Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Tuesday, December 14, 2010

DUNIA BARU GERAKAN MAHASISWA INDONESIA

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/12960223/Mahasiswatakbisaterlepaskandariduniapolitik.doc.html

Mahasiswa tak bisa terlepaskan dari dunia politik. Kebutuhan menyampaikan aspirasi banyak ditopang kekuatan politik. Tak heran tafsiran politik praktis banyak menghiasi dunia mahasiswa. Kecenderungan afiliasi belum sepenuhnya bisa terlepas, mengingat sebagai warga negara mahasiswa berhak mendukung partai tertentu. Dalam titik kewajaran, tentu itu bukan satu hal yang pantas dipersalahkan. Asalkan tidak terlalu jauh terjebak politik praktis yang cenderung fragmatis.
Tapi melirik perkembangan kemahasiswaan, tak semua mahasiswa melirik kehidupan politik. Sepinya minat mahasiswa berpolitik bahkan mulai dirasakan. Aktivisme mahasiswa mulai berganti kebutuhan lulus cepat agar bisa merasakan pertarungan dunia kerja. Mahasiswa mengorientasikan dirinya sebagai sosok mahasiswa yang menyibukkan kuliah secepatnya. Setelah lulus, masuk dunia kerja. Terasa sekali citra manusia intelektual terpinggirkan.
Masa sekarang mahasiswa melupakan fungsinya berpolitik. Terbukti pemira kampus mulai ditinggalkan pemilih. Suara “warga kampus” utamanya mahasiswa dalam sekali putaran pemira sering gagal mencapai setengah jumlah pemilih. Presiden mahasiswa kadang dipertanyakan legalitasnya. Kenyataan ini meninggalkan sebuah pekerjaan rumah panjang.
Minimnya aktivisme mahasiswa melanda sebagian besar organisasi mahasiswa. Selain orientasi cepat lulus, ada faktor lain yaitu jumudnya gerakan dan organisasi mahasiswa. Untuk mengatasi itu, organ mahasiswa perlu menyegarkan kembali pemikiran dan aksinya. Semua demi terciptanya kembali kepercayaan mahasiswa untuk berorganisasi dan aktivitas berpolitik, utamanya di kampus masing – masing.
Jika melirik kembali dunia politik kampus, mahasiswa memerlukan berkaca sejarah masa lalu. Mereka perlu terbiasakan membaca fenomena kebutuhan mahasiswa. Kebiasaan mensurvei kebutuhan mahasiswa perlu kembali digalakkan. Bukan sekedar memenuhi ambisi memenangkan politik kampus demi melegalkan kepentingan tertentu. Hatta, sekalipun itu demi langgengnya kepentingan dakwah.
Kepentingan dakwah harus mampu berkorelasi positif terhadap kepentingan mahasiswa. Elaborasi gerakan diperlukan supaya kesan politik kaku ala elit terbantahkan. Politik kaku sendiri dimaksudkan politik janji manis ketika kampanye, hilang usai dia terpiilih. Politik kampus sepantasnya berani melahirkan gagasan segar, membiasakan duduk dan mendengar komunitas mahasiswa butuh apa. Bukan menjalankan program tahunan dan regular, yang mahasiswa belum tentu menikmatinya.
Alternatif Gerakan Mahasiswa
Berbagai pengamat gerakan dan aktivis mahasiswa banyak menelurkan gagasan segar untuk mendorong maraknya aksi gerakan mahasiswa.Mereka berusaha menawarkan sikap kritis terhadap isu sosial, politik, ekonomi yang belum mengalami banyak perbaikan. Sebagian lain menganjurkan gerakan mahasiswa berani out the box. Berikut sebagian alternatif yang dapat ditempuh gerakan mahasiswa.
Pertama menjalankan potensi sosial. Sepanjang 2005 – 2010, Indonesia mengalami masa tersulit. Bencana baik gempa bumi, banjir, tsunami dan letusan gunung Merapi melanda bumi pertiwi. Ratusan manusia meninggal, mayat bergelimpangan. Tragedi kemanusiaan ini melahirkan dampak kerugian materi dan immaterial besar. Berbagai kalangan merespon dan melahirkan simpati masyarakat yang luas. Bantuan deras mengalir, baik bantuan makanan, kesehatan dan lainnya. Semua berusaha memulihkan keadaan yang kacau.
Terakhir, Indonesia “dipaksa” berduka dimana Gunung Sinabung melemparkan dentuman keras. Warga sekitar mengalami kekagetan luar biasa. Mereka berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya. Akibat itu, seluruh harta benda hilang tak berbekas karena ditinggal penghuninya. Melihat kondisi itu, sepantasnya jiwa kemanusian mahasiswa tersentuh, terlebih itu menimpa rakyat Indonesia.
Potensi sosial ini menjadi peluang perjuangan gerakan mahasiswa. Mereka seharusnya tanggap mengumpulkan bantuan bagi para korban. Aksi penggalangan dana, distribusi bantuan dan tenaga sangat diperlukan. Tentu semua berkaitan dengan fungsi sosial dan tridharma perguruan Tinggi khususnya pengabdian masyarakat. Jika boleh dikatakan peluang besar, pada kondisi inilah mahasiswa bisa mengintegrasikan diri dengan kebutuhan masyarakat.
Kedua, potensi politik. Kemenangan Anas Urbaningrum dan tumbuhnya gerakan politisi muda PKS bagaikan sebuah fenomena. Regenerasi kaum muda terus memperlihatkan taringnya. Keinginan memperlihatkan potensi politik kaum terus mengalir. Jika dibiarkan, kaum muda siap mengkudeta arus kepemimpinan politik negeri ini.
Selama ini, disinyalir kaum muda masih termarginalkan. Seringkali politik didominasi kalangan tua. Rasulullah pernah menyinggung ” Ketika Allah mengutusku menyebarkan Islam, kaum muda yang mendukungku dan kaum tua menentangku”. Artinya apa?. Kaum muda sepantasnya diberikan kesempatan tampil memimpin pentas politik tanah air.
Pintu itu sekarang sudah terbuka sedikit. Tampilnya Andi Rahmat, Fahri Hamzah dan Azis Syamsudin menegaskan kondisi itu. Ke depannya, dibutuhkan lebih banyak peran kaum muda berkontribusi. Kepemimpinan Indonesia sekarang seperti perkataan Schiller “kita berada di abad besar, tapi banyak dijumpai manusia kerdil. Indonesia sepantasnya dipimpin manusia besar, berjiwa besar, bertindak adil dan rasional, yang bertanggung jawab dari manusia yang lain (Alfan Alfian : 2010)
Menghadapi wacana itu,tentu membutuhkan gagasan segar khas aktivis muda.Partai politik harus kembali berpikir mengkader kalangan muda. Tidak terbatas kepentingan suara, melainkan membuat sistem regenerasi teratur. Tujuan akhirnya tentu, agar regenerasi kepemimpinan dan politik berlangsung dinamis. Untuk memenuhi kebutuhan kaum muda, kampus menyediakan stok kader muda produktif.
Tapi mahasiswa sepantasnya tidak mengorientasikan politik praktis dan melupakan aspek politik moral. Sebab mahasiswa masih dipandang bersih sebagai pembela aspirasi rakyat. Tidak ada beban sejarah, yang ada hanya tanggung jawab politik. Kehadiran mahasiswa menyikapi isu moralitas dipandang sebagai alternatif mengatasi persoalan masyarakat. Apalagi belakangan erosi dan degradasi moralitas menjamur (tawuran antar kampung, kekerasan SARA dan terorisme).
Kepentingan memperjuangkan moralitas merupakan kebutuhan riil. Sebab lebih menyentuh dan mendekatkan mahasiswa kepada masyarakat. Tapi bukan berarti mahasiswa melepaskan diri dari wilayah politik. Perjuangan politik perlu terus dimainkan dan dipelihara sebagai cara kelompok penekan mengontrol pemerintahan.
Ketiga, potensi akademik intelektual. Profesi peneliti, pengamat dan aktivis LSM adalah pilihan pas mahasiswa yang mengutamakan idealisme. Bermain dalam wilayah ini cenderung aman meski tetap tak menghilangkan nilai sensitivitas. Pergolakan wacana dan studi kritis atas berbagai fenomena lebih banyak dimainkan.
Dan faktanya sekarang, banyak mahasiswa menggeluti wilayah ini. LSM misalnya, banyak dipilih sebagai alternatigf gerakan tanpa menghilangkan sisi idealism. Mereka menuai harapan, sebagai kelompok penekan adanya kekritisan sehingga menghasilkan upaya dvokasi. Tujuan akhirnya bermuara bagaimana menghasilkan perubahan atas kebijakan yang dipandang menyimpang.
Seperti diungkapkan seorang tokoh mahasiswa, Amin Sudarsono dari KAMMI. Dia menjelaskan, pentingnya advokasi anggaran sebagai alternatif gerakan. Urgensi advokasi anggaran dapat dijadikan pijakan menggugat penyimpangan kebijakan birokrasi. Pengawasan anggaran oleh masyarakat mempersempit peluang terjadinya korupsi anggaran.
Catatan Penutup

ALAM BARU GERAKAN MAHASISWA INDONESIA
Nilai strategis gerakan mahasiswa adalah menghasilkan sebuah perubahan sosial (social movement). Dalam konteks politik perubahan sosial bersifat mendesak. Mengapa?. Sebab dalam setiap komunitas, kita menemukan penguasa dzalim dengan dosis berbeda – beda. Satu persamaannya adalah dorongan syahwat politik dan kekuasaan menciptakan penindasan terhadap orang lain (Saiful A Imam : 2005)
Ketertinggalan IPTEK merupakan sebuah masalah baru bagi pendidikan dan berdampak kepada mahasiswa Indonesia. Pendidikan Indonesia mengalami “penindasan” sebagai dampak eksistensi liberalisasi pendidikan. Secara lebih jauh, Indonesia menghasilkan banyak pengangguran terbuka. Sebanyak 4.516.000 dari 9.427.600 orang yang masuk kategori pengangguran terbuka Februari 2008 adalah lulusan SMA, SMK, Diploma dan Perguruan Tinggi. Rendahnya daya adaptasi sekolah formal memenuhi tuntutan pasar kerja kian menjadi persoalan mengatasi pengangguran (Soegeng Sarjadi : 2010)
Mahasiswa adalah elemen penting dalam kehidupan masyarakat. Sebagai kaum muda, mahasiswa “diminta” masyarakat bergerak mengkritisi, mengadili dan memprotes kebijakan pemerintah yang diskriminatif. Untuk mencapai tujuan itu, mahasiswa harus mengubah pola gerakan. Tidak lagi bergerak top down. Mau tidak mau gerakan bottom up harus jadi pola gerakan mahasiswa. Tidak lagi bermain lincah dalam lingkaran elit saja, melainkan turun ke bawah berjuang membenahi persoalan masyarakat.
Harapan sekarang terletak pada mahasiswa, kaum muda hasil laboratorium kampus. Berbagai masalah terus terhampar, berkibar menghadirkan keresahan khas anak muda. Siapa tak resah melihat sang ibu terpaksa menyuruh anaknya bekerja. Jiwa mana tak gundah harga sembako terus melejit tinggi. Kaum ibu layak berteriak “susu tak terbeli.
Orang Pintar cari subsidi anak kami kurang gizi”(Iwan Fals). Tikus berkeliaran di kantong pemerintahan, lembaga hukum dan legislatif. Saking frustasi melihat kekerasan banyak terjadi, seorang anak bangsa bernyanyi “negara seperti tidak ada”(Kompas, 4 Oktober). Sekarang pertanyaan besar membentang. Wahai mahasiswa adakah kau lupa kelahiranmu dari rakyat, untuk rakyat dan tiba waktunya menegakkan kedaulatan rakyat!!!