimilasi/akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
• Secara umum, penaplikasian teori Piaget biasanya mengikuti pola berikut ini:
• Menentukan tujuan-tujuan instruksional.
• Memilih materi pelajaran.
• Menentukan topik-topik yang mungkin dipelajari secara aktif oleh mahasiswa (dengan bimbingan minimum dari dosen).
• Menentukan dan merancang kegiatan belajar yang cocok untuk topik-topik yang akan dipelajari mahasiswa.(kegiatan belajar ini biasanya berbentuk eksperimentasi, problem solving, roleplay, dan sebagainya).
• Mempersiapkan berbagai pertanyaan yang dapat memacu kreatifitas mahasiswa untuk berdiskusi atau bertanya.
• Mengevaluasi proses dan hasil belajar.
ii. Teori Kognitif Burner
• Selain ciri umum yang sudah dibahas di atas, teori Bruner ini dalam aplikasi praktisnya sangat membebaskan mahasiswa untuk belajar sendiri.karena itulah teori Bruner ini dianggap sangat cenderung bersifat discovery (belajar dengan cara menemukan). Di samping itu, karena teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-pengulangan, maka desain yang berulang-ulang itu lazim disebut sebagai “kurikulum spiral Bruner”.
• Secara singkat, kurikulum spiral menurut guru untuk memberi materi perkuliahan setahap demi setahap, dari yang sederhana ke yang kompleks, di mana suatumateri yang sebelumnya sudah diberikan,suatu saat muncul kembali,secara terintegrasi,di dalam suatu materi baru yang lebih kompleks. Demikian seterusnya berulang-ulang, sehingga tak terasa mahasiswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh.
• Secara umum, teori Bruner ini bila diaplikasikan biasanya mengikuti pola sebagai berikut:
• Menentuka tujuan-tujuan instruksional.
• Memilih materi pelajaran.
• Menentukan topik-topik yang bisa dipelajari secara induktif oleh mahasiswa. secara sederhana, belajar secara induktif menuntut mahasiswa belajar dari contoh-contoh, kemudian menyimpulkan sendiri konsep-konsep pengetahuan yang tersirat dalam contoh-contoh itu).
• Mencari contoh-contoh, tugas, ilustrasi, dan sebagainya yang dapat digunakan mahasiswa untuk belajar.
• Mengtur topik-topik pelajaran sedemikian rupa sehingga urutan topik itu bergerak dari yang paling konkrit ke yang abstrak, dari yang sederhana ke yang kompleks, dari tahap enaktif, ikonik,sampai ke tahap simbolik dan seterusnya.
• Mengeveluasi proses dan hasil belajar.

iii. Teori Bermakna Ausubel
• Dibandingkan teori Bruner, maka teori Ausubel ini dalam aplikasinya menuntut mahasiswa belajar secara deduktif (dari umum ke khusus). Hal lain yang membedakan, Bruner lebih mementingkan struktur disiplin ilmu, Ausubel lebih menekankan pada aspek struktur kognitif mahasiswa.
• Satu konsep penting dalam teori Ausubel adalah Advance Organizer (AO). AO adalah suatu gambaran singkat (bersifat visual atau verbal) yang mencakup isi pelajaran baru yang akan dipelajari mahasiswa. AO berfungsi sebagai (1) kerangka konseptual yang menjadi titik tolak proses belajar yang akan berlangsung; (2) penghubung antara imu pengetahuan yang saat ini dikuasai mahasiswa dengan ilmu baru yang akan dipelajari; (3) fasilitator yang membantu mempermudah proses belajar mahasiswa.
• Secara umum, teori Ausubel dalam praktek adalah sebagai berikut:
• Menentukan tujuan-tujuan instruksional.
• Mengukur kesiapan mahasiswa (minat, kemampuan, struktur kognitif), baik melalui tes awal, interview, review, pertanyaan, dan lain-lain.
• Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci.
• Mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasai mahasiswa dari materi tersebut.
• Menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari.
• Membuat dan menggunakan advance organizer, paling tidak dengan cara membuat rangkuman terhadap materi yang baru saja diberikan, dilengkapi dengan uraian singkat yang menunjukan relevansi (keterkaitan) materi yang sudah diberikan itu dengan materi baru yang akan diberikan.
• Mengajar mahasiswa memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang sudah ditentukan, dangan memberi fokus pada hubungan yang terjalin antara konsep-konsep yang ada.
• Mengevaluasi proses dan hasil belajar.


C. TEORI BELAJAR HUMANISTIK

a) Deskripsi Singkat

• Menurut teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk ”memanusiakan manusia”. Proses belajar dianggap berhasil jika mahasiswa telah memahami lingkungsnnya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain, mahasiswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
• Secara umum, teori ini cenderung bersifat eklektik, dalam arti memanfaatkan teknik belajar apapun asal tujuan belajar mahasisawa dapat tercapai.
• Sebagai contoh, teori ini terwujud dalam karya Ausube (dengan Meaningful learning-nya), David Krathwohl dan Benjamin Bloom( dengan Taksonomi Blom-nya yang terkenal), Kolb (dengan “Belajar Empat Tahap”-nya); Honey dan Mumford (dengan pembagian tentang macam mahasiswa), Habermas (dengan “Tiga Macam/Tipe Belajar’-nya). Kita ingat kembali Ausubel juga masuk golongan Kognitivisme karena alasan yang lain.
• Menurut Krathwohl dan Bloom, ada tiga kawasan tujuan belajar yang dapat dicapai mahasiswa, yaitu Kognitif (pengetahuan), psikomotor (gerak), Afektif (sikap).
• Menurut Kolb, ada empat tahap dalam proses belajar, yaitu:
• Pengalaman konkrit (mahasiswa mengalami suatu pengalaman tetapi belum mampu memahami makna pengalaman itu).
• Pengalaman aktif dan reflektif (mahasiswa mulai mengamati secara aktif pengalamannya, dan secara reflektif mulai berusaha memahami makna pengalaman itu).
• Konseptualisasi (mahasiswa berusaha membuat abstraksi atau “berteori” tentang pengalaman-pengalamannya).
• Eksperimentasi aktif (mahasiswa mencoba mengaplikasikan suatu aturan umum ke situasi yang baru)
• Honey dan Mumford mendasarkan teorinya pada teori Kolb di atas. Honey dan Mumford membagi mahasiswa menjadi empat macam, yaitu:
• Aktifis (mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman baru).
• Reflektor (mereka yang banyak membuat pertimbangan hati-hati sebelum bertindak).
• Teoris (mereka yang suka menganalisis, berteori, dan cenderung selalu berpikir rasional).
• Pragmatis (mereka yang menaruh perhatian besar pada aspek praktis dari segala sesuatu).
• Menurut Habermas, ada tiga tipe belajar, yaitu:
 Belajar Teknis (menekankan interaksi manusia dengan lingkungannya).
 Belajar Praktis (menekankan tidak hanya interaksi manusia dengan lingkungannya, tetapi juga antara manusia dengan manusia lain).
 Belajar Emansipatoris (menekankan pada pemahaman mahasiswa terhadap transformasi (perubahan kultural) dalam suatu lingkungan.
b) Kritik

• Teori humanistik dikritik karena sukar digunakan dalam konteks yang lebih praktis. Teori ini dianggap lebih praktis. Teori ini dianggap lebih dekat dengan dunia filsafat daripada dunia pendidikan.
c) Contoh Aplikasi Dalam Kegiatan Instruksional

• Jika kita amati, maka teori humanistik ini dalam prakteknya cenderung mendorong mahasiswa untuk berpikir induktif (dari contoh ke konsep, dari konkrit ke abstrak, dari khusus ke umum, dan sebagainya).
• Penting juga diingat, teori humanistik ini amat mementingkan faktor pengalaman (keterlibatan aktif) mahasiswa di dalam proses belajar.
• Maka, meskipun tidak ada satu pun pakar humanistik yang menjabarkan teori mereka ke dalam langkah-langkah teknis, tetapi teori humanistik ini bila diaplikasikan akan mencakup tahap-tahap berikut ini:
• Menentukan tujuan-tujuan instruksional.
• Menentukan materi pelajaran.
• Mengidentifikasi entry behavior mahasiswa.
• Mengidentifikasi topik-topik yang memungkinkan mahasiswa mempelajarinya secara aktif (“mengalami”).
• Mendesain wahana (lingkungan, media, fasilitas,dan sebagainya) yang akan digunakan mahasiswa untuk belajar.
• Membimbing mahasiswa belajar secara aktif.
• Membimbing mahasiswa memahami hakikat dari makna pengalaman belajar mereka.
• Membimbing mahasiswa membuat konseptualisasi pengalaman tersebut.
• Membimbing mahasiswa sampai mereka mampu mengaplikasi konsep-kosep baru ke situasi yang baru.
• Mengevaluasi proses dan hasil belajar mahasiswa.


D. TEORI BELAJAR SIBERNETIK

a) Deskripsi Singkat

• Teori Sibernetik adalah teori yang relatif baru bila dibandingkan dengan ketiga teori belajar sebelumnya. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu informasi. Menurut teori iini, belajar adalah pengolahan informasi.
• Menurut teori ini, yang terpenting adalah “Sistem informasi” dari apa yang akan dipelajari mahasiswa. Sedangkan bagaimana proses belajar akan berlangsung, akan sangat ditentukan oleh sistem informasi ini. Karena itu, teori ini berasumsi, bahwa tidak ada satu pun jenis cara belajar yang ideal untuk segala situasi. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi.
• Dalam bentuknya yang lebih prakti, teori ini telah dikembangkan antara lain oleh Landa (dalam bentuk pendekatan algoritmik dan heuristik), serta Pask dan Scott (dengan pembagian tipe mahasiswa, yaitu tipe wholist dan tipe serialist).
• Pendekatan belajar algoritmik menuntut mahasiswa untuk berpikir secara sistematis, tahap demi tahap, linear, lurus menuju ke suatu target tertentu. Memahami suatu rumus matematika biasanya menghendaki pendekatan seperti ini.
• Pendekatan heuristik menuntut mahasiswa berpikir secara divergen, menyebar ke beberapa target sekaligus. Memahami suatu konsep yang penuh arti ganda dan penafsiran biasanya menuntut cara berpikir heuristik.
• Mahasiswa tipe wholist (menyeluruh) biasanya cenderung mempelajari sesuatu dari tahap yang paling umum, kemudian bergerak ke yang lebih khusus (rinci). Ibarat melihat lukisan, bukan detil-detilnya yang kita amati lebih dahulu, tetapi wujud lukisan itu secara menyeluruh.
• Mahasiswa tipe serialist cenderung bepikir secara algoritmik.

b) Kritik
• Teori sibernetik ini dikritik karena lebih menekankan pada sistem informasi yang akan dipelajari, tetapi kurang memperhatikan bagaimana proses belajar berlangsung. Alhasil, teori ini dianggap sulit dipraktekan.
c) Contoh Aplikasi Dalam Kegiatan Pembelajaran

• Beberapa langkah umum yang biasa kita temui dalam implementasi teori sibernetik ini adalah sebagai berikut:
 Menentukan ntujuan-tujuan instruksional.
 Menentukan materi pelajaran.
 Mengkaji sistem informasi yang terkandung dalam materi tersebut.
 Menentukan pendekatan belajar yang sesuai dengan sistem informasi itu (apakah algoritmik atau heuristik).
 Menyusun materi pelajaran dalam urutan yang sesuai dengan sistem informasinya.
 Menyajikan materi dan membimbing mahasiswa belajar dengan pola yang sesuai dengan urutan materi pelajaran.








BAB III PENUTUP

A. SIMPULAN
• Sejatinya pendidikan merupakan aspek kehidupan yang sangat penting bagi manusia. Karena dengan pendidikan manusia mampu berpikir logis dan mandiri dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan juga dapat bertujuan untuk menjadikan individu yang memiliki kepribadian yang lebih baik.
B. SARAN
• Sebagai pengajar yang baik, kita harus memahami dan menerapkan 3 komponen yaitu pendidikan, pengajara, dan pelatihan.