Peluang Usaha

clicksor

sitti

Anda Pengunjung ke

Tuesday, October 19, 2010

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BUKAN SOLUSI

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BUKAN SOLUSI

PERLU PENELITIAN TENTANG PERUBAHAN IKLIM, BIODIVERSITAS, DAN KEMISKINAN.
JAKARTA - Pembangunan berkelanjutan gagal menjadi solusi untuk memberdayakan masyarakat dari dampak perubahan iklim. "Karena itu, perlu perubahan paradigma pembangunan yang berpihak kepada masyarakat," kata Francisia S.S.E. Seda, dosen sosiologi Universitas Indonesia.
Pernyataan Francisia atau Ery Seda itu disampaikan pada Seminar Perubahan Iklim, yang diselenggarakan Program Pascasarjana Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, kemarin di kampus Depok. Selain Ery, pembicara lainnya adalah Rizaldi Boer (dosen Institut Pertanian Bogor), Tbni Soehartono (Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Kementerian Kehutanan), Irhash Ahmady (dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) dan Giorgio Budi Indarto dari ICEL.
Kegagalan itu terungkap dari aneka konflik antara masyarakat dan pengusaha atau birokrat. Selain itu, semakin nurginalnya masyarakat adat dan orang miskin. Termasuk dalam program adaptasi perubahan iklim. Di Indonesia, konsep pembangunan berkelanjutan disosia-lisasi sejak awal dekade 1990-an. Konsep ini adalah kemasan baru dari trilogi pembangunan yang diusung pemerintahan Orde Baru. Menurut Ery, sejumlah kritik dilontarkan para ahli ilmu sosial terhadap konsep pembangunan berkelanjutan.
Pertama, konsep itu masih menggunakan pendekatan pembangunan yang berparadigma developmentalistik. Kedua, belum memperhatikan akar permasalahan dari hubungan antara pertumbuhan ekonomi, ketidakadilan sosial, dan permasalahan lingkungan hidup, termasuk perubahan iklim. "Yakni permasalahan struktur yang timpang," kata Ery, yang juga doktor studi pembangunan dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat.
Ketiga, masih menggunakan pendekatan yang berorientasi pada negara dan aparatur birokrasi pemerintah. Keempat, masih menggunakan metode pengukuran yang positivistik dan lebih menekankan pada output dibanding proses. Terakhir, masih memakai pendekatan pembangunan yang ahistoris, linear, tidak kontekstual, dan tidak memperhatikan diver-sitas dari berbagai komunitas lokal.
Ery mengusulkan pendekatan altematif yang lebih bersifat lokal dan kontekstual. Dalam arti, katanya, mengidentifikasi dan memetakan berbagai kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Pendekatan ini memperhatikan berbagai kondisi geografis, sosiodemografis lokal, biodiversitas agrikultur, dan yang alami. Selain itu, melakukan dokumentasi terhadap berbagai sistem pengetahuan lokal, baik formal maupun informal. Tidak ketinggalan, menggunakan pendekatan analisis sistem.
Ery mengutip hasil penelitian yang dilakukan SEARCA (Southeast Asian Regional Center for Graduate Study and Research in Agriculture) di Filipina pada 2007. Terhadap dampak perubahan iklim, penelitian itu menemukan terjadinya kesenjangan pengetahuan antara masyarakat lokal dan komunitas internasional. Begitu juga perbedaan perspektif mengenai "survival" dari masyarakat lokal dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Untuk itu, kata Ery, perlu perspektif yang lebih jelas serta analisis yang lebih tepat dan akurat antara perubahan iklim, berkurangnya biodiversitas, dan kemiskinan, khususnya pada masyarakat lokal. Irhash Ahmady dan Giorgio Budi menyoroti ketidakadilan , iklim dalam konstelasi dunia. Tidak ada sanksi bagi negara-negara maju yang menjadi penyebab pemanasan global. Sedangkan negara berkembang yang jadi korbannya semakin rentan."Sayangnya, dana mengatasi perubahan iklim di Indonesia sebanyak 68 persen dari utang," kata Irhash. Di sisi lain, ujarnya, fokus pendanaan lebih banyak pada sektor mitigasi, bukan adaptasi.
Ringkasan Artikel Ini
Pernyataan Francisia atau Ery Seda itu disampaikan pada Seminar Perubahan Iklim, yang diselenggarakan Program Pascasarjana Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, kemarin di kampus Depok. "Yakni permasalahan struktur yang timpang," kata Ery, yang juga doktor studi pembangunan dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat. Terakhir, masih memakai pendekatan pembangunan yang ahistoris, linear, tidak kontekstual, dan tidak memperhatikan diver-sitas dari berbagai komunitas lokal. Dalam arti, katanya, mengidentifikasi dan memetakan berbagai kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Untuk itu, kata Ery, perlu perspektif yang lebih jelas serta analisis yang lebih tepat dan akurat antara perubahan iklim, berkurangnya biodiversitas, dan kemiskinan, khususnya pada masyarakat lokal.