Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Friday, October 29, 2010

Peran Sekolah Atasi Perilaku Membolos pada Remaja

PERGI ke sekolah bagi remaja merupakan suatu hak sekaligus kewajiban sebagai sarana mengenyam pendidikan dalam rangka meningkatkan kehidupan yang lebih baik. Sayang, kenyataannya banyak remaja yang enggan melakukannya tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Banyak yang akhirnya membolos.

Perilaku yang dikenal dengan istilah truancy ini dilakukan dengan cara, siswa tetap pergi dari rumah pada pagi hari dengan berseragam, tetapi mereka tidak berada di sekolah. Perilaku ini umumnya ditemukan pada remaja mulai tingkat pendidikan SMP.

Salah satu penyebabnya terkait dengan masalah kenakalan remaja secara umum. Perilaku tersebut tergolong perilaku yang tidak adaptif sehingga harus ditangani secara serius. Penanganan dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab munculnya perilaku membolos tersebut.

Karena berbagai sebab
Faktor pendukung munculnya perilaku membolos sekolah pada remaja ini dapat dikelompokkan menjadi 3, faktor sekolah, personal, serta keluarga. Faktor sekolah yang berisiko meningkatkan munculnya perilaku membolos pada remaja antara lain kebijakan mengenai pembolosan yang tidak konsisten, interaksi yang minim antara orang tua siswa dengan pihak sekolah, guru-guru yang tidak suportif, atau tugas-tugas sekolah yang kurang menantang bagi siswa.

Faktor personal misalnya terkait dengan menurunnya motivasi atau hilangnya minat akademik siswa, kondisi ketinggalan pelajaran, atau karena kenakalan remaja seperti konsumsi alkohol dan minuman keras.

Sedangkan faktor keluarga meliputi pola asuh orang tua atau kurangnya partisipasi orang tua dalam pendidikan anak (Kearney, 2001). Ketiga faktor tersebut dapat muncul secara terpisah atau berkaitan satu sama lain. Pemahaman terhadap sumber penyebab utama sangat penting untuk mengatasi masalah ini.

Sekolah penyebab
Tanpa disadari, pihak sekolah bisa jadi menyebabkan perilaku membolos pada remaja, karena sekolah kurang memiliki kepedulian terhadap apa yang terjadi pada siswa. Awalnya barangkali siswa membolos karena faktor personal atau permasalahan dalam keluarganya. Kemudian masalah muncul karena sekolah tidak memberikan tindakan yang konsisten, kadang menghukum kadang menghiraukannya.

Ketidakkonsistenan ini akan berakibat pada kebingungan siswa dalam berperilaku sehingga tak jarang mereka mencoba-coba membolos lagi. Jika penyebab banyaknya perilaku membolos adalah faktor tersebut, maka penanganan dapat dilakukan dengan melakukan penegakan disiplin sekolah. Peraturan sekolah harus lebih jelas dengan sangsi-sangsi yang dipaparkan secara eksplisit, termasuk peraturan mengenai presensi siswa sehingga perilaku membolos dapat diminimalkan.

Selanjutnya, faktor lain yang perlu diperhatikan pihak sekolah adalah kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di sekolah. Dalam menghadapi siswa yang sering membolos, pendekatan individual perlu dilakukan oleh pihak sekolah. Selain terkait dengan permasalahan pribadi dan keluarga, kepada siswa perlu ditanyakan pandangan mereka terhadap kegiatan belajar di sekolah, apakah siswa merasa tugas-tugas yang ada sangat mudah sehingga membosankan dan kurang menantang atau sebaliknya sangat sulit sehingga membuat frustasi.

Tugas pihak sekolah dalam membantu menurunkan perilaku membolos adalah mengusahakan kondisi sekolah hingga nyaman bagi siswa-siswanya. Kondisi ini meliputi proses belajar mengajar di kelas, proses administratif serta informal di luar kelas.

Dalam seting sekolah, guru memiliki peran penting pada perilaku siswa, termasuk perilaku membolos. Jika guru tidak memperhatikan siswanya dengan baik dan hanya berorientasi pada selesainya penyampaian materi pelajaran di kelas, peluang perilaku membolos pada siswa semakin besar karena siswa tidak merasakan menariknya pergi ke sekolah.

Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk memperhatikan siswa sehingga mereka tertarik datang dan merasakan manfaat sekolah adalah dengan melakukan pengenalan terhadap apa yang menjadi minat tiap siswa, apa yang menyulitkan bagi mereka, serta bagaimana perkembangan mereka selama dalam proses pembelajaran.

Dengan perhatian seperti itu siswa akan terdorong untuk lebih terbuka terhadap guru sehingga jika ada permasalahan, guru dapat segera membantu. Dengan suasana seperti itu siswa akan tertarik pergi ke sekolah dan perilaku membolos yang mengarah pada kenakalan remaja dapat dikurangi.

Tentu saja, pendekatan dari pihak sekolah ini hanya menjadi salah satu faktor saja. Faktor lainnya seperti faktor personal dan faktor keluarga juga tak kalah penting dan memberi kontribusi besar dalam perilaku membolos, sehingga pencarian mengenai penyebab yang pasti dari perilaku membolos perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum kita menetapkan pihak mana yang layak melakukan intervensi.

Data yang diperoleh ternyata mayoritas remaja yang terlibat geng motor di Bandung hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama(SMP)

Pendidikan umum dan rohani merupakan upaya menangkal terjadinya kenakalan remaja, termasuk merebaknya keterlibatan remaja pada geng motor. Berdasarkan data yang diperoleh, mayoritas remaja yang terlibat geng motor di Bandung ternyata hanya lulusan SD dan SMP.

Yang menjadikan mereka terlibat karena rendahnya tingkat pendidikan serta lemahnya iman dan takwa mereka akibat tak tersentuh pendidikan rohani.
-- Ahmad Heryawan

Hal ini disampaikan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Jumat (1/10/2010), saat meresmikan pembangunan masjid Annisa Ush-Shoolihaat, SMK Negeri 9 Bandung. "Yang menjadikan mereka terlibat dalam kenakalan dan kebrutalan seperti geng motor karena rendahnya tingkat pendidikan serta lemahnya iman dan takwa mereka akibat tidak tersentuh pendidikan rohani," ucap dia.
Heryawan mengaku, dia menyambut baik upaya SMK Negeri 9 Bandung yang mengedepankan pendidikan keagamaan. Dengan dibangunnya masjid di dalam sekolah, hal itu menjadi cara dalam membangun nurani keagamaan.
"Kami mengharapkan sekolah-sekolah lain pun melakukan hal yang sama dengan SMK Negeri 9 ini. Kami akan bantu sampai Rp 40 juta dari dana stimulus provinsi dan sisanya bagaimana sekolah memotensikan pihak lain, termasuk alumni. Saya yakin para alumni yang sudah jadi manusia tidak akan keberatan jika dimintai bantuan oleh sekolah," kata Heryawan.
Dia mengatakan, selama ini banyak yang salah mengartikan sekolah gratis. Akhirnya, orangtua yang sebenarnya mampu bayar pun merasa tidak ada upaya untuk membantu sekolah anaknya.
"Sekolah gratis bukan berarti orangtua yang mampu tidak membantu sekolah, apalagi jika menyangkut pembinaan bagi murid-murid sekolah," ungkap Heryawan.